KAU BILANG MISKIN, KU BILANG CUKUP

Aga Lesmana
Chapter #13

BAB 13: Miliar dan Recehan

Sore hari yang kelabu itu menjelma menjadi puncak keapesan Jono yang mencapai level terpanas. Langit Jakarta seolah sepakat untuk menumpahkan seluruh beban gerahnya, berpadu dengan kesialan bertubi-tubi yang menimpa hidup Jono di tengah hiruk-pikuk jam pulang kantor.

Motor bebek tuanya mendadak mogok total tepat di jalur cepat Jalan Jenderal Sudirman. Belum cukup membuat jantung Jono hampir lepas, rantai motornya tiba-tiba putus di tengah jalan, melingkar kusut dan menyangkut erat di jeruji roda hingga bagian ban mengunci mati. Kendaraan itu mendadak paten, tak mau bergeser barang satu sentimeter pun.

Dengan sisa tenaga yang tersisa, Jono berjongkok di aspal yang masih memancarkan hawa panas menyengat. Ia berusaha sekuat tenaga menyingkirkan serpihan rantai besi yang menyelip kejam di antara gir belakang dan bak mesin. Tangan kasarnya belepotan oleh oli hitam, peluhnya benar-benar terkuras habis demi mengeluarkan potongan rantai tersebut agar roda belakang bisa kembali berputar bebas.

Setelah berjuang setengah mati di antara deru klakson kendaraan yang meraung-raung marah di belakangnya, Jono akhirnya bangkit. Mau tidak mau, ia harus mendorong motor bebek tuanya di tengah kemacetan total ibu kota yang padat merayap.

Peluh mengucur deras membasahi sekujur tubuh Jono, turun bagai air terjun mini dari puncak kepala hingga menembus sandal jepitnya. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun menahan penat.

Namun, drama jalanan sore itu ternyata tidak berhenti pada dirinya seorang.

Tepat di sebelah jalur cepat, di lajur kiri jalan raya yang sama, sebuah mobil sport pabrikan Italia berwarna merah menyala juga kedapatan sedang mogok. Dua jenis kelas kehidupan yang sangat kontras: antara kurir paket berkaus lusuh dan mobil bernilai miliaran rupiah kini sama-sama merasakan kekacauan dan kerepotan paripurna, memberi dampak telak bagi fisik dan mental kedua pemiliknya.

Kap depan mobil sport berharga fantastis itu terbuka lebar, mengepulkan asap putih tipis karena mesinnya mengalami overheat. Dari balik kemudi, muncullah seorang eksekutif muda berpenampilan necis. Jasnya rapi berdasi, rambutnya tersisir klimis, dan wajahnya mulus bagaikan pahatan porselen dari salon mahal.

Namun, ekspresi wajahnya saat itu jauh dari kata tampan. Ia terlihat bagaikan orang yang siap meledakkan bom bunuh diri karena frustrasi.

Pria berjas itu memukul mobilnya berkali-kali, menendang ban depan dengan sepatu pantofel berkilau, lalu berteriak histeris di pinggir jalan sambil memegang ponsel pintar di telinganya. Suaranya melengking tinggi, nyaris menangis histeris, mengutuk apa saja yang ada di hadapannya lantaran ia terancam telat menghadiri rapat direksi bernilai fantastis.

"Rugi tiga miliar hari ini! Tiga miiiliaaar gara-gara mobil sialan ini mogok!" teriaknya histeris, mencak-mencak sambil mengentak-entakkan kakinya ke aspal. Ia kemudian menjambak rambutnya sendiri, terlampau stres menghadapi kehancuran finansial korporatnya.

Jono yang kebetulan mendorong motornya tepat melewati samping mobil sport tersebut, menghentikan langkahnya. Tanpa rasa canggung, ia memarkir motor bebeknya di pinggir trotoar.

Ia merogoh tasya, lalu mengeluarkan sebotol air mineral plastik bening. Air isi ulang dari rumah yang sengaja ia bawa untuk berhemat demi tidak membeli minuman mahal di jalan. Air di dalam botol itu kini sudah hangat kuku karena seharian mendekam di dalam tasnya yang mengepung panas.

Dengan langkah santai, Jono mendekati eksekutif muda yang masih gemetar menahan amarah.

"Minum dulu, Mas. Mobilnya keren dan mahal, kalau ditendang terus nanti bannya yang balik nuntut, lho," kelakar Jono ramah seraya menyodorkan botol air mineral hangat itu, diiringi senyuman tulus tanpa ada secuil pun rasa rendah diri.

Eksekutif muda itu menoleh sekilas dengan gerakan patah-patah. Ia menatap Jono dari ujung helm Cargloss murah yang masih menggantung di siku tangan hingga sandal jepit sang kurir dengan pandangan mata yang menyaratkan rasa jijik dan meremehkan.

