KAU BILANG MISKIN, KU BILANG CUKUP

Aga Lesmana
Chapter #14

BAB 14: Kilau Duniawi

Hari berikutnya, semesta tampaknya sepakat untuk menaikkan level komedi di hidup Jono dari kategori "apes biasa" menjadi "kacau tingkat dewa". Bedanya, hari ini keapesan Jono bukan cuma menampar orang lain, melainkan berbalik memberi tamparan kecil yang renyah ke wajahnya sendiri. Karena bagaimanapun juga, Jono tetaplah manusia biasa yang terbuat dari daging dan darah, bukan seorang malaikat suci tanpa cela.

Pagi-pagi sekali pada pukul 06.00, Jono sudah membuat satu RT gempar. Masalahnya sebenarnya sepele: burung murai batu kesayangan seharga lima belas juta rupiah milik Pak RT lepas dari sangkarnya dan terbang hinggap di pohon mangga tua yang terletak tepat di depan teras kontrakan Jono. Pak RT yang terlanjur panik setengah mati bahkan sudah siap menggelar sayembara terbuka berhadiah jutaan rupiah bagi siapa saja yang bisa menangkap burung mahalnya itu.

Alih-alih berlari membawa jaring atau tangga bambu, Jono keluar rumah dengan gaya santai tanpa beban. Ia hanya mengenakan sarung yang diikat di leher ala pendekar mabuk dan kaus kutang putih yang sudah agak menguning di bagian ketiak.

Melihat burung yang menjadi pusat perhatian itu bertengger tenang, Jono tidak mencoba menangkapnya dengan kekerasan. Ia justru memilih duduk berjongkok di bawah pohon, memegang segelas kopi hitam pahit di tangan kanannya, lalu mulai bersiul nyaring mengajak si burung berbincang menggunakan bahasa burung abal-abal yang nadanya justru mirip klakson bus omprengan lintas kota.

Ajaibnya, burung murai batu berharga fantastis itu justru menoleh, mengepakkan sayapnya perlahan, lalu turun hinggap dengan anggun di atas bahu Jono.

Ketika Pak RT datang berlari terengah-engah dengan wajah pucat, Jono dengan santainya menyerahkan burung itu seraya berkata tanpa beban, "Ini Pak RT, burungnya aman sentosa. Tadi dia curhat ke saya, katanya bosan hidup di dalam sangkar emas terus, pengen juga sesekali melihat dunia luar yang penuh cicilan dan tagihan."

Pak RT yang kegirangan dan merasa bersyukur luar biasa karena hewan kesayangannya berhasil kembali pulang dengan selamat langsung merogoh saku celananya. Ia memberikan Jono uang "terima kasih" tunai sebesar Rp500.000, mengurungkan niat memberikan hadiah jutaan rupiah setelah menyadari Jono tampaknya sudah akan sangat puas dengan ratusan ribu saja.

Jono seketika melompat kegirangan. Ia menerima lembaran uang itu dengan senyum lebar hingga memperlihatkan gusi. Di dalam kepalanya yang selama ini disiplin, tombol "cukup" mendadak berkedip-kedip manja, tidak seperti biasanya.

Asyik! Rezeki anak soleh! Bisa buat beli ayam goreng Mekdi buat si dedek! teriak Jono dalam hati yang penuh sukacita.

Namun, di situlah awal mula dari sisi manusiawi Jono mulai goyah. Keapesan yang kemudian berbalik menjadi pelajaran berharga itu dimulai detik itu juga.

Karena merasa memegang uang “anget” lima ratus ribu rupiah dari hasil menyelamatkan burung Pak RT, Jono mendadak lupa diri. Nominal besar yang jarang singgah itu membuat Jono yang biasanya kebal pada godaan kapitalisme jalanan, mendadak terserang penyakit klasik manusia: agak sombong dan ingin pamer.

Siang itu, ketika Jono mendapat jatah mengantar paket ke kawasan perkantoran elite di pusat kota, ia membawanya dengan keriangan yang ganjil dan membuat siapa saja yang melihatnya akan bergidik ngeri. Sepanjang perjalanan menaiki motor bebeknya, ia terus-terusan menepuk-nepuk saku celana tempat lembaran uang itu tersimpan, seolah merasa menjelma menjadi orang paling kaya raya di barisan para kurir.

Ia bahkan mengambil keputusan radikal: menolak mampir ke warteg tempat biasa ia mengisi lambung dengan nasi porsi kuli.

"Sekali-sekali, hidup jangan mau susah terus. Aku mau makan di kafe estetik ber-AC yang pelayannya pakai bahasa Inggris!" gumam Jono penuh kebanggaan semu di dalam helm Cargloss lecetnya.

