KAU BILANG MISKIN, KU BILANG CUKUP

Aga Lesmana
Chapter #10

BAB 10: Porsi Kehormatan

Di sela-sela jadwal pengiriman paket yang padat, takdir mempertemukan Jono dengan sebuah kenangan lama yang sempat terkubur oleh hiruk-pikuk rutinitas.

Saat Jono tengah memarkirkan motor bebeknya di depan sebuah gang sempit di kawasan permukiman padat. Ia tanpa sengaja berpapasan dengan seorang lelaki berkaus oblong lusuh yang sedang membawa sekeranjang cabai segar.

Lelaki itu adalah Mas Mardi.

Jono langsung mengenali postur tubuh dan senyum khasnya. Mas Mardi adalah pegawai senior di warung ayam geprek legendaris tempat Jono dulu sering mengambil pesanan makanan ketika masih menjadi pengemudi ojek. Ia bukan sekadar pekerja biasa; Mas Mardi dikenal sebagai sosok berjiwa filosofis, seseorang yang cara bicaranya selalu tenang, bijaksana, dan hobi mengamati liku-liku hidup orang lain sambil menyisipkan petuah-petuah lama yang diwariskan oleh orang tuanya di kampung halaman.

"Eh… Jono, ya? Wah, masyaallah! Kemana saja kamu, Jon? Lama betul tidak nampak batang hidungmu di warung," sapa Mas Mardi hangat, meletakkan keranjang cabainya sebentar lalu menepuk-nepuk bahu Jono dengan penuh keakraban.

Jono tersenyum lebar, menyambut uluran tangan kenalan lamanya itu. "Alhamdulillah sehat, Mas. Sibuk mutar-mutar jadi kurir ekspedisi sekarang. Badan kurus gini gara-gara kurang gizi, bukan kurang piknik," canda Jono, mencairkan suasana.

Mas Mardi tertawa kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia menatap Jono dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan teduh dan ramah.

"Hidup ini memang lingkaran besar, Jon," ujar Mas Mardi pelan, memulai petuah dengan gaya khasnya. "Manusia berputar mengikuti garis yang sudah digariskan. Kalau hari ini badanmu kurus, itu bukan karena nasibmu malang, tapi karena Allah sedang memahat tubuhmu agar lebih tangguh memikul beban dunia. Orang tua dulu bilang, padi yang merunduk itu berisi. Kamu sedang merunduk, Jon, bersiaplah menanti buahnya."

Jono manggut-manggut mendengarkan. Kalimat sederhana dari Mas Mardi selalu berhasil menenangkan batinnya yang kerap lelah.

"Ngomong-ngomong mumpung kamu lewat… ke warung sebentar lah," ajak Mas Mardi sambil tersenyum misterius. "Warung kita lagi bikin hajatan kecil-kecilan. Si Abah pemilik warung lagi berbaik hati mengadakan diskon besar-besaran karena anak bungsunya baru saja lulus sarjana dengan predikat cumlaude dari universitas negeri. Kamu kan dulu paling doyan sama ayam geprek level pedas maut buatan kita, mampirlah. Bawa pulang buat anak istrimu di rumah."

Mendengar kata "ayam geprek", liur Jono seketika berdesir. Bayangan gurihnya daging ayam yang berpadu dengan remasan sambal bawang yang pedas nampol di lidah langsung menari-nari di kepalanya. Sudah berbulan-bulan lidahnya tidak mengecap kenikmatan sederhana itu demi menghemat uang belanja.

"Wah, Mas. Bikin ngiler saja," kata Jono sambil tertawa. "Tapi aku selesaikan rute kiriman paket terakhir dulu, ya. Nanti selepas ashar aku pasti mampir mampir ke warung."

"Siap! Kutunggu, ya. Jangan sampai tidak datang, awas kalau mangkir!" pesan Mas Mardi sambil kembali mengangkat keranjang cabainya.

Sore menjelang senja, ketika roda motor tuanya berbelok memasuki halaman warung ayam geprek yang sederhana namun selalu bergemuruh oleh suara pelanggan, Jono langsung disambut oleh atmosfer kehangatan yang tidak pernah berubah.

Di sudut dapur terbuka, Mas Mardi tampak tenang dan khusyuk mengulek sambal di atas cobek batu besar dengan gerakan tangan yang konstan. Di sebelahnya, Mas Ical, pemuda berbadan jangkung yang terkenal paling heboh dan hobi melempar candaan garing, sedang sibuk menata porsi nasi sambil bernyanyi sumbang dengan suara yang sengaja dipelan-pelankan. Sementara di bagian kasir, Mbak Ria berdiri menyambut setiap tamu dengan senyuman genit dan tawa renyah yang langsung mencairkan suasana.

Ketiga orang itu adalah trio pegawai abadi yang sudah bekerja sejak warung tersebut buka sepuluh tahun lalu. Mereka adalah jangkar sejati warung itu; orang-orang yang membuat pelanggan betah datang bukan hanya karena makanannya enak, melainkan karena kehangatan jiwa mereka. Abah pemilik warung sangat menyayangi mereka, bahkan sering memberikan porsi makan gratis karena sadar bahwa keramaian warung ini tidak lepas dari keringat dan loyalitas ketiganya.

Namun di balik keceriaan luar biasa serta gaya bicara Mbak Ria yang centil dan suka menggoda pelanggan untuk meramaikan warung, sebenarnya ia menyimpan luka batin yang sangat dalam. Ia adalah perempuan yang menyimpan sisa-sisa trauma masa lalu yang kelam, pernah bertahun-tahun disiksa secara fisik dan mental oleh mantan suaminya serta keluarga besar lelaki bajingan tersebut, sebelum akhirnya kabur dan merajut kembali sisa hidupnya di warung ini.

Begitu melihat Jono melangkah masuk, Mbak Ria langsung berseru heboh. Ia meninggalkan meja kasir, lalu menghampiri Jono dan mencolek lengan lelaki itu dengan gemas.

"Wah, wah, wah! Lihat siapa yang datang! Tamu agung penguasa jalanan ibu kota!" pekik Mbak Ria dengan nada genit yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan kehangatan tulus. Ia menatap wajah Jono lekat-lekat. "Kurus banget sekarang, Jon. Muka kusut kayak cucian belum disetrika. Pasti hidupmu berat banget ya belakangan ini? Sini, duduk dulu, jangan bikin aku sedih melihat mantan pengemudi ojek paling setia se-Jakarta ini makin kering begini."

Jono tertawa kecil, menarik kursi kayu di dekat meja racikan. "Berat kalau ditimbang pakai timbangan beras, Mbak. Tapi kalau dibawa santai, ya rasanya seperti naik bianglala. Putar-putar terus tapi ujung-ujungnya turun juga."

Mas Ical yang sedang memegang spatula langsung menimpali dengan lelucon garingnya, menyemburkan tawa cempreng yang khas. "Ya elah, Jon! Bandingkan hidup kok sama bianglala! Kalau kamu pusing berputar, bukan naik bianglala namanya, tapi kamu lagi digendam dukun beranak! Hahaha! Betul tidak, Mas Mardi?"

Mas Mardi hanya menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum bijak, tangannya tidak berhenti mengulek cabai. "Sudahlah, Ical. Jangan ledek tamu kita. Jono ini lagi bawa beban hidup yang lebih berat dari karung beras lima puluh kilo."

Lihat selengkapnya