KAU BILANG MISKIN, KU BILANG CUKUP

Aga Lesmana
Chapter #5

BAB 5: Satu Hari di Kaki Jono

Pukul 05.30 pagi itu, hari Jono bukan dimulai dengan alunan melodi estetik dari ponsel pintar bermerek mahal. Namun dibuka oleh sebuah karya agung dari semesta: suara dua ekor kucing jantan kampung yang sedang adu jotos di atas atap kontrakan.

BRAKK!

Atap asbes yang mulai ringkih bergetar hebat, disusul suara kejar-kejaran yang membuat Jono tersentak seketika. Lelaki itu langsung melompat dari kasurnya yang legendaris, sebuah kasur busa malang yang bagian tengahnya sudah amblas parah, membuat siapa pun yang tidur di atasnya akan merasa pantat mereka menyentuh langsung lantai semen dingin di bawahnya.

Jono terduduk setengah sadar, kepalanya mendongak membentuk sudut geometri yang menantang hukum fisika demi menghindari tetesan air dari atap yang rembes semalam. Nyawanya baru terkumpul sekitar lima puluh persen ketika sebuah bencana domestik menyusul di ujung subuh.

Di dapur sempit kontrakan, musibah pagi melanda tanpa belas kasihan. Tabung gas melon 3 kilogram kebanggaan mereka mendadak kehabisan isi tepat ketika air di panci baru mencapai setengah hangat kuku. Hilda yang sejak subuh sudah sibuk menyiapkan air panas untuk keperluan rumah tangga dan secangkir kopi suaminya, berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah masam terlipat rapi.

"Pak! Gasnya habis! Padahal air buat kopi Bapak baru mau anget kuku!" seru Hilda dengan nada protes yang tertahan.

Jono mengusap wajahnya yang masih kuyu, lalu beranjak menyusul istrinya dengan berjalan tertatih-tatih karena urat kaki yang masih kaku. Di hadapan dapur mungil itu, ia menatap tabung gas hijau bersubsidi yang sudah dingin tanpa dosa. Tidak ada amukan, tidak ada sumpah serapah yang meluncur untuk mengutuk kelangkaan energi, dan tentu saja tidak ada niat untuk mendatangi kantor Pertamina pagi-pagi sekali.

Sebaliknya, Jono justru berjongkok dengan tenang. Ia merogoh laci meja dapur dan menemukan sebatang lilin putih sisa mati lampu minggu lalu yang sudah setengah meleleh. Tanpa ragu, ia menyalakannya dengan korek gas, lalu meletakkan lilin itu tepat di bawah panci yang digenggam gagang kayunya. Jono terpaku menatap lidah api yang menari kecil, bibirnya bergerak lirih melafalkan doa yang entah kepada siapa ditujukan.

Hilda yang melihat kelakuan suaminya langsung melongo kebingungan. Perempuan itu berkacak pinggang sambil mendengus. "Bapak lagi ngapain, sih? Mana bisa air mendidih cuma pakai lilin begitu!”

Jono mendongak, melemparkan senyuman tanpa dosa, lalu tetap khusyuk menatap lidah api kecil yang bergoyang-goyang ditiup angin kecil, berayun lembut bagaikan tubuh seorang penari sufi.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala karena merasa suaminya sudah mulai menunjukkan gejala aneh di pagi hari, Hilda melanjutkan pekerjaannya. Ia mengambil cobek dan memulai ritual mengulek sambal untuk pesanan warung makan tetangga yang memercayakan sebagian rezekinya pada tangan terampil Hilda.

"Ini namanya latihan kesabaran tingkat tinggi, Bu," jawab Jono santai, tetap setia menjaga lilinnya. "Kalau airnya nanti tidak mau matang-matang juga, minimal hati kita jangan ikut mual. Nikmati prosesnya."

Di tengah tangannya yang bergoyang mantap menghaluskan cabai di atas batu ulekan, Hilda mendadak berhenti dan mematung. Matanya membelalak lebar, menatap Jono dengan campuran rasa heran dan sebal yang luar biasa mendengar kalimat filosofis setengah matang suaminya.

Menyadari istrinya mulai menampakkan ekspresi dongkol yang siap meledak, Jono buru-buru memasang senyum misterius. Ia mengubah intonasi suaranya, mencoba bergaya ala filsuf Yunani kuno, namun versi masih setengah sadar.

"Jangan merengut begitu, Bu. Hari baru dimulai, lho! Bapak harus segera minum kopi biar kuat mengangkat paket yang lagi membeludak bulan ini. Nah... kalau lauk mewah belum siap, kita sarapan pakai kerupuk yang dicelup kecap manis saja. Dijamin, rasa kesal Ibu bakal ikut tertelan bareng manisnya kecap. Lagian, kalau dikunyah sambil pejamkan mata dan membayangkan ada alunan musik jazz ala kafe mahal, rasanya bakal mirip daging tenderloin medium-rare di restoran mal. Paling cuma beda tekstur sedikit di gigi, Bu!"

Hilda yang tadinya ingin mengomeli suaminya seketika urung. Bibirnya bergetar menahan tawa, gagal total mempertahankan tampang garangnya di pagi hari. Mau tidak mau, ia tersenyum geli.

