Malam semakin larut, meninggalkan sunyi yang pekat di dalam kontrakan sempit beratap bocor itu. Di luar, sisa rintik hujan masih menetes pelan dari ujung asbes, berirama monoton memecah sepi. Begitu memastikan Hilda dan Andika terlelap dalam tidur yang dibalut lelah, Jono perlahan bangkit dari duduknya.
Ia melangkah perlahan menuju sudut ruangan, mengambil sebuah sajadah usang berbahan beludru tipis yang warnanya telah memudar dimakan usia. Sajadah itu ia gelar di atas lantai semen yang dingin, tepat di bawah celah atap yang bocor, sebuah pengingat bisu bahwa tempat mereka berpijak jauh dari kata sempurna.
Begitu lututnya menyentuh lantai dan keningnya menempel di atas kain sajadah yang hangat, segala macam beban hidup yang seharian mengimpit dadanya seolah tumpah ruah ke permukaan. Ingatan Jono langsung berkelebat pada rentetan masalah yang belum menemukan jalan keluar: tunggakan uang sewa kontrakan yang mendesak dari Pak Nanang, tagihan servis motor bebek tuanya yang kian rewel, hingga beban ganti rugi paket elektronik di depo ekspedisi yang nilainya setara dengan tiga bulan keringatnya.
Beban-beban itu bergemuruh di kepalanya, menuntut untuk dikeluhkan.
Namun, di sinilah letak rahasia terbesar seorang Jono. Di saat orang lain mungkin akan menengadah dengan amarah dan memprotes ketidakadilan langit, Jono justru memilih merendahkan diri serendah-rendahnya. Ia tidak pernah meminta gunung emas turun ke pangkuannya. Ia tidak pernah memohon kepada Tuhan untuk mengubah takdirnya menjadi seorang miliarder yang bisa melunasi segala utang dalam sekejap mata.
Sebab Jono tahu, jauh di lubuk hatinya yang paling jernih, keserakahan manusia sering kali bermula dari doa-doa yang terlalu serakah. Doa yang diam-diam menuntut agar dunia bertekuk lutut di bawah kaki mereka.
Dalam keheningan malam yang syahdu, Jono merapatkan kedua telapak tangan. Suaranya berbisik lirih, bergetar hebat menahan gelombang emosi, namun sarat akan keyakinan yang menghujam bumi.
“Ya Tuhan... hari ini duka keluarga kami terasa begitu penuh. Namun, biarkan rasa cukup di hati kami mengalir jauh lebih penuh lagi. Jangan beri aku harta berlimpah yang pada akhirnya hanya akan membuatku lupa jalan pulang ke haribaan-Mu, dan jangan pula beri aku kemiskinan ekstrem yang membuatku gelap mata hingga mengutuk jalan takdir yang Engkau gariskan.”
Air mata hangat akhirnya menetes, jatuh membasahi serat-serat sajadah lusuhnya.
“Cukupkanlah hati ini untuk berlapang dada menerima apa yang ada di tangan, dan cukupkanlah doa ini untuk tidak meminta lebih dari apa yang benar-benar aku butuhkan untuk hidup hari ini. Jika hari ini Engkau hanya mengizinkan kami menghirup napas dan membagi sekerat tahu untuk makan malam, maka biarlah napas dan tahu itu menjadi alasan paling sah bagi kami untuk bersujud dengan air mata keikhlasan. Cukupkan, ya Tuhan... cukupkan...”
Doa itu begitu bersahaja. Tidak ada pilihan kata yang megah, tidak ada metafora puitis yang rumit, tidak pula ada tuntutan membabi buta kepada Sang Pencipta. Jono tidak sedang meminta agar takdirnya dibentuk ulang demi memuaskan egonya yang lelah; ia hanya memohon agar kapasitas hatinya diperbesar, seluas samudra, agar mampu menampung segala pahit manis ketetapan-Nya.
Ia menyelesaikan doanya dengan usapan kedua telapak tangan ke wajah. Dan di detik yang sama, keajaiban psikologis dan spiritual itu terjadi.
Sekejap, segala ketegangan syaraf yang sejak tadi mencengkeram pundaknya luruh tak bersisa, mencair bersama sisa air mata. Beban utang, ancaman pengusiran, dan ketakutan akan hari esok seolah terangkat dari punggungnya. Kamar kontrakan yang sempit, pengap, dan berbau lembap itu mendadak terasa begitu luas, lapang, dan dipenuhi oleh ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan dunia raya.
Di atas sajadah yang usang itu, Jono menemukan ketenangan yang karam di relung sujudnya.
*****
Pagi baru saja merayap naik, mengusir sisa-sisa embun kelabu di atap-atap rumah, ketika kontras kehidupan kembali menggelar panggungnya. Malam sebelumnya, di petak kontrakan yang sempit, Jono baru saja menumpahkan segala bebannya di atas sajadah lusuh dengan doa tentang rasa cukup. Namun di sudut kota yang berbeda, tepatnya di ruang tunggu kelas tiga Rumah Sakit Umum Daerah yang bau karbolnya menusuk hidung, doa yang dipanjatkan tidak kalah getir.
Di sana, di atas kursi plastik panjang yang keras, Gita meringkuk dalam sunyi. Matanya bengkak, merah, dan basah tanpa suara. Ia tidak sedang memohon kekayaan atau keajaiban duniawi yang muluk-muluk; Gita hanya merapal satu doa yang sama berulang-ulang dengan dada yang sesak: memohon kepada Sang Pencipta agar diberikan tambahan waktu, meskipun hanya satu hari lagi, untuk mendengar tarikan napas ibunya yang kian hari kian melemah di ruang rawat inap.
Kabar mengenai kondisi ibu Gita yang semakin kritis itu akhirnya sampai juga ke telinga Jono lewat cerita Kenjiro. Mengetahui bahwa Gita sudah beberapa hari terpaksa absen menarik ojek demi menemani ibunya yang sekarat, Jono tidak tinggal diam. Di tengah kesibukannya memikirkan tunggakan kontrakan dan cicilan servis motor, Jono melangkahkan kaki menuju rumah sakit tempat Gita berada.
Setibanya di selasar rumah sakit, Jono mendapati Gita sedang duduk termenung seorang diri, memeluk lututnya dengan bahu yang bergetar hebat. Tidak jauh dari situ, Kenjiro dan Banardi yang juga menyempatkan diri datang menjenguk, berdiri kaku di dekat pilar lorong, bingung harus berbuat apa menghadapi duka sebesar itu.