Kau Berkata

Dewinda
Chapter #41

41

Hari selalu dimulai dengan terbitnya matahari di ufuk Timur. Ia melangkah perlahan, memberi ruang bagi rembulan, untuk melangkah santun berpamitan dengan satu belahan dunia agar ia bisa menyentuh yang lain. Lalu, matahari akan berkuasa, semakin terik, semakin peri. Tangan-tangannya itu akan menjawil pria yang tak pernah salat subuh.

Namun, sekali ini, tangan-tangan itu terheran. Tidak ada lagi raga yang berbaring santai-santai ketika dunia mulai berlari pacu. Tidak ada lagi makhluk yang tak tahu waktu, tak tahu kebiasaan manusia. Hanya menumpu pada kebiasaan sendiri.

Mata Isarat nyalang terbuka.

Sedari malam, ia tidak bisa memejamkan mata. Mungkin sekali atau dua kali ia berhasil mengedip, tapi itu saja. Di dalam pikirannya, semua imaji masuk, satu per satu. Mengingat diri beberapa bulan yang lalu saja. Pria bisu-tuli yang hanya tahu memungut sampah, yang hanya tahu menjual sampah.

Ia teringat lagi penjual toko itu, di mana barang-barang serba kecil-kecil, yang kemudian diberitahukan Kevia sebagai toko alat tulis. Kemarahan pertama, keberanian pertama. Tiba-tiba ia terkekeh. Rupanya Kevia telah melihat dengan kawat kasa di matanya. Dari mana ia tidak punya kemarahan? Dia jelas-jelas mempunyai itu, dan masih banyak di dalam, hanya belum saja tersentuh.

Kevia yang selalu benar itu. Yang menatapnya dengan sinar mata yang berkilat-kilat, kadang serupa permata kecil-halus.

Isarat bangkit dari perbaringannya. Ia menatap ke sekeliling kamar. Bentuk-bentuk dari kertas yang tersusun. Dari kertas-kertas yang penuh dengan kata-kata. Ia mendekati salah satu dinding. Menyusuri setiap kata dengan matanya. Lalu, berpindah. Menyusuri yang lain lagi dengan matanya. Begitu seterusnya, begitu seterusnya.

Kevia yang mula-mula mengajarkan ini. Yang seringkali menatapnya tajam, dengan bahu-dada naik sedikit, lalu menurun perlahan.

Lekang. Benar. Langit. Belaka. Semua, semua. Kata-kata itu masuk dengan deras, menyakiti kepalanya. Kepala itu berdenyut-denyut, walau tak pernah terpukul. Kepala itu terasa sakit, walau tak pernah terhantam.

Kisah.

Tentang ia dan kata-kata.

Rumah.

Di mana ia pernah bercakap-cakap.

Rahim.

Yang dulu mengandung sia-sia.

Puisi.

Dengan apa ia bermakna.

Lihat selengkapnya