Rutinitas harian Jono bermula dalam kepekatan pagi yang menuntut ketepatan tanpa ampun. Tepat saat jarum jam merayap di antara pukul 07.30 hingga 08.00 pagi, gerbang operasional depo resmi dibuka lewat sebuah upacara kecil yang sarana utamanya adalah suara bentakan dan omelan.
Kepala gudang yang kerap disapa Pak Kodiat, seorang lelaki paruh baya dengan riwayat penyakit darah tinggi yang siap meledak kapan saja, berdiri di depan barisan kurir sambil memegang lembar presensi. Tanpa basa-basi, ia membacakan target harian dengan nada suara yang mengiris udara: setiap kepala wajib mengantar dan merampungkan minimal 60 paket per hari. Tidak ada kata toleransi, tidak boleh ada barang yang kembali sebagai retur, dan dengan syarat mutlak yang tidak tertulis: kurir dilarang keras untuk membawa muka galau ke jalanan.
Selepas apel pagi kilat yang menegangkan itu, babak kedua dari penderitaan terstruktur dimulai. Pukul 08.00 hingga 09.00 adalah jam-jam sibuk di zona pemilahan paket. Jono, dengan sigap dan tergesa, membongkar tas obrok kain terpal di motor bebeknya, lalu memilah ratusan paket yang berserakan berdasarkan rute zona kelurahan masing-masing. Di sinilah ketelitian seorang kurir diuji sampai ke batas nadir saraf kesabaran.
Rentang barang yang harus ia muat di atas motor tuanya adalah sebuah lelucon kosmis tersendiri. Dari mulai amplop surat cinta yang tipis dan ringan hingga lembaran berkas legal yang begitu rentan diterbangkan angin, mesin kopi rumahan yang berukuran sedang, aki kendaraan bermotor dengan bobot masif yang harus diletakkan persis di sisi kiri-kanan agar keseimbangan motor tidak limbung, mesin printer kantor yang memakan ruang, komponen CPU server mini yang padat, keras, dan berat, hingga yang paling ekstrem adalah sebuah kulkas mini "siluman" yang ukurannya hampir tiga kali lipat kapasitas jok belakang motor Supra tua miliknya.
Semua benda terkutuk itu harus Jono susun, impit, dan pangkas ruang kosongnya menggunakan jurus fisika tingkat tinggi, dipersenjatai dengan tali ban dalam bekas bus yang elastis tapi kuat. Ia melilit dan mengikatnya erat-erat, memastikan tidak ada satu pun kardus yang berani melompat atau tumpah ketika nanti motornya menghantam lubang-lubang jebakan di tengah jalan raya.
Selesai dengan urusan tali-temali yang menguras tenaga dan membuat jarinya perih, Jono resmi berangkat tempur. Dengan tumpukan kardus yang menjulang tinggi di belakang punggungnya dan menciptakan siluet tubuh yang membuatnya tampak persis seperti kura-kura ninja bermuatan logistik, ia menancap gas motornya. Seolah-olah ada sepatu gaib yang menendang pantatnya agar segera melesat meninggalkan halaman depo yang pengap.
Menjelang siang hari, neraka kecil bernama aspal ibu kota resmi merengkuh tubuhnya dengan rentangan tangan yang panas. Suhu di permukaan jalan memanas hingga titik didih, memantulkan gelombang kemerahan dan mengalirkan letih yang langsung meresap ke dalam mesin motor bebek Jono. Kendaraan itu meraung-raung merintih saat harus merayap menaiki tanjakan jalan layang yang curam, sementara mesinnya bergetar hebat seolah protes atas beban hidup yang melampaui kapasitas pabrikannya. Di belakangnya, para sopir taksi yang terburu-buru kerap membunyikan klakson bertubi-tubi dengan nada menghina setiap kali motor Jono melambat ke gigi satu.
Jono, yang kesabarannya telah ditempa bertahun-tahun di jalanan, hanya bisa mengelus setang motornya sambil membatin lirih, Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita servis karburatormu kalau rezeki anak istri sudah cair.
