Santri pesantren Darul Iman pimpinan Ustad Rizki semalam diserang . Katanya ada penyusupan. Katanya, ada nama Dharma dan Rani yang disebut-sebut.”
Dan nama Dharma tidak pernah bersih dari daftar lama yang ia simpan dalam ingatan.
Dharma bukan sekadar lelaki yang pernah direbut cintanya. Dharma adalah api yang tidak pernah padam jika tidak diberi air. Dan air itu, tidak pernah ia beri. Justru ia simpan dalam sebuah botol tertutup, agar api itu semakin panas dan kehilangan arah.
Tapi kini api itu mulai terlihat, dan ia takut akan menyambar dirinya.
---
Siang hari setelah rapat, Masta tidak langsung pulang. Ia menuju ke sebuah rumah kecil di tengah sawah jauh dari perkampungan, Suara azan Dzuhur baru saja selesai bergema.
Rumah itu sekilas seperti rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya, catnya mulai pudar. Namun di ruang belakang rumah itu, ada pintu kayu yang selalu terkunci. Di situlah rahasia disimpan dan disembunyikan.
Di dalam, duduk seseorang: Yudi.
Pemuda yang wajahnya menyimpan amarah, pemuda yang matanya tidak pernah benar-benar memandang lurus. Pemuda yang sedang menunggu perintah atau mungkin sedang merencanakan sesuatu tanpa ia tahu.
Masta masuk perlahan.
Yudi berdiri. “Assalamu’alaikum, Haji.”
“Wa’alaikumussalam.”
Tidak ada saling pelukan. Tidak ada salaman erat. Hubungan mereka tidak dibangun atas kepercayaan, tapi atas kebutuhan bersama.
“Hari ini, semua sudah mulai bergerak,” kata H. Masta sambil menutup pintu belakang.
Yudi menyalakan rokok.
“Rizki sudah mulai curiga?”
Masta mengangguk sekali.
“Dan kau tahu, ada kejadian semalam di pesantren. Dharma hampir ketahuan."
Yudi tertawa pelan. “Dharma memang tidak bisa dipercaya untuk tugas yang butuh sabar. Dia orang jalanan. Dia ingin hasil cepat.”
Masta mendekat.
“Kalau dia gagal, dia akan menarik perhatian masyarakat. Dan kalau masyarakat memperhatikan, bukan hanya Rizki yang bergerak. Bisa jadi polisi ikut turut campur. Dan kalau polisi turun, semuanya bisa hancur dalam satu malam."
Yudi meniup asap rokok. “Tapi dia bisa berguna. Kau tahu kan… sakit hati bisa lebih tajam dari niat.”
Dan di kalimat itulah, H. Masta melihat sesuatu.
Satu titik kecil yang bisa jadi solusi atau bisa jadi awal kehancuran.