KAU BILANG MISKIN, KU BILANG CUKUP

Aga Lesmana
Chapter #4

BAB 4: Algoritma vs Nasi Bungkus

Pagi di depo ekspedisi Menteng Luar bukan sekadar tentang memindahkan barang dari satu titik ke titik lain; itu adalah sebuah upacara penyambutan bagi mereka yang memilih untuk berdamai dengan peluh.

Jono, dengan gerakan yang sudah terukur oleh otot-ototnya yang terlatih, sedang sibuk menata tumpukan paket di atas jok motornya. Ia memastikan keseimbangan beban agar tidak ada satu pun paket yang tertinggal atau terguling saat ia membelah kemacetan nanti.

Di sisi kiri motornya, ia melirik Derbi. Si kurir paling klimis itu masih saja sibuk dengan dunianya sendiri. Derbi sedang berdiri mematung di depan kaca spion motor yang retak, menyisir rambutnya yang berminyak agar tetap jatuh sempurna di dahi. Ia baru akan bergerak mengangkat kardus berat setelah merasa tatanan rambutnya cukup "aman" untuk diajak berpanas-panasan. Jono hanya bisa menggeleng pelan; di tengah beban hidup yang melimpah, Derbi tetap memilih untuk setia pada egonya sendiri.

Bergeser sedikit ke arah pojok gudang, pandangan Jono menangkap sosok Angga. Lelaki itu duduk meringkuk di atas tumpukan karung, wajahnya ditekuk sedalam kertas lecek yang sudah tidak berbentuk. Di tangannya, terselip sebungkus kerupuk sisa bulan lalu yang sudah melempem dan mulai mengeluarkan bau tengik yang samar. Meski begitu, Angga mengunyahnya dengan tatapan kosong, mengeluh lapar sambil bergumam tentang betapa dunia ini begitu tidak adil bagi perutnya yang meronta.

"Pelan-pelan, Ga. Nanti tenggorokan kau malah ikutan bau tengik," kata Jono sambil mengikat simpul terakhir tali karetnya. Angga hanya mendengus, matanya masih terfokus pada remukan kerupuk di telapak tangannya.

Saat Jono selesai mengeluarkan motor dan bersiap untuk meluncur menyongsong kerasnya aspal jalanan, sebuah kebisingan lain menyambar indra pendengarannya. Suara tawa pecah dari warung tegal di sebelah gudang. Pemiliknya yang bernama Mbak Tika, perempuan tangguh dengan logat Jawa yang kental, tampak sedang berkacak pinggang sambil mengejek Yogi.

Rupanya, Yogi sedang berada di puncak performanya. Ia berdiri di tengah warung, membusungkan dada, dan menirukan suara Pak Kodiat saat sedang meneriakkan target paket yang belum tercapai. Gaya Yogi yang lucu, lengkap dengan mimik wajah yang dibuat-buat semirip mungkin, berhasil memancing gelak tawa para kurir yang sedang menyantap sarapan mereka.

"DENGAR KALIAN PARA KURIR MALAS!" Yogi mulai berteriak, menirukan suara berat dan serak Pak Kodiat dengan sangat akurat. "Kalian ini kerjanya apa? Mengantar paket atau sedang mencari jodoh di jalanan?! Saya lihat target kalian hari ini lebih tipis dari isi dompet kalian semua! Enam puluh paket itu target, bukan saran! Kalau besok saya lihat kalian masih melamun di atas motor, saya suruh kalian kirim paket pakai troli bayi!"

Yogi berhenti sejenak, memegang pinggangnya seolah-olah sedang encok, lalu melanjutkan dengan nada yang makin dibuat-buat, "Dan kau, Derbi! Berhenti berkaca di spion motor! Spion itu untuk melihat kendaraan di belakang, bukan untuk memeriksa apakah pori-pori kau sudah tertutup atau belum! Mau jadi kurir apa mau jadi model iklan deterjen?!"

Tawa pecah seketika. Namun, tidak butuh waktu lama bagi para kurir lain untuk membalas serangan komedi Yogi.

Bento yang juga sedang mengisi perut disana langsung menyahut dengan suara menggelegar khasnya, "Yogi! Jangan berlagak kau! Suara kau memang mirip Pak Kodiat, tapi dompet tidak! Dompet kau masih mirip kotak amal kosong! Mending habis ini fokus memilah paket, daripada nanti giliran kau yang habis dimaki Pak Kodiat karena target harian tidak tercapai!"

