KAU BILANG MISKIN, KU BILANG CUKUP

Aga Lesmana
Chapter #12

BAB 12: Renungan Semut Hitam

Bulan berganti dengan cepat, dan bagi kaum modern yang hidup dari tumpuan cicilan, satu hal paling menakutkan pun tiba: tanggal 10.

Bagi Togar, tanggal itu bukan sekadar penanda awal bulan, melainkan Hari Kiamat versi digital. Begitu kalender rumah kontrakan menunjukkan angka puluhan, wajah pemuda itu berubah pucat pasi, keringat dingin bercucuran deras dari pelipisnya, dan matanya terus-menerus melotot ngeri menatap layar ponsel pintar yang tidak pernah berhenti berdering.

Teror harian itu datang dari para penagih pinjaman online yang suaranya terdengar galak, beringas, dan bernada mengancam lewat sambungan telepon.

Sore itu ponsel Togar kembali menjerit nyaring di atas meja. Togar yang sudah frustrasi, gemetar ketakutan hingga giginya bergemeretuk, menolak mengangkatnya. Ia memilih bersembunyi di sudut ruangan, menutup kedua telinganya rapat-rapat.

Jono, yang merasa terganggu dengan dering bising yang tak berkesudahan itu, akhirnya menghela napas panjang. Ia meraih ponsel Togar dari atas meja, lalu melangkah keluar menuju teras depan kontrakan untuk menghadapi penagih utang secara langsung.

"Halo? Selamat sore, Pak. Ini dengan siapa dan dari instansi penagihan mana?" sapa Jono tenang begitu sambungan terhubung, sambil menyalakan pengeras suara ponsel.

Dari ujung telepon, suara seorang pria terdengar menggelegar, penuh emosi, dan melontarkan nada tinggi yang memekakkan telinga. "Halo! Mana si Togar itu, hah?! Jangan berani-beraninya dia menghindar! Utang dua juta rupiah sudah jatuh tempo hari ini! Kalau tidak dilunasi, data dirinya akan saya sebar ke seluruh media sosial! Biar sekalian malu harga dirinya!" maki penagih utang itu dengan nada membabi buta.

Alih-alih merasa ciut atau tersinggung, Jono justru mendengus pelan, tersenyum tipis, lalu menjawab dengan kalimat yang sama sekali di luar prediksi akal sehat manusia. "Wah, sabar dulu, Pak. Jangan ngegas begitu, nanti urat lehernya putus. Saudara saya itu utang dua juta, tapi ditagihnya sudah kayak buronan kasus korupsi triliunan rupiah saja," jawab Jono santai sambil menatap halaman kontrakan yang hanya berukuran satu setengah meter. "Ngomong-ngomong, Bapaknya sendiri sudah makan belum? Suaranya kedengaran serak dan lemas begitu. Pasti belum sempat istirahat, ya?"

Di ujung telepon, bentakan penagih utang terhenti mendadak. Hening beberapa detik.

"Hah? Maksud kamu apa tanya saya sudah makan atau belum?!" suara di seberang terdengar kebingungan, kehilangan kendali nada galaknya.

"Ya, maksud saya baik, Pak," lanjut Jono ramah tanpa beban. "Kalau belum makan, kapan-kapan mampir ke kontrakan kami di sini. Kita ngopi bareng, makan gorengan tempe yang garing dan gurih buatan istri saya. Dijamin rasanya mantap, bisa bikin lupa sama target tagihan yang bikin kepala botak."

Mendengar tawaran tulus yang sama sekali tidak masuk akal itu, pertahanan mental si penagih utang yang setiap hari terbiasa dimaki-maki orang runtuh seketika. Suara di ujung telepon mendadak berubah gagap, isakan kecil terdengar tertahan, hingga akhirnya berubah menjadi tangisan sesenggukan.

"Kamu... kamu kok malah tawarin saya gorengan?" ratapnya dengan suara bergetar menahan tangis. "Saya ini capek... Saya dimaki-maki bos setiap hari karena target tidak tercapai. Gaji saya dipotong setengah karena banyak nasabah yang macet bayar seperti saudaramu itu... Saya bahkan belum makan siang dari kemarin..."

Togar yang mengintip dari balik pintu, terbengong-bengong menyaksikan pemandangan ajaib itu. Seorang penagih utang galak yang ditakuti se-antero aplikasi mendadak curhat dan menangis bombay di pelukan telepon kepada sepupunya yang kere.

Belum sempat Jono menanggapi curhatan penagih ditelepon, tirai drama teras depan mendadak kedatangan aktor tambahan.

Di teras sebelah, pintu kayu berderit terbuka. Mas Dodi kembali muncul. Tanpa diundang, ia langsung bergabung duduk di kursi plastik reyot sebelah Jono, seolah ia adalah tuan rumah yang sah.

Di tangan kanannya, Mas Dodi membawa sebuah mangkuk kecil berisi gula batu yang sudah dikerubungi semut hitam. Tanpa basa-basi, ia menawarkannya kepada Jono dan Togar sebagai tambahan pemanis untuk kopi pahit mereka yang terlihat masih mengepulkan uap tipis.

"Nih, pakai gula batu, Jon. Biar hidup yang penuh utang ini agak berasa manis sedikit, jangan pahit melulu kayak empedu buaya," ujar Mas Dodi santai, mencolek beberapa ekor semut dari gula batu tersebut menggunakan kelingkingnya lalu menjentikkannya ke udara.

Melihat Mas Dodi nimbrung dengan tingkah ajaibnya, Jono hanya bisa tersenyum pasrah sambil mendekatkan pengeras suara ponsel ke hadapan mereka bertiga.

Mas Dodi melirik layar ponsel yang masih tersambung dengan penagih pinjol yang sedang terisak-isak di ujung sana. Dengan alis terangkat dan lagak mirip seorang nabi jalanan, Mas Dodi merebut ponsel itu dari tangan Jono.

"Heh, Bapak penagih utang yang lagi mewek di sana! Dengarkan omongan saya baik-baik!" seru Mas Dodi dengan suara sumbangnya yang mantap. "Kamu jangan cengeng jadi manusia! Hidup memang berat, tapi kalau kamu menangis karena utang si Togar yang cuma dua juta itu, rezekimu malah mandek kayak got buntu!"

Lihat selengkapnya