Rumah itu di hadapannya, berdiri dengan garis-garis yang menandai masanya. Sederhana, kaku, monoton, seakan-akan hendak menyeimbangkan kompleksitas di tengah manusianya. Desain yang serupa dengan sebelahnya. Dan mereka berbaris seperti tentara hendak maju perang.
Adzan menggelengkan kepala dan memfokuskan perhatiannya pada satu rumah saja. Ia memanjangkan lehernya. Jendela rumah yang menghadap kepadanya tampak terbuka. Jelas rumah itu tengah berpenghuni. Ia terdiam, matanya turun ke tangan yang menjepit sebuah amplop. Memutar-mutarkan amplop itu di tangannya, ia mengembuskan napas perlahan.
Mata itu bergulir kepada pagar alumunium yang tertutup. Berdeham, sedikit lebih keras daripada yang dimau, ia mengguncangkan pengait pagar. Segera saja, sesama logam bertumbukan, menggemakan bunyi nyaring ke seluruh area perumahan yang sepi.
Tidak ada jawaban.
Lantas, ia mengetuk lagi; tiga kali.
Keningnya mengernyit. Kepalanya menoleh lagi kepada jendela yang terbuka. Dia mencoba lagi, kali ini sedikit lebih keras. Ia menunggu beberapa menit. Mengedikkan bahu, ia menggeser kakinya, tetapi suara pegangan pintu yang samar menghentikannya.
Pintu yang tertutup itu akhirnya terbuka. Dari baliknya, muncul seorang pria, yang tak lebih tinggi daripadanya. Janggutnya yang hitam, panjang-tipis, bergerak pelan ketika angin menyentuhnya. Alisnya yang tebal, sehitam janggut itu, terkait satu sama lain.
“Assalamu’alaikum, Mas.”
Pria di hadapannya terang-terangan menghela napas. Ia lantas membuka pintu pagar, mempersilakan Adzan untuk masuk. “Wa’alaikum salaam,” sahutnya seirama dengan derit halus pagar itu. Matanya mengarah pada ujung pagar alumunium yang mengayun.
Adzan mengangkat alis. Ia melangkah melalui pagar itu ragu-ragu. “Ganggu, nggak, Mas?”
“Ah, nggak.” Pria di depan Adzan tersenyum tipis. “Masuk, masuk.”
“Jadi, ada apa, ya?” tanyanya, begitu mereka telah mendudukkan diri di atas sofa ruang tamu. Adzan menelusuri perabot-perabot di ruangan itu dengan sudut matanya. Kebanyakan didominasi dengan pajangan-pajangan kuningan yang berlukiskan aksara-aksara Arab yang indah.
Tepat di dinding seberangnya, sebuah pigura yang membingkai lukisan besar Ka’bah. Ia bisa merasakan suasana religi yang kental di rumah itu. Termasuk pada tuan rumahnya yang mengenakan peci putih bulat dan gamis panjang hingga ke bawah lututnya dipadu dengan celana putih yang menggantung di atas mata kaki.
Mata Adzan turun lagi ke amplop di tangannya. Ia memutar-mutarkannya. Lagi. Menjilat bibirnya yang terasa kering, ia berujar pelan, “Ini ….” Suaranya terdengar serak dan kasar, maka ia membersihkannya dengan deham. “Ada titipan buat Mbak Kevia.”
“Titipan?” Mata sang tuan rumah turut bergerak kepada amplop di tangan tamunya.
Dia mengangguk. Setengah tersenyum, ia mengangkatnya, seakan amplop itu kurang jelas terlihat.
“Dari kamu?”