Angga yang sedari tadi masih mengunyah kerupuk melempemnya mendengar semua, langsung bergegas menghampiri warung. Ia tidak mau kalah untuk ikut andil dalam keributan. "Yogi, sudahlah! Bakat kau itu memang cuma jadi badut. Coba kau lamar jadi penghibur di acara hajatan, siapa tahu bisa pulang bawa prasmanan dan kita tidak perlu lagi makan nasi warteg Mbak Tika yang lauknya kering sisa hari kemarin!"

Riskiawan, yang sejak tadi diam melamun, tiba-tiba sudah berpindah tempat di ambang pintu masuk warung. Mulai angkat bicara dengan wajah datar namun nada sarkastik, "Yogi, aku akui kau memang jago menirukan suara Pak Kodiat. Tapi apa kau tahu efek sampingnya? Itu tandanya sel-sel otakmu sudah mulai terkontaminasi oleh energi negatifnya. Segeralah bertobat sebelum kau berubah menjadi gemuk dan darah tinggi seperti dia."

Derbi yang belum menjawab setelah tadi disinggung, membalas dengan nada bicara yang dibuat selembut mungkin, "Yogi sayang, kalau aku jadi model iklan deterjen, setidaknya aku wangi. Lha, kau? Menirukan Pak Kodiat saja, bau jigong dan rokok kretek langsung tercium. Bikin hidungku langsung mampet. Mending kau beli parfum, siapa tahu ada pelanggan cantik seksi yang mau mengajakmu berkenalan, bukan malah menelepon komplain karena barangnya salah mendarat!"

Yogi yang masih dalam "karakter" Pak Kodiat, langsung menunjuk Derbi dengan sodet yang entah didapatnya dari mana. "OH SUDAH BERANI KOMPLAIN KAU?! KALAU BEGITU, SIAP-SIAP GAJIMU KUSAPU BERSIH UNTUK BULAN DEPAN!"

Warung Mbak Tika pun semakin meledak dalam tawa yang lebih keras. Di tengah kepulan asap rokok dan bau debu gudang, lelucon-lelucon bodoh itu menjadi satu-satunya pelumas yang membuat roda kehidupan mereka tetap berputar tanpa harus tersendat oleh rasa lelah yang menghujam.

Melihat pemandangan itu, Jono merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Di sini, di gudang yang pengap dan bau debu ini, interaksi sosial tidak diukur melalui saldo rekening atau popularitas di jagat maya. Kedekatan sosial yang terjalin antar kurir didapat dari ejekan ringan, berbagi makanan yang sudah melempem tapi masih dapat tertelan, hingga lelucon tentang bos yang menyebalkan. Itu semua adalah bensin spiritual yang jauh lebih efektif daripada sekadar motivasi kosong.

Bagi mereka yang terjepit di antara target harian yang kejam dan tagihan yang menumpuk, tawa di warung sederhana adalah kemewahan. Mereka adalah sekumpulan manusia yang sadar bahwa hidup mungkin tidak memberi mereka kemapanan, tapi setidaknya hidup memberikan mereka teman untuk berbagi beban.

Dunia ini memang penuh dengan kejadian seru yang luput dari pantauan kamera ponsel orang kaya di gedung-gedung mewah sana. Saat Jono menarik gas dan mulai meninggalkan halaman gudang, ia sadar bahwa inilah "algoritma" sebenarnya dalam hidupnya: sebuah perpaduan antara kerja keras, solidaritas, dan kemampuan untuk menertawakan getirnya nasib.

Meski kebisingan menderu di sekelilingnya, Jono merasa dadanya masih cukup lapang menampung semuanya.

 

*****

 

Perjalanan Jono siang itu membawanya ke sebuah kawasan perumahan yang gerbangnya saja sudah cukup untuk membangun sepuluh rumah kontrakan petak.

Dan di sana, di balik pagar besi berukir emas, tiba-tiba ia menyaksikan sebuah drama yang berlangsung ironis. Seorang influencer kondang, yang wajahnya sering berseliweran di layar ponsel, tengah menangis histeris. Sebut saja bernama Mawar.

Mawar terlihat sedang memaki asisten rumah tangganya dengan kata-kata tajam hanya karena grafik engagement media sosialnya turun lima persen, dan secangkir kopi premium yang baru diantar ternyata kurang manis bagi seleranya yang manja.

