Isarat termangu menatap amplop putih yang kini terbaring di atas lantai kelabu rumahnya. Kedua alisnya terangkat ketika selembar kertas digeserkan padanya.
“Jangan pikirkan lagi istri orang,” begitu tulisan itu terbaca olehnya. Adzan menempatkan pena di bawah tulisan itu, seolah ingin menggarisbawahinya.
Temannya yang tuli dan bisu tertawa. Mengambil pena itu, ia menulis, “Cuma ada “jangan” di pikiranmu.”
“Ya, karena kita harus mencegah hal yang buruk terjadi.”
“Kau bisa bilang, ‘doakan dia bahagia.’ Walaupun aku harus memikirkan dia, itu akan jadi pikiran yang baik.”
Adzan mengangkat alis, lalu tertawa. Ia mengacungkan kedua ibu jarinya. Lalu, ia duduk di samping Isarat. Wajahnya tampak sedikit murung. Mereka membiarkan masing-masing dengan pikirannya, untuk beberapa saat.
Adzan lalu memecahkan keheningan itu dengan menggoreskan tinta pena di atas kertas. “Semua orang pasti punya masalah begini.”
Isarat mengangkat alis, melempar tatapan tidak mengerti.
“Soal perempuan.” Adzan memasang senyum masam di wajahnya. Melempar pena itu sembarangan saja. Isarat menangkapnya, sebelum pena itu bergulir jauh di lantai.
“Kamu suka dengan seseorang?” Adzan mengangguk, dengan setengah hati. Matanya seperti melamun, mungkin menemui sosok wanita yang tidak lagi bersamanya. Atau apalah, Isarat tidak tahu dan tidak mau menebak-nebak.
“Ceritanya?”
Adzan mengangkat alis ke arah Isarat, tampak enggan bercerita. Namun, ia tuliskan juga kisah itu, “Aku sempat ta’aruf dengan perempuan yang juga pengurus masjid ini. Tadinya,” ia menambahkan. “Sudah beberapa kali bertemu, kami sudah semakin dekat, tiba-tiba dia menghilang. Dijodohkan.”
Isarat mengernyit. “Oleh orang tuanya?”
“Iya,” tulis Adzan. Ia mengetuk-ngetukkan ujung pena ke dagunya sebelum melanjutkan, “Saat dia sudah menikah, dan kami berpapasan, akhirnya aku tanya alasannya dia berhenti menemuiku. Kata orang tuanya, ia harus menikah dengan orang yang lebih mapan.”