KAU BILANG MISKIN, KU BILANG CUKUP

Aga Lesmana
Chapter #1

BAB 1: Sistem yang Ditakuti

Sebelum kakimu sempat menyentuh dinginnya aspal jalanan, dunia luar telah lebih dulu menyiapkan ribuan standar kaku untuk mengukur harga dirimu: seberapa mentereng merek kendaraan yang terparkir di garasi, seberapa mahal ponsel yang digenggam jemarimu, dan seberapa tebal saldo di rekening yang membuatmu bisa memejamkan mata tanpa dihantui teror kecemasan esok hari. Semua orang dipaksa berlari dalam satu lintasan yang sama. Saling mendahului, saling menyikut, menatap tajam ke depan, dan tersengal-sengal mengejar ilusi kesempurnaan yang jangankan disentuh, garis finish-nya saja tidak pernah terlihat wujudnya.

Mereka menyebut hiruk-pikuk itu sebagai perjuangan hidup. Padahal, jika disaksikan dari sudut yang lebih sunyi, yang sedang mereka lakoni sejatinya bukanlah hidup, melainkan sebuah perlombaan massal untuk dinobatkan sebagai budak paling patuh dari keinginan mereka sendiri.

Di tempat inilah kewarasan menjadi barang langka yang harganya melambung tinggi. Orang-orang berlomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, membentenginya dengan tembok tinggi kecurigaan, lalu berakhir meringkuk di atas kasur empuk mereka dalam keadaan gemetar ketakutan. Takut hartanya dirampok, takut tersaingi, takut jatuh miskin, dan takut kehilangan kendali atas segalanya. Mereka memiliki segalanya di atas kertas, namun kehilangan kemampuan paling mendasar sebagai manusia: kemampuan untuk merasa tenang dan tersenyum tanpa beban.

Sebaliknya, di tempat-tempat yang tersembunyi di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit, di gang-gang sempit yang berbau lembap dan bising oleh suara anak-anak bermain, dinamika yang sama sekali berbeda tengah berputar. Di sana, ada manusia-manusia yang dompetnya tipis, bajunya itu-itu saja, dan motornya langganan batuk setiap kali kunci kontaknya diputar. Anehnya, alih-alih meratap pilu di bawah bayang-bayang kemiskinan, mereka justru tertawa lepas di teras rumah sederhana, menikmati secangkir kopi hitam murahan seolah-olah merekalah pemilik sah separuh isi dunia ini.

Bagaimana dua kutub yang begitu kontras ini bisa hidup berdampingan di bawah langit yang sama? Mengapa mereka yang bergelimang harta justru hidup dalam teror psikologis yang menyiksa, sementara mereka yang tak punya apa-apa justru merdeka di atas kesederhanaan?

Di sinilah tirai panggung itu perlahan disingkap.

Sebuah kisah tentang benturan antara ambisi dan kewarasan, tentang jerat-jerat kepalsuan modern, dan tentang bagaimana manusia-manusia biasa di pinggiran kota mencoba bertahan hidup tanpa harus menjual harga diri. Ini adalah perjalanan batin untuk mencari tahu di titik mana seseorang akhirnya berhenti menjadi penonton yang kebingungan, lalu memilih menertawakan seluruh kebodohan zaman, sebelum akhirnya menemukan satu tombol rahasia paling mematikan yang paling ditakuti oleh dunia modern: tombol "cukup".

Taruh kalkulator di kepalamu. Tanggalkan sejenak segala atribut dan gelar yang melekat di pundakmu. Tarik napas dalam-dalam, bersiaplah melangkah masuk ke dalam labirin kehidupan yang riuh, jujur, dan apa adanya.

 

*****

 

Lihat selengkapnya