Jono berdiri di dekat pintu gerbang, mematung sejenak, menyaksikan segalanya dengan mata telanjang. Tidak ada rasa iri, hanya sebuah gumam kecil di dalam hatinya sebelum ia menarik tuas gas motornya dan melaju pergi menjauh dari kegilaan itu.

Sisi syukur di dalam diri Jono bergerak begitu saja. Sesampainya di bawah naungan pohon rindang di pinggir jalan raya yang berdebu, ia memarkir motor bebek tuanya. Motor itu bukanlah kendaraan keluaran terbaru yang mulus, melainkan bekas dari seorang mantan pengemudi ojek yang harus pensiun dini karena tergerus sakit, dibeli Jono dengan “harga teman” yang masih masuk akal untuk dompetnya.

Meski tua, motor itu adalah mahkota bagi Jono; ia membelinya dengan cucuran keringat sendiri, hasil tabungan receh demi receh yang ia kumpulkan tanpa sedikit pun menengadahkan tangan meminta atau mencuri milik orang lain. Motor itu adalah bukti kemerdekaan finansialnya yang paling jujur.

Jono duduk di atas jok motornya yang sudah mulai mengeras. Ia mengeluarkan sebuah nasi bungkus sederhana seharga dua belas ribu rupiah yang tadi dibelinya di warung Mbak Tika. Lauk tongkol baladonya masih terasa hangat, menebar aroma pedas yang menggugah selera. Di sampingnya, sebuah kipas angin portable murah dengan baterai yang mulai melemah berdengung bising, meniupkan udara seadanya ke arah wajahnya yang legam.

Jono makan dengan lahap, sangat lahap. Setiap suapan nasi yang beradu dengan sambal tongkol itu terasa seperti jamuan makan malam di hotel bintang lima baginya. Ia menikmati setiap kunyahan, menghirup udara siang yang panas dengan perasaan yang entah mengapa, terasa begitu tenang.

Dunia, dengan segala silau materinya, sudah pasti akan menempatkan si pemilik rumah mewah itu di kasta "kaya" dan menempatkan Jono di sudut "miskin". Jika orang-orang membandingkan keduanya dalam neraca ekonomi, Jono mungkin terlihat seperti debu di samping gunung emas. Tapi di saat itu, sebuah pertanyaan eksistensial muncul di benak Jono: Siapa yang sebenarnya sedang berada di neraka batin, dan siapa yang sedang menikmati surga kecilnya?

Secara akademik, studi psikologi dan ekonomi sering kali menyebutkan bahwa kekayaan memang berkorelasi dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi secara rata-rata. Kekayaan menawarkan rasa aman dan cakrawala pilihan hidup yang tak terbatas. Namun, bagi Jono, teori itu hanyalah deretan angka di atas kertas yang dingin.

Dunia Jono adalah dunia di mana harapan dibentuk dari hal-hal yang sederhana. Ketika harapan tidak digantungkan terlalu tinggi pada validasi angka digital atau pengakuan semu, kebahagiaan menjadi barang yang sangat murah dan mudah ditemukan. Bagi mereka yang berpenghasilan rendah, kebahagiaan harian justru hadir dari hal-hal sederhana: sesuap nasi tongkol, deru kipas angin yang bising, serta hati yang bebas dari rasa cemas. Dari ketenangan itu, mereka mampu menandingi siapa pun.

Jono tahu, kekayaan yang dimiliki influencer itu memberinya pilihan, namun kekayaan itu juga yang menjeratnya dalam penjara ekspektasi yang tak pernah membuat kenyang. Sementara baginya, kemiskinan hanyalah sebuah label yang ditempelkan orang lain. Bagi Jono, selama ia masih bisa makan dengan lahap di pinggir jalan dan pulang ke rumah dengan rasa lega, ia tidak butuh label orang lain untuk mendefinisikan hidupnya.

Kalian boleh menyebut ini miskin. Tapi Jono akan menatap mata kalian dengan tenang dan berkata, "Ini sudah cukup" sambil tersenyum. Bukan karena ia menyerah pada keadaan, melainkan karena dirinya tahu persis letak garis antara kebutuhan dan keserakahan.

Dan lagi, kekayaan yang sebenarnya bukanlah seberapa banyak yang dikumpulkan, melainkan seberapa sedikit kita merasa kekurangan.

Lihat selengkapnya