Mentari Jakarta siang itu memanggang tanpa ampun. Pijarnya menyengat ubun-ubun, membakar akal sehat di tengah dekap gerah. Di bawah terik yang menyayat kulit, Jono melangkah gontai, menuntun motor bebek tuanya yang kembali menyerah. Mesinnya mati mendadak, menolak diajak kompromi.
Di atas pundaknya yang kurus, sebuah tas ransel besar berisi puluhan paket reguler yang gagal dikirimkan kemarin akibat hujan badai tiba-tiba menggantung berat, membebani punggungnya yang sudah basah oleh keringat. Jono tidak mengeluh. Napasnya terengah-engah, namun langkah kakinya terus diayunkan menyusuri trotoar yang mengepulkan uap panas.
Sesampainya di sebuah perempatan jalan raya yang sibuk, lampu lalu lintas mendadak menyala merah. Jono menghentikan langkahnya di pinggir jalan, menyeka peluh yang bercucuran di pelipisnya dengan ujung lengan kaus lusuhnya.
Di sebelah kanannya, sebuah mobil sedan mewah buatan Jerman berhenti sempurna di balik garis penyeberangan. Di dalam kabin mobil yang ber-AC sejuk dan harum, duduk seorang pria berjas rapi berdasi sutra. Namun, kesejukan ruangan berpendingin itu sama sekali tidak mampu mendinginkan gejolak emosi di dalam dada pengemudinya.
Pria yang bernama Gilang tampak sedang dikuasai oleh amarah yang meledak-ledak. Wajahnya merah padam hingga ke leher, urat-urat di pelipisnya menonjol menahan frustrasi tingkat tinggi. Ia memukul-mukul setir mobilnya dengan keras, lalu berteriak histeris pada ponsel pintarnya yang tersambung speaker:
"Bodoh! Kenapa bisa anjlok sampai separuh?! Jual sekarang! Jual semua saham itu sebelum kerugiannya merembet ke aset yang lain! Cepat!" bentak Gilang dengan suara parau yang mencerminkan kepanikan luar biasa akibat anjloknya portofolio investasi di layar ponselnya.
Di tengah amukannya yang kalang kabut, Gilang tanpa sengaja menoleh ke arah luar jendela mobil yang kebetulan terbuka sedikit. Pandangannya menangkap sosok Jono.
Dari balik kaca jendela mobil mewahnya, Gilang melihat pemandangan yang kontras bagai langit dan bumi. Seorang lelaki dengan kaus bergaris dan rompi cokelat yang warnanya sudah memudar, berdiri di bawah terik matahari yang menyengat sambil menuntun motor rongsokan. Punggungnya terbebani tas ransel raksasa, kulitnya legam terpanggang cuaca.
Namun, ada satu hal yang membuat Gilang terpaku seketika: di balik segala kepayahan fisik itu, wajah Jono tampak begitu damai, tenang, tanpa setitik pun bayang-bayang penderitaan. Bahkan, tatkala seorang pengemis tua yang renta menghampirinya untuk meminta uluran tangan, Jono tidak mengusirnya. Lelaki itu justru berhenti sejenak, mengeluarkan lembaran uang kertas kecil dari saku celananya, separuh dari uang saku hariannya yang sangat terbatas, lalu menyerahkannya dengan senyuman tulus dan sapaan yang ramah.
Gilang tertegun di balik kemudinya. Napasnya yang tadinya memburu seketika melambat.
Di mata Gilang yang terbiasa hidup dalam gelimang harta dan kalkulasi materi, Jono adalah definisi paripurna dari kemiskinan yang malang. Seorang manusia terbawah dalam piramida sosial kota metropolitan. Namun anehnya, di dalam relung batin Gilang yang sedang bergolak hebat oleh stres, muncul sebuah rasa kecemburuan yang menusuk tajam:
Mengapa pria miskin itu tampak begitu tenang dan merdeka, sementara aku... yang memiliki segalanya, yang punya rumah mewah, mobil mahal, dan tabungan tak bertepi, justru merasa seperti sedang terbakar hidup-hidup setiap hari? Siapa sebenarnya yang lebih miskin di antara kami berdua?
Merasa ada seseorang di dalam mobil mewah yang memperhatikannya cukup lama, Jono menoleh. Dengan keramahan yang sudah menjadi bagian dari karakternya, Jono melangkah mendekati jendela mobil Gilang. Ia membungkuk sedikit, tersenyum ramah, lalu bertanya dengan suara lembut, "Maaf, Pak… jendela mobilnya terbuka. Ada yang bisa saya bantu? Mungkin ban mobilnya kempes atau mesinnya bermasalah?"
Mendengar sapaan itu, alih-alih merasa dihargai, dinding kesombongan Gilang seketika meronta. Insting kapitalisnya langsung merendahkan orang di hadapannya. Gilang mendengus sinis, menatap Jono dengan pandangan jijik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seolah-olah berdiri di hadapannya bukan lagi sesama manusia, melainkan sumber wabah penyakit.
Tanpa berkata sepatah pun untuk menjawab atau sekadar menolak sapaan itu, Gilang dengan kasar menekan tombol pengatur kaca jendela. Kaca mobil berderit naik menutup rapat dengan cepat, memutus jarak di antara mereka. Gilang buru-buru memalingkan wajah, diliputi rasa takut yang konyol bahwa keringat atau "kutu" dari tubuh kumal Jono bisa melompat masuk dan menularkan penyakit padanya.
Jono tidak marah. Ia tidak pula merasa tersinggung.