Hari-hari Jono di belantara ibu kota yang keras dan penuh dinamika mendadak kedatangan warna baru yang jauh lebih bising, atau lebih tepatnya jauh lebih memusingkan. Kedatangan itu berwujud seorang pemuda jangkung bernama Togar, sepupunya yang baru saja hijrah dari kampung halaman membawa sisa harta warisan peninggalan almarhum bapaknya yang meninggal tiga bulan lalu.
Berbeda seratus delapan puluh derajat dari Jono yang menjalani hidup apa adanya tanpa beban pencitraan, Togar adalah manifestasi hidup dari generasi yang hidupnya disetir oleh algoritma media sosial.
Setiap kali melangkah keluar rumah, Togar selalu memastikan dirinya tampil seestetik mungkin demi konten halaman media sosial miliknya. Di tengah teriknya cuaca Jakarta yang sanggup melelehkan aspal, ia dengan penuh percaya diri mengenakan celana jins ketat model koyak di bagian lutut, sepatu sneakers tiruan merek kenamaan yang dibelinya dengan skema cicilan digital, serta jaket bomber tebal berlapis furing yang membuatnya kepanasan setengah mati hingga keringatnya bercucuran deras seperti air terjun mini. Belum lagi aroma rambutnya yang selalu diklimis rapi menggunakan pomade beraroma buah mangga sintetis, begitu menusuk hidung siapa pun yang berpapasan dengannya.
Pemuda necis itu datang ke Jakarta bukan untuk sekadar mengadu nasib, melainkan mengusung sebuah misi ambisius: menjadi orang kaya raya dalam waktu tiga bulan.
Togar berlagak seolah dirinya adalah tokoh utama dalam film dokumenter pengusaha sukses, sangat yakin bahwa ia cocok berada dalam lingkaran kemujuran istimewa kota metropolitan. Dibesarkan dari hasil kerja bapaknya di kampung yang dulunya cukup berada, Togar memiliki keyakinan diri yang berlebih, sebuah kepercayaan diri akut, rasa pantas yang tidak pada tempatnya, serta ilusi mental bahwa ia siap melahap peluang urban yang bergerak cepat.
Togar adalah korban telak dari zaman modern; anak muda yang rela lambungnya merintih kelaparan asal gengsi dan citra digitalnya tetap hidup di dunia maya. Sisi positifnya, ia memang punya ambisi. Namun, obsesi buta itu menutup matanya rapat-rapat terhadap realitas sosial yang kejam di luar lingkaran semu tersebut.
Akibatnya? Dalam waktu singkat, Togar sukses terjebak ke dalam hampir semua jenis tren finansial paling menyesatkan di abad ini: mulai dari ikut-ikutan sekte cryptocurrency abal-abal yang menjanjikan kekayaan instan lewat aplikasi ponsel, membeli ponsel flagship keluaran terbaru menggunakan skema paylater 24 bulan yang bunganya mencekik leher, hingga hobi nongkrong di kafe-kafe hipster kawasan elite yang harga secangkir kopinya setara dengan jatah makan Jono selama seminggu penuh, semata-mata demi berfoto di bawah sorotan lampu estetik.
Hingga suatu sore, takdir mempertemukan kedua sepupu itu dalam situasi yang menggelikan sekaligus mengiris dada.
Saat itu, Jono sedang mendapat jatah rute pengantaran paket ekspedisi mendesak ke sebuah kafe minimalis berlantai kaca di bilangan Menteng, sebuah tempat mangkal para kaum muda borjuis dan pencari validasi sosial.
Ketika Jono melangkah masuk sambil membawa kardus paket berlakban cokelat, matanya langsung menangkap sesosok pemuda yang sangat ia kenal duduk di meja sudut strategis, tepat di dekat dinding kaca tembus pandang.
Ialah Togar.
Di tengah riuhnya suara dentingan cangkir porselen dan obrolan berkelas para pengunjung lain, Togar tampak sibuk sendiri. Ia mengenakan earphone nirkabel mahal di telinganya, barang yang Jono tahu persis cicilan bulanannya baru berjalan dua kali dari total dua puluh empat bulan. Dengan tangan kiri memegang segelas caffe latte berukuran tall yang harganya bikin jantung copot, tangan kanannya sibuk mengarahkan ponsel pintar untuk merekam sudut ruangan dengan berbagai trik angle kamera.
Togar sedang berakting layaknya CEO muda sukses yang tengah memimpin rapat korporasi global dari meja kafe. Mulutnya berkomat-kamit berbicara sendiri, menebar senyum penuh percaya diri ke arah lensa kamera ponselnya yang disandarkan pada penyangga kecil.
Jono yang berdiri di dekat meja kasir hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala perlahan, diliputi rasa maklum yang teramat dalam.
Lewat layar ponsel Togar yang tak sengaja tersorot dari tempatnya berdiri, Jono sempat melirik apa yang sedang dikerjakan sepupunya itu. Togar terlihat sibuk membubuhkan filter visual bernuansa sinematik pada videonya, lalu mengetikkan caption yang sangat berlebihan dan sama sekali tidak berpijak pada kenyataan hidupnya yang sebenarnya:
Grindset never stops, hustle hard in silence. Let your success make the noise.
Jono menghela napas panjang, tersenyum kecut di balik helm kurirnya. Ia tahu betul, di balik gemerlap video estetik berdurasi lima belas detik itu, dompet Togar saat ini tengah sekarat, persediaan makanannya hanya tinggal sebungkus mie instan rasa ayam bawang yang sudah remuk, dan tagihan paylater-nya siap meneror ponselnya setiap tanggal muda.
Togar, sepupunya itu, benar-benar telah menjadi salah satu korban yang tertelan bulat-bulat oleh mulut menganga tipuan kesuksesan digital. Sebuah komedi tragis dari anak muda metropolitan yang memilih hidup sebagai pesohor ilusi di dunia maya, sementara di dunia nyata perutnya berbunyi nyaring menahan lapar.
*****
Kehadiran Togar di tengah keluarga kecil Jono tidak sekadar membawa warna baru yang bising; ia bagaikan celupan tinta tebal yang tumpah di atas lembaran kertas putih, penuh warna, kontras, konyol, sekaligus sarat makna. Pemuda itu datang bukan untuk meredakan kesederhanaan hidup Jono, melainkan memperkayanya dengan siluet-siluet tak terduga yang membuat hari-hari di rumah kontrakan terasa bagai panggung komedi absurd.
Dunia ini memang kerap menyuguhkan lelucon yang tak habis bila dipikirkan. Petak kontrakan Jono yang sempit, pengap, dan hanya berlantaikan ubin semen kusam itu mendadak berubah wujud menjadi gudang pameran elektronik modern. Semua itu gara-gara hobi baru Togar memboyong barang-barang mewah hasil dari cicilan digital berumur panjang.
Paling kontras dan mencolok di sudut ruangan adalah sebuah mesin kopi kapsul otomatis berteknologi tinggi. Barang gaya hidup kelas atas yang harganya setara dengan biaya hidup keluarga Jono selama sebulan penuh. Togar meletakkannya dengan bangga di atas meja kayu reyot, seolah benda itu adalah singgasana kebangsawanan di tengah sarang burung pipit.
Padahal, ada satu detail teknis kecil yang sengaja atau lupa dihitung oleh otak jenius Togar: daya listrik petak kontrakan Jono hanya sebesar 450 Watt.
Sebuah angka daya yang ibarat napas kakek-kakek asma. Tersengal-sengal, tipis, dan gampang lepas jika diberi beban berlebih.