Meski matahari telah bergeser ke arah barat, sengatan sang raja langit sama sekali tidak meredup. Ia tidak menaungi dengan manja, melainkan terus memanggang punggung Jono tanpa ampun. Lelaki itu tetap harus melaju dengan pasti hingga tiba di titik tujuan akhirnya: sebuah perumahan mewah berpagar tinggi yang seragam bentuknya, tempat di mana para penghuninya merasa memiliki dunia.
Di tempat seperti ini, pekerjaan seorang kurir berubah wujud menjadi latihan diplomasi tingkat tinggi. Jono harus berdebat alot dengan satpam kompleks yang kerap meminta KTP-nya disita mentah-mentah, sambil sebelah matanya waspada mengawasi ancaman seekor anjing bulldog bertubuh kekar milik tuan rumah yang menyalak beringas di balik teralis besi, seolah siap merobek celana kainnya yang sudah tipis.
Bagi orang awam yang duduk manis di balik meja, mungkin pekerjaan ini terlihat sederhana. Tapi dunia nyata tidak pernah menghamparkan kemudahan dengan serta-merta. Jalanan Jakarta selalu punya cara untuk mengisi hari Jono dengan masam dan asinnya peluh yang meleleh tumpah dari ujung kepala, merayap melewati pelupuk mata yang perih, hingga akhirnya tumpah menetes jatuh mencium tanah aspal.
Dan di antara ribuan paket itu, selalu ada ujian kesabaran tambahan yang siap meledakkan kewarasan. Sesekali Jono akan mendapati alamat penerima yang ditulis asal-asalan oleh pengirim yang kurang ajar: "Jl. Mawar No. 12, di sebelah pohon mangga dekat tukang es doger". Di saat-saat seperti itulah Jono terpaksa merogoh ponselnya, menelepon sang penerima yang nomornya sering kali tidak aktif atau berdering tanpa sahutan. Entah di belahan bumi mana orang itu bersembunyi.
Di titik inilah kesabaran seorang manusia diuji habis-habisan oleh sistem e-commerce modern yang serba instan. Benar-benar membuat pening di kepala, berputar-putar dalam lingkaran jengah dan sebal, hingga rasanya sanggup membuat helai rambut hitam di kepala Jono mendadak berubah menjadi emas atau putih keriting karena stres akut.
Menjelang waktu magrib, barulah kurir sekelas Jono bisa memutar haluan, meluncur pulang kembali ke depo untuk menyerahkan tanda terima paket, sekaligus menyetor uang tunai hasil Cash On Delivery (COD) kepada admin yang duduk dengan wajah masam. Itu pun jika keadaan lalu lintas lumayan berpihak padanya. Kalau tidak, kemacetan total akan menyita waktunya hingga gulita malam menyambut, membentang pekat dari ujung ke ujung pandang mata manusia dapat menerka.
Pukul 19.30. Itulah waktu di mana Jono akhirnya tiba kembali di petak kontrakan kecilnya, tempat ia berteduh dari beringasnya dunia sembari memeluk hangatnya keluarga kecil yang menanti.
Ia tidak membawa pulang bonus jutaan rupiah atau lembar saham perusahaan startup yang nilainya melambung di bursa. Kakinya hanya dihadiahi rasa pegal-pegal yang menjalar hingga ke tulang kering, punggung serta dada kerempengnya basah oleh bau keringat masam yang bercampur debu jalanan, ditambah kondisi dompet kulit imitasi miliknya yang konsisten setipis daun sirih.
Namun, begitu ia mendorong daun pintu kontrakannya yang berderit, kelelahan itu seolah disapu bersih oleh angin malam. Aroma harum sambal terasi buatan Hilda menyambut indra penciumannya, berpadu dengan suara nyaring tiupan terompet mainan dari botol plastik bekas yang ditiup penuh semangat oleh Andika. Istri dan anaknya menyambut kepulangannya di rumah tanpa syarat, tanpa menuntut kesuksesan fiktif.