Mendengar namanya disebut. Jini, si jin cantik nan elegan pelayan lampu ajaib era tahun 90-an yang sudah lama pensiun dari dunia magis, mendadak membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya bergetar halus merespons gelombang suara dan getaran pasrah yang menguar di sekitar tempatnya bersemayam.
Sebagai makhluk gaib bersertifikat resmi, naluri kesaktiannya menuntut untuk kembali dipergunakan. Rasanya sudah gatal tangan Jini ingin melambaikan keajaiban.
Namun di sisi lain, Jono adalah tipe manusia yang sama sekali tidak butuh sihir instan apa pun. Ia tidak butuh mantra untuk mengubah daun kering menjadi uang kertas segepok, atau menyulap motor bebek tuanya yang berisik menjadi jet pribadi ber-AC. Sebab bagi Jono, puncak dari segala kesaktian tertinggi di dunia ini tidak terletak di dalam botol atau lampu ajaib, melainkan ada di dalam mangkuk hatinya sendiri. Sebuah ruang batin yang ia tahu persis tidak pernah merasa kekurangan.
Meskipun demikian, semesta tampaknya punya rencana komedi lain. Sore berikutnya dibungkus dengan kisah di bawah terangnya lampu neon jalanan ibu kota yang berkedip-kedip pasrah karena tegangannya turun-naik. Sebuah ronde bonus yang tidak disangka: pertemuan antara Jini dan Jono.
Semua itu bermula dari kejadian sore tadi sebelum Jono pulang mengantar paket. Di tumpukan sampah rongsokan dekat proyek bangunan, tanpa sengaja ia menemukan sebuah teko tembaga berukuran sedang dengan bentuk yang cukup unik, meskipun permukaannya sudah sedikit berkarat dan ditumbuhi lumut tipis.
Karena merasa teko itu masih lumayan bagus dan bisa dipakai untuk merebus air jika dibersihkan, Jono memutuskan membawanya pulang. Setibanya di teras kontrakan, ia berniat iseng menggosok-gosok permukaan teko tersebut menggunakan ujung kaus lusuhnya untuk melihat apakah karatnya bisa hilang.
Baru tiga kali gosokan mantap meluncur di