Puisi itu, Pamuk, beberapa kalimat tampaknya cukup bisa dicernanya. Hampir semua kata-kata dipahaminya, walaupun ada beberapa yang membingungkan; apa itu Attaturk, apa itu Osman dan Mehmet? Namun, rangkai itu membentuk makna-makna yang samar-samar saja baginya.
Beruntunglah ia telah diberikan ponsel pintar yang benar-benar bisa menjawab apa pun pertanyaannya. Hanya tinggal mengetikkan pertanyaan dan jawabannya selalu muncul. Walaupun begitu, tak selalu jawaban itu muncul dengan gamblang.
Seperti halnya puisi ‘Pamuk’. Ia mencoba mencari arti kata Pamuk di KBBI daring, tapi tak berhasil. Akhirnya, ia ketahui bahwa Pamuk adalah nama belakang dari Orhan Pamuk, salah satu sastrawan dari Turki. Ah, negara indah yang lain lagi bentuknya, dengan tulisan yang lebih mirip kepada tulisan Arab. Jadi, wajar kalau penulis menyebutkan Kabul dan Istanbul, dua kota dari Turki itu.
Sebelumnya, ia juga kebingungan oleh kata salju yang terucap. Kenapa ia memilih salju yang tidak pernah sampai kepada Indonesia? Ternyata, Orhan Pamuk mempunyai satu karya yang berjudul salju. Terus-menerus, satu per satu informasi itu jalin-menjalin membentuk satu kesatuan analisa yang utuh. Mudah sekali, sekaligus rumit sekali.
Mudah sekali menjelajahi laman-laman yang dengan cepat menunjukkan informasi, tapi rumit sekali menarik benang merah dari semua informasi yang tertuang karena begitu banyaknya jalinan informasi yang saling terhubung. Isarat menghela napas sambil meletakkan ponselnya di dada.
Di luar istilah-istilah yang begitu asing, Isarat menangkap pula beberapa buah pikiran dari penyairnya di dalam puisi itu. Seperti wanita yang tertindas. Ah, bukankah serupa dengan hidup Kevia yang dikelilingi pemaksa yang mengatur-ngatur?
Masa kanak yang terkoyak. Itulah ia, ingin sekali tertawa. Mengapa bisa ia dipertemukan dengan puisi yang menggambarkan kisah-kisah di sekitarnya begini? Ataukah ia yang mencoba menghubung-hubungkannya dengan diri sendiri, agar puas batinnya melampiaskan sesak?
Negara.
Ideologi.
Kenapa mereka disandingkan dengan gambaran kehidupan rumah tangga yang sederhana? Apa yang ingin disampaikan sang pengarang?
Dari artikel-artikel pula, ia menyimpulkan pengarangnya suka membahas masalah politik dan banyak puisinya mengangkat tema ini. Tak heran kalau ia membawa-bawa nama negara dan ideologi. Ia pusing, tidak menemukan jawaban.
Namun, ia paham satu hal. Pria ini ingin menunjukkan pandangannya tentang masalah politik di Indonesia, maka ia tuangkan dalam bentuk puisi. Segala hal yang dilihatnya, dipikirkannya, dialaminya, tertuang di sana dalam bentuk yang indah dan tidak menyengsarakan batin pembaca.
Dan ia membaginya kepada orang banyak, sekiranya orang-orang akan mengikuti pikirannya, atau menjadikannya pegangan untuk dipahat lagi menjadi bentuk pengetahuan yang lain. Itulah amal jariyah yang disebutkan Adzan.
Semakin besar keinginan itu tumbuh dalam dadanya. Ingin menjadi seseorang yang mengajar, seperti Adzan dan Kevia, ingin menjadi seseorang yang menyebarkan ilmu, seperti juga Orhan Pamuk yang bisa menyentuh hati penyair dari Indonesia. Begitu jauhnya jarak yang terbentang antara keduanya.
Ingin ia menjadi orang yang berguna, yang bisa menyumbang ide-ide. Tak hanya mengumbar perasaan-perasaannya yang berputar-putar di satu poros, yaitu Kevia.
Matanya lalu bergulir ke seluruh ruangan. Kertas-kertas yang tertempel di tiap-tiap dindingnya, menjadi saksi bisu perjuangannya menggapai kata-kata. Kata-kata yang akan menjadi larik-larik indah.
Sampah-sampah yang terserak
Menjadi penghidupan