Sore hari di pengujung pekan itu, jarum jam menunjuk pukul empat lewat sepuluh menit. Langit Jakarta menyapukan warna jingga temaram di atas kepala, bercampur dengan debu jalanan yang mengepul tebal. Di atas motor bebek tuanya yang berbunyi mirip mesin giling padi, Jono tengah menuntaskan rute pengantaran terjauhnya hari itu. Sebuah paket reguler ke sudut kawasan industri pinggiran kota yang sepi dan berlubang di sana-sini.
Di tengah perjalanan melintasi jalanan aspal yang lengang, ban belakang motornya sempat melibas gundukan kerikil tajam. Jono menepikan kendaraannya sejenak untuk memeriksa kondisi ban. Saat ia turun dan mendongak, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di tengah bahu jalan, tepat di bawah rimbunnya pohon ketapang.
Sebuah dompet kulit berwarna hitam legam, tebal, tampak menggembung berisi tumpukan kartu dan lembaran uang.
Jono memungutnya. Ketika ia membuka dompet itu sedikit, napasnya seketika tercekat. Di dalamnya tersimpan lembaran uang tunai ratusan ribu rupiah yang jika ditotal jumlahnya mencapai Rp4.000.000, berjejer rapi bersama kartu-kartu identitas penting, SIM, KTP, dan beberapa kartu kredit berlogo emas.
Seketika itu juga, dunia di sekitar Jono mendadak senyap. Angin sore yang berembus kencang seolah berhenti berputar.
Di titik itulah, bisikan-bisikan halus mulai merayap masuk ke dalam benaknya. Setan memang gemar sekali mempermainkan manusia di saat-saat paling rentan, menyamar sebagai penasihat yang paling tulus dan masuk akal.
“Ini rezeki nomplok dari Tuhan, Jon!” bisik suara itu di telinganya. “Ingat, Andika besok lusa butuh uang untuk melunasi buku sekolah. Hilda juga butuh beras. Utang kontrakanmu juga masih membebani. Tuhan sedang mengirimkan keajaiban lewat dompet ini. Ambil saja sedikit, tidak ada yang tahu!”
Godaan itu begitu kuat, begitu manis, dan terasa sangat masuk akal bagi seorang lelaki yang dompetnya sendiri sering kali hanya berisi angin dan selembar nota usang.
Namun, Jono bukanlah manusia yang mudah dikelabui oleh bungkus kemewahan semu. Ia menarik napas dalam-dalam, menutup kembali dompet kulit itu rapat-rapat, lalu memasukkannya ke dalam saku rompinya dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia sadar, apa yang tampak seperti rezeki dari langit terkadang hanyalah sebuah ujian moral yang menyamar untuk menguji seberapa kuat fondasi kejujuran seseorang.
Tanpa membuang waktu berpikir dua kali yang bisa melemahkan imannya, Jono membatalkan sisa rute pengantarannya hari itu. Berbekal kartu identitas dan alamat yang tertera di dalam KTP pemilik dompet, Jono melajukan motor tuanya menuju kawasan perumahan elit di bilangan Jakarta Selatan, tempat pemilik benda itu tinggal.
Menjelang magrib, Jono tiba di sebuah rumah mewah berpagar tinggi. Setelah melalui sedikit perdebatan dengan satpam penjaga gerbang, ia akhirnya dipertemukan langsung dengan sang pemilik dompet.
Seorang lelaki paruh baya berperawakan tinggi menjulang dengan setelan kemeja rapi muncul di balik pintu. Namanya Pak Sukandar, seorang pengusaha sukses yang tabiatnya terkenal kaku, curigaan, dan tidak pernah percaya begitu saja pada kebaikan orang lain.
Begitu melihat dompetnya diserahkan kembali, alih-alih menyambut dengan senyuman lega atau rasa terima kasih, Pak Sukandar justru merampas dompet itu dari tangan Jono dengan kasar. Matanya langsung melotot tajam, memeriksa setiap selipan kartu dan tumpukan uang di dalamnya dengan gestur sinis yang kentara. Ia sibuk menghitung dan memastikan, takut setengah mati kalau-kalau ada selembar uang yang kurang atau raib diambil oleh kurir kumal dihadapannya.
"Hmm... coba saya cek dulu. Jangan-jangan sudah ada yang berkurang," cibir Pak Sukandar dengan nada suara meremehkan, tanpa mengalihkan pandangannya dari isi dompet.
Setelah merasa semuanya lengkap, tidak ada satu pun lembar uang atau kartu yang hilang, Pak Sukandar mendengus kecil. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan yang lecek, bekas kembalian parkir tadi sore. Tanpa aba-aba, ia melempar lembaran itu tepat ke dada Jono.
"Nih, buat uang rokok kamu. Lain kali kalau mau cari perhatian, jangan ambil barang orang sembarangan," ucap Pak Sukandar ketus, lalu menutup pintu rumahnya dengan suara bantingan yang keras tepat di depan muka Jono.
Jono berdiri terpaku di halaman rumah mewah itu. Ia menatap lembaran uang dua puluh ribu rupiah yang tergenggam di tangannya, lalu tersenyum kecil. Bukan senyum kekecewaan, melainkan senyum kegetiran yang sudah biasa ia cicipi dari kerasnya tabiat manusia kelas atas.
Keesokan harinya kabar mengenai insiden pengembalian dompet itu dengan cepat menyebar ke telinga teman-teman di sekitar lingkungan Jono. Kenjiro, Banardi, hingga beberapa kurir depo ekspedisi langsung menggelengkan kepala tidak habis pikir begitu mendengarnya.
"Kau ini benar-benar sudah gila, Jon!" protes Kenjiro dengan nada gemas saat mereka sedang beristirahat di warung kopi. "Dapat dompet berisi jutaan rupiah dari orang kaya sombong kayak begitu, malah dikembalikan utuh! Dikasih tip cuma dua puluh ribu lagi! Kalau aku jadi kau, minimal separuhnya sudah berpindah tangan buat bayar cicilan motorku!"
Banardi ikut menimpali dengan suara menggelegar, "Kadang ada betulnya juga Ken ini, Jon! Orang kaya raya kayak begitu tidak akan jatuh miskin kalau uang di dompetnya kurang satu juta. Kau itu terlalu baik atau memang suka cari penyakit di tengah hidup yang sudah susah?!"