Sejak itu, Isarat belajar untuk salat. Buku pegangan telah dipegangnya. Setiap kali ia membaca tulisan Arab yang bergelombang dengan garis-garis yang menari itu, hatinya teremas. Sesak.
Dan setiap kali itu, ia salat untuk berbicara dengan Allah SWT. Pria itu masih tidak tahu bagaimana bentuknya, jadi ia membayangkan apa saja yang terlintas. Berbeda dengan semua makhluk, jadi mungkin seperti cahaya atau seperti hitamnya bayang-bayang? Dengung yang tiba-tiba terdengar di kepalanya atau nadi yang sering ia temukan berdenyut lembut?
Orang-orang tetap berdatangan ke rumahnya. Ia hanya bisa pasrah dan menerima mereka. Mereka merambahi setiap sudut tempat pribadinya, bahkan kamarnya. Sesekali ia akan marah dan mengusir mereka. Mereka hanya tertawa atau mengedikkan bahu.
Ada apa dengan orang-orang ini? Kenapa begitu tidak tahu malu? Sebodoh-bodohnya ia, ia tidak pernah dengan enteng memasuki rumah orang lain, apalagi kamar mereka. Tempat mereka tidur, berganti baju.
Mereka akan mengirimkan banyak pertanyaan yang memusingkan. Kepalanya hampir meledak, jadi ia tuangkan saja kalimat-kalimat pertama yang terlintas di kepalanya.
Kata-kata Kevia masih terbayang di pelupuk matanya. Pilihlah kata-katamu. Namun, ia tak bisa berpikir dengan banyaknya gangguan di sekitarnya. Emailnya penuh, kadang ia kebingungan bagaimana membalasnya. Dan mereka akan menyerangnya lewat Whatsapp.
Isarat tersentak. Mengedarkan pandangannya, ia bertanya-tanya apa yang membuatnya kaget. Tapi, tak ada apa pun. Kamarnya tetap sunyi. Suasana di luar pun masih gelap.
Hanya ponselnya yang masih saja berkedip-kedip. Menyala tiap sebentar. Mendengus, ia matikan ponsel itu. Muak.
Menghempaskan tubuhnya di kasurnya, yang kini beralas seprai bermotif bunga yang bersih, ia menatap langit-langit kamarnya yang kelam. Mana Allah SWT yang katanya Maha Kuasa itu? Kenapa membuat hidupnya begini rumit, sekalipun ia sudah berbicara, berdoa setiap hari lima kali sehari kepada-Nya?
Ia melompat bangkit. Dalam sekejap saja, ia sudah duduk menghadap meja dan menarikan penanya di atas kertas. Tangannya bergerak cepat. Matanya bergerak cepat. Saat ia tidak menulis, ia mengetuk-ngetukkan pena atau jari-jarinya dengan cepat.
Ingin berteriak, ingin melompat-lompat, ada sesuatu yang membuat tubuhnya tidak bisa diam. Pikirannya lebih lagi. Semua kata seakan-akan ingin muntah keluar. Sedangkan, kecepatan tangannya terbatas, pengetahuannya pun belum lagi banyak.
Satu kertas.
Dua kertas.
Banyak kertas.
Saat ia tersadar, ia melihat semburat jingga telah merasuk dari jendela. Ia mengangkat alis lalu melompat. Dengan sembarangan menginjak kertas-kertas yang berserakan di lantai rumahnya.
Ia mendekati pompa airnya. Menggertakkan rahang, ia terdiam selama beberapa detik di depannya, lantas menghela napas. Ia lalu memompa air untuk berwudu.
Begitu berhadapan dengan sajadah, juga pemberian orang, ia terdiam lagi. Menghela napas lagi, ia lalu salat sesuai ajaran si penjaga masjid. Setelah mengucapkan salam, ia duduk terdiam. Lama.
Sinar matahari mulai masuk dari jendela. Semakin lama semakin terang. Mata Isarat masih terpaku pada kepala sajadah. Lalu, bola matanya bergerak cepat. Bayang-bayang kelam melintas di lantai di sekitarnya. Bergerak cepat, bersahut-sahutan.
***
Melihat bayang-bayang kelam itu berlintasan di lantai rumahnya, ia menengadahkan kepalanya ke arah jendela. Ia melihat bayang-bayang kepala seseorang. Tidak. Beberapa orang.
Isarat mengerang dalam hati, menyumpah-nyumpah. Media sosial mengajarkannya kata-kata kasar dan ia mulai menggunakannya. Anehnya, hatinya terasa puas setelah mengucapkannya.
Namun, ia harus membuka pintu. Orang-orang itu pernah menerobos masuk, begitu tahu ia jarang mengunci pintu.
Seperti dugaannya, orang-orang yang itu-itu juga. Yang sering mengirimkannya pesan teks email dan Whatsapp. Mereka menulis, menyatakan bahwa Isarat tidak bisa dihubungi. Bertanya tentang ponselnya, ia tidak menjawab, hanya mengedikkan bahu.
Isarat mulai paham cara menghadapi mereka. Lebih enak diam saja. Membuat mukanya datar, menutup emosinya, supaya tidak terpengaruh oleh mereka.
“Kami temanmu,” begitu kata mereka satu kali. Isarat merasa tersentuh ketika membacanya dan mulai melunak. Namun, setiap kali, ia merasa heran. Bagaimana bisa ada teman yang membuatnya terganggu dan merasa sesak begini? Tidak seperti Kevia dan Adzan yang membuatnya senang-senang saja.
Ketika mereka mulai memberikan berbagai pertanyaan, Isarat mengangkat alis.
Dari kejauhan, ia melihat rombongan lain. Dan hatinya mencelos. Rombongan itu memakai peci-peci bulat putih, ada juga peci tradisional hitam, lalu berbaju koko dan bersarung, sekalipun ada pula yang bergamis.