Setelah berhasil mencerna situasi konyol di depannya, bahwa ada seorang pengantar paket berkaus dekil menawarinya air mineral hangat di tengah jalan, darah di kepala eksekutif muda itu mendadak mendidih. Ia meledak, berteriak dengan nada yang jauh lebih garang dan putus asa:

"Kamu mana mungkin paham posisiku! Hari ini perusahaanku rugi miliaran rupiah! Hidupku hancur gara-gara mobil sialan ini mogok! Uang recehan yang kamu kumpulkan selama seratus tahun bekerja juga tidak akan pernah bisa menutupi sepersekian persen dari kerugianku hari ini! Pergi sana! Hidupku hancurrrr!" bentaknya penuh ludah, menatap Jono dengan mata melotot merah.

Alih-alih merasa tersinggung, sakit hati, atau balik membentak, Jono justru bergeming. Ia menatap pria berjas mewah itu dengan wajah yang sangat tenang, dibalut keteduhan di bawah terik langit Jakarta yang menyengat tanpa ampun.

Lalu, dari bibir Jono meluncurlah tawa renyah. Sebuah tawa khas yang riang, tulus, dan sama sekali tanpa beban hidup.

Tanpa memedulikan tatapan horor dari pria dihadapannya, Jono melangkah santai dan lalu mendudukkan pantatnya di atas trotoar, meluruskan kedua kakinya yang pegal linu akibat mendorong motor.

"Mas..." kata Jono santai sambil menyeka peluh di dahinya menggunakan ujung kaus lusuh yang melekat di tubuhnya yang kerempeng. "Bumi ini luasnya luar biasa, tapi isi kepala Mas sempit sekali rasanya. Mas itu menderita bukan karena mobil mewahnya mogok di jalan, atau karena kehilangan angka tiga miliar di atas kertas."

Pria berjas itu tertegun sesaat. Ponsel pintar nan mahal yang tadinya menempel erat di telinganya perlahan-lahan turun ke sisi tubuhnya, terpesona sekaligus bingung oleh ucapan kurir lusuh yang wajahnya kelihatan damai.

"Mas menderita," lanjut Jono dengan nada bicara menasihati layaknya seorang sahabat lama, "karena tidak siap menjadi manusia yang rencana hidupnya digagalkan sama Tuhan hari ini. Mas terlalu sombong mengira hidup ini harus selalu berjalan sesuai jadwal Excel di laptop kantor."

Jono menunjuk motor bebek tuanya dengan dagu.

"Coba lihat saya, Mas. Rantainya putus di jalur cepat, puluhan paket pelanggan belum selesai diantar ke alamatnya, dan dompet di saku saya sekarang isinya cuma selembar uang bergambar Kapitan Pattimura memegang golok yang kesepian. Tapi sore ini, saya masih bisa duduk manis di sini, menikmati pemandangan mobil mewah miliaran rupiah mogok secara gratis, sambil merasakan sepoi-sepoi angin panas Jakarta yang penuh asap karbon monoksida. Segar-segar gimana gitu rasanya."

Jono tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.

"Nah, kerugian Mas yang tiga miliar itu jujur saja cuma deretan angka di atas laporan kertas kantor. Tapi kalau Mas sampai kena strok mendadak di pinggir jalan raya gara-gara mengamuk seperti orang kesurupan, itu baru namanya kerugian yang hakiki. Rugi nyawa, Mas!"

Setelah merampungkan kalimat telaknya, Jono berdiri perlahan. Ia menepuk-nepuk celananya yang kotor menempel debu aspal jalanan.

"Sudahlah. Mobil Mas mogok, tinggal telepon derek langganan, beres kan? Kalau motor saya mogok? Ya harus saya dorong pakai sisa kekuatan iman dan dengkul sampai bengkel terdekat di ujung jalan sana." Jono memegang setang motornya kembali. "Tapi saya rasa hari ini... apa pun bentuk sialnya, ini sudah sangat cukup buat saya. Kita berdua sama-sama mogok di jalan, Mas. Bedanya, saya mogok sambil berbahagia menikmati takdir, kalau Mas mogok sambil sengaja mencari penyakit."

Mendengar rentetan kalimat itu, eksekutif muda berjas mahal tersebut terdiam seribu bahasa. Ia mematung kaku di samping kap mobilnya yang masih mengepul, bagaikan tersihir oleh kata-kata Jono yang meluncur begitu saja namun menusuk lurus menembus dinding pertahanan egonya yang selama ini penuh tekanan korporat kejam.

Pria itu menatap lurus ke arah Jono yang mulai kembali mendorong motor bebek tuanya dengan gagah berani.

Di tengah bisingnya deru knalpot metromini yang melintas, Jono berjalan sambil bersiul riang, menyanyikan lagu dangdut koplo favoritnya dengan penuh suka cita. Membawa kedamaian jiwa yang sama sekali tidak bisa dibeli oleh uang tiga miliar rupiah sekalipun.

 

Lihat selengkapnya