Kau Berkata

Dewinda
Chapter #13

13

Sejak perkenalan yang janggal dan tak sepenuhnya bisa dikatakan menyenangkan itu, Kevia seringkali menemui Isarat di rumahnya. Selalu pada pagi hari, sebelum ia berangkat sembari memikul karung goninya. Seperti pula hari ini, Kevia tersenyum melambaikan tangan kepada Isarat sekilas saja. Seperti bayi, ia meniru.

Kali ini, ia mengenakan jilbab berwarna biru muda. Biru yang terlalu muda hingga terlihat pucat. Begitulah wanita itu, selalu mengenakan warna-warna lembut yang menggambarkan dirinya sepenuhnya. Ia mengangkat tangannya yang memegang tas kanvas. Segera saja, senyum Isarat terpancing. Karena, ia tahu apa yang dibawa Kevia.

Sejak hari pertama sesudah Kevia memeriksa setiap sudut rumahnya, ia mulai mengunjungi Isarat dengan rutin. Hari pertama, jantung Isarat berdebar kencang, mengawasinya dengan saksama, kalau-kalau ia berniat buruk padanya. Sebaliknya, ia malah menampakkan raut wajah yang menyenangkan dan malah mengeluarkan banyak buku. Mereka bersih, rapi, beraroma wangi menyejukkan.

Walaupun begitu, ia tak mengendurkan kewaspadaan. Saat Kevia mengeluarkan buku-buku dari tas kanvas yang dibawanya, Isarat hanya berdiri menatapnya, dengan jarak semeter jauhnya. Matanya terus bergantian menatap tumpukan buku lalu wanita itu. Pada saat itu, sang wanita menoleh dan tertawa. Entah apa yang lucu.

Kali kedua, ia kaget terlonjak karena ia pikir wanita itu tak lagi mau datang. Seminggu berlalu tanpa kehadirannya dan, tiba-tiba saja, ia datang. Dengan santai, Kevia segera memeriksakan buku-buku yang ia bawa. Dan matanya membulat penuh ketika melihat buku-buku tulis Isarat sudah penuh dengan tulisan yang meniru dari isi buku.

Kali ketiga, Isarat mulai tak peduli. Saat Kevia datang, ia mengangguk singkat, tapi tetap melakukan rutinitas pagi hari. Menyapu lantai rumahnya sedikit, membersihkan pekarangan yang penuh sampah-sampah yang tak bisa ia gunakan lalu menyiapkan diri untuk bertarung di jalanan, sementara Kevia mengeluarkan buku-buku.

Rutinitas terlupakan ketika tertangkap oleh Isarat isinya. Seperti buku kanak-kanak, kebanyakan gambar-gambar dengan tulisan-tulisan singkat. Dan wanita itu mulai memanggilnya dengan isyarat tangan, menyuruhnya duduk di depannya. Beberapa menit berselang, Isarat hanya terpaku di tempatnya, mengernyit pada bagian lantai yang ditepuk-tepuk Kevia.

Namun, wanita itu melipat tangan di dada. Dengan keras kepala, menatap Isarat terus-menerus. Dari matanya, ia tahu bahwa ia tengah didesak. Akhirnya, ia mengalah dan menurut. Pada hari itu, Kevia mulai menunjukkan gambar-gambar yang ia bawa, melafalkannya dengan gerakan mulut. Dan ia tuntut pria itu untuk menirukannya.

Buat Isarat yang tidak pernah mengenal sosialisasi, bahkan dalam keluarga sendiri, mungkin tidak tahu apa mau Kevia. Tapi, aku dan kau tentu sangat paham, wanita itu tertarik dengan ketertarikan Isarat pada buku, dan ingin mengajarkannya kata-kata.

Karena, tanpa makna yang mengikuti, kata-kata semata-mata menjadi bentuk-bentuk biasa.

Kata-kata yang dari kemarin ia hanya ikuti bentuk-bentuknya, mulai sedikit bermakna dalam pikirannya. Oh, makhluk berisik yang meraung-raung pagi hari itu rupanya adalah motor. Alat bundar yang berputar kencang pada kedua sisi, depan-belakangnya, adalah roda.

Dan benda kecil dengan ujung seperti arang yang memudar, yang dipakainya untuk menggores kata-kata, rupanya bernama pensil. Kalau berujung besi dan mengeluarkan cairan tipis yang segera melekat pada kertas bernama pena.

Lihat selengkapnya