Kau Berkata

Dewinda
Chapter #26

26

Pria yang didorong Isarat itu memerah pekat wajahnya. Dan Isarat menyadari itu, maka ia mundur. Sayang, lawannya sudah terlanjur tenggelam dalam emosi. Ia maju dan mendorong lagi. Ditambah dengan menunjuk-nunjuk ke arah wajah Isarat dengan mulut bergerak cepat.

Telunjuk itu menusuk-nusuk penglihatan Isarat yang sensitif akibat seringnya terpakai untuk memahami dunia. Ia mengedip-ngedipkan mata cepat, seakan perih matanya. Amarah mulai bangkit di dadanya. Tangannya terkepal, dan ia gemetar.

Baru saja ia mengangkat kepal itu saat ia melihat kedua tangan terentang dari salah satu muadzin di masjid itu. Tepat di depan dadanya, menghalangi dirinya dengan pria di hadapannya. Rupanya pemuda yang ia kenali sebagai pengganti Adzan kapan saja pria itu berhalangan menyerukan panggilan salat di masjid. Pemuda itu mendelik ke arah Isarat.

Ia menggeleng dan menepis kepalan tangan yang terangkat, membuat Isarat menurunkan tangannya. Pria itu menautkan kedua alis melihat ia menoleh kepada pria yang satu lagi dan berbicara dengan penuh senyum. Kenapa sikapnya berbeda kepada pria itu?

Masih dengan senyum terkembang di wajah, ia tampak bercakap-cakap dengan pria yang menantang Isarat. Tangannya menunjuk telinga dan mulutnya sendiri. Barulah kerutan di dahi pria itu kembali bersih. Wajahnya tampak memerah dan ia mengusap keningnya perlahan.

"Maaf," sahutnya kepada Isarat. Ia lalu menekap mulutnya, tapi Adzan kedua, begitu Isarat memanggilnya dalam hati, mengangguk sambil mengibas-ngibaskan tangan.

Sang pria berbaju koko menyebutkan kata itu lagi dengan perlahan sehingga jelas gerak mulutnya. Isarat mengangkat alis lalu tersenyum lebar. Ia mengangguk-angguk senang karena paham masalah telah selesai. Namun, begitu pria itu berbalik, Adzan kedua, begitu Isarat menyebutnya dalam hati, mengangkat buku catatan yang tergantung lalu menulis.

Isarat mengangkat alis tinggi ketika membaca tulisan carut-marut yang ditulis terburu-buru itu. “Jangan bikin ribut.” Dan segera ia menggelengkan kepalanya. Seingatnya, bukan ia yang menaruh kepalan tangan di dada, bukan ia yang menunjukkan wajah tak ramah, maka kesimpulan itu membingungkannya.

Pria tuli-bisu itu menunjuk-nunjuk pada pria yang baru saja menghalanginya ikut salat. Adzan kedua menghela napas dan menulis lagi. "Ia cuma mau memberitahu kalau kamu kotor, jadi kamu tidak bisa ikut salat.”

Isarat membaca baik-baik kalimat itu. Pria itu lalu menunjuk salah satu papan slogan kecil dari kayu yang berkata, “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Ia lalu mengedikkan bahu ke arah Isarat lalu tergopoh lagi ke arah orang-orang yang mulai berbaris rapat. Ia merangsek ke baris terujung yang kosong, meneruskan saf itu.

Beberapa lama, Isarat mengamati mereka, yang berdiri di sana, seolah jauh dari mereka. Ketika mereka rukuk bersama untuk kali kedua, Isarat berbalik. Ketika ia melewati tempat wudu, tertangkap olehnya bayangannya sendiri di cermin yang tergantung. Noda hitam masih melekat di keningnya. Ia melihat pula tangannya yang berbelang-belang terkena noda-noda tanah dan sampah. Kakinya pula yang menghitam setelah menginjak gunung sampah.

Pria itu lalu menghela napas dan memalingkan wajah dari pantulan dirinya sendiri. Karung sampah yang ia taruh tidak ada di mana-mana. Dengan panik, ia menengok ke sekeliling. Melihat tong sampah biru besar, ia mencobanya. Dan benar, karungnya di sana. Ia termangu sejenak sebelum mengangkatnya keluar.

Memikul lagi karungnya, melanjutkan perjalanan. Mengingat-ingat kalimat yang baru saja dipelajarinya, mengucapkannya berulang-ulang.

***

 Adzan datang dengan peci bulatnya, seperti biasa. Isarat memandang peci yang tak pernah berpisah dari kepalanya itu. Putih. Bersih. Matanya lalu bergerak ke arah baju kokonya. Memang tidak selalu putih, tetapi ia selalu memilih warna terang yang lembut. Dan juga, sangat bersih.

Ia lalu beranjak, meninggalkan Adzan.

Saat ia kembali, Adzan mengangkat alis ke arahnya. Lalu, ia tertawa. “Ganteng sekali kamu,” tulisnya di buku catatan miliknya sendiri.

Lihat selengkapnya