Perempuan itu beranjak dari tempat duduknya, mengambil piring seng berisi nasi yang masih mengepulkan uap hangat, lalu membuka kaleng kerupuk yang sudah agak loyo. Tidak lupa, ia menyambar botol kecil kecap manis di rak piring.

Sembari menunggu air di panci mendidih begitu lambat, Jono menikmati sarapan darurat itu dengan satu tangan yang bebas. Ia menuangkan kecap manis dengan gerakan melingkar keatas kerupuk, lalu melahapnya bersama suapan nasi hangat

KREUZZZ!

Bunyi renyah kerupuk kaleng itu memantul tegas di dinding dapur kontrakan mereka yang sempit. Satu keapesan kecil di subuh hari berhasil dicukupkan dengan tawa renyah Hilda yang kembali menganggap suaminya sudah agak sinting, namun tetap ia maklumi seperti hari-hari biasa.

Nasi di piring telah tandas tak bersisa, disusul tegukan air kopi hangat yang berhasil dipanaskan di atas nyala kecil lidah api lilin. Selepas sarapan kilat yang bersahaja itu, Jono bergegas melangkah ke kamar mandi berukuran 1 x 1 meter untuk bersiap menyambut hari.

Keluar dari pintu rumah perut Jono terasa kenyang, meski hanya bermodal "ilusi rasa" buatan sendiri. Namun di balik kesederhanaan atap itu, ia melangkah pergi dengan membawa kebahagiaan yang utuh dan sejati.

Rumah kecil penuh cinta itu sekali lagi membuktikan kekuatannya: ia adalah benteng tegak yang melindungi hati dari bisingnya dunia luar, serta tempat suci untuk merangkum arti hidup yang tenteram dan apa adanya.

 

*****

 

Siang harinya, matahari Jakarta sedang memamerkan watak aslinya yang tidak kenal ampun. Suhu udara merangkak naik hingga menyentuh angka 38 derajat Celsius, tipe panas menyengat yang sanggup membuat otak mendidih, kesabaran menguap, dan aspal jalanan raya terasa empuk meleleh bagaikan dodol yang baru diangkat dari wajan.

Di tengah amukan cuaca itu, Jono memacu motor bebeknya yang bersuara nyaring. Knalpot tuanya berbunyi parau, menyerupai napas seorang pasien TBC stadium akhir yang tengah berjuang merebut detik-detik terakhir hidupnya.

Breeebt... breeebt...

Mesin itu menderu, membelah kemacetan kota metropolitan demi menunaikan satu misi krusial: mengantar paket Cash On Delivery (COD) seharga Rp12.500. Nilainya terbilang kecil, namun bagi dapur kontrakannya, angka itu berharga. Isi paket tersebut bukanlah komponen mesin atau dokumen penting negara, melainkan sebuah jepitan rambut wanita, atau yang di kalangan kekinian lebih akrab disebut sebagai "jedai" badai anti-letoy.

Tujuan pengantarannya adalah sebuah rumah mentereng di kawasan perumahan elite, tempat di mana mobil-mobil Eropa berjajar rapi di garasi.

Tak lama kemudian, Jono turun dari motornya. Yang membukakan gerbang bukanlah seorang asisten rumah tangga yang ramah, melainkan seorang pria paruh baya berbadan gempal. Lengan pria itu dipenuhi tato tebal berwarna-warni dengan garis-garis tribal yang sangar, dipadu wajah sekasar amplas nomor tiga yang tampak siap melahap siapa saja yang berani mengusik harinya.

Begitu Jono menyerahkan bungkusan paket tersebut dengan sopan, pria tatoan itu langsung merobek plastiknya di tempat. Namun, belum genap semenit barang itu ia pegang, wajahnya berubah gelap gulita, merah padam menahan amarah yang meluap.

Ia langsung menolak untuk membayar sepeser pun. Alasan yang meluncur dari mulutnya terdengar begitu absurd sekaligus memancing kening berkerut: ia ngotot bahwa barang pesanannya tidak sesuai ekspektasi. Dalam bayangannya, jepitan rambut itu seharusnya bisa memancarkan cahaya terang di dalam gelap, sebuah ekspektasi “ngawur” yang entah dari mana ia dapatkan.

Entah karena wataknya yang memang keras atau sedang dirundung hari buruk yang penuh kekesalan, pria itu mendadak meledak. Ia membentak Jono mentah-mentah, mengancam akan melaporkannya ke pusat, lalu menutupnya dengan makian kasar yang memekakkan telinga.

"Heh, Kurir! Ini kenapa warna jedainya pink pastel?! Gua pesennya warna magenta maskulin, tahu nggak?! Gua nggak mau bayar! Retur sekarang!" bentaknya dengan suara menggelegar sampai-sampai sekelompok burung dara yang tengah bertengger malas di atas genteng langsung bubar melarikan diri karena terkejut.

Jono sontak mundur selangkah ketika menghadapi tatapan mata yang beringas dan aura permusuhan yang pekat. Dan tepat di detik yang sama, tatkala mentalnya diuji oleh makian, semesta memutuskan untuk menyempurnakan penderitaan Jono dengan sebuah lelucon fisik yang telak: sandal jepit Swallow sebelah kanannya putus di bagian tali tengah.

Tanpa ampun, kaki Jono langsung amblas menyentuh aspal jalanan yang panasnya benar-benar mirip wajan penjual martabak.

Lihat selengkapnya