Jono melangkah masuk ke sebuah kafe minimalis berlantai marmer di bilangan Menteng. Ia berdiri di depan meja kasir dengan masih mengenakan baju kaus lusuh yang dipenuhi bercak keringat asin di punggungnya. Dengan suara lantang tanpa ragu, ia memesan segelas Iced Caramel Macchiato seharga Rp60.000, yang ukuran gelasnya ternyata cuma sekepalan tangan bayi. Serta sepotong kue cokelat kecil seharga Rp80.000.

Begitu duduk di sofa beludru yang empuk dan mewah, Jono sengaja mengeluarkan lembaran uang Rp500.000 dari sakunya. Ia meletakkannya di atas meja kayu estetik dengan gaya perlente, lalu menyeruput kopinya sambil mengangkat jari kelingkingnya tinggi-tinggi. Di detik itu, Jono benar-benar merasa dirinya sedang berada di puncak rantai makanan dunia.

Namun, keangkuhan kecil itu langsung dibayar tunai oleh semesta tanpa perlu dicicil. Lunas seketika pada hari itu juga.

Tepat saat Jono bangkit dari kursinya dan hendak keluar kafe sambil berjalan tegap membusungkan dada, seorang ibu sosialita berwajah kaku nan garang muncul dari arah berlawanan. Ibu itu sedang sibuk menelepon dengan suara nyaring, berjalan mundur tanpa melihat arah langkah kakinya.

Brak!

Tubuh ibu itu menabrak Jono dengan telak. Sialnya, di tangan kanannya ia sedang membawa segelas Hot Americano yang mengepulkan uap.

Cairan hitam panas itu tumpah ruah tanpa ampun, mendarat dengan sukses tepat mengenai bagian depan celana Jono. Sensasi terbakar seketika menjalar, membuat Jono menjerit melengking tinggi bagaikan seekor lumba-lumba yang terperangkap jaring nelayan di tengah laut.

"AARRGH! Panas! Panas!" teriak Jono sambil melompat-lompat kecil di tengah ruangan kafe.

Alih-alih merasa bersalah atau meminta maaf, ibu sosialita yang berbalut pakaian bermerek mahal itu justru melotot marah. Dengan garis wajah yang mengeras, ia balik membentak Jono di hadapan puluhan pengunjung kafe. "Heh! Kurir resek! Kalau jalan pakai mata dong, jangan pakai dengkul! Lihat nih, tas Hermes kesayangan saya jadi ketumpahan kopi panas! Asal kamu tahu ya, gaji kamu kerja jadi kurir setahun penuh juga nggak bakal cukup buat mengganti rugi tas mewah saya ini!" semprot ibu itu penuh emosi dan ludah.

Di sinilah pertarungan batin yang sesungguhnya menghantam Jono. Ego lelakinya mendadak terluka parah.

Ia punya uang tunai ratusan ribu di genggaman tangannya, maka ia merasa memiliki kekuatan finansial yang cukup untuk membalas makian itu dan membela diri. Jono menarik napas dalam-dalam, bersiap mengeluarkan argumen paling pedas dan menohok untuk membungkam mulut ibu sosialita itu di hadapan para pengunjung kafe yang kini serentak menatap ke arah mereka berdua, menonton drama gratis sambil menikmati kue. Jono ingin membuktikan kepada dunia bahwa "orang kecil" sekalipun punya harga diri yang tidak bisa diinjak-injak begitu saja.

Namun, tepat sepersekian detik sebelum bibir Jono terbuka untuk meledakkan amarahnya, pandangannya tanpa sengaja menangkap pantulan bayangan dirinya sendiri pada dinding kaca besar kafe yang mengilap.

Di sana, terpampang sosok seorang kurir berkaus dekil dengan celana basah kuyup di bagian selangkangan. Penampilannya kelihatan sangat mengenaskan, persis seperti orang dewasa yang sedang ketakutan karena tepergok ngompol di tempat umum. Tangannya masih menggenggam lembaran tipis uang dengan wajah merah padam menahan amarah yang meluap-luap.

Melihat pantulan dirinya sendiri di kaca, Jono mendadak tertegun. Seluruh urat amarahnya di dalam dada seolah putus dalam satu kedipan mata.

Sebuah kesadaran menampar batinnya telak-telak tanpa suara. Ya ampun... Aku ini sedang apa? Aku baru saja hampir berubah menjadi monster menyedihkan yang selama ini paling kubenci di dunia. Aku mau mengamuk, berteriak, dan merusak hari indahku hanya demi membela sebuah ego busuk yang harganya ternyata cuma seukuran lima ratus ribu rupiah ini?"

Lihat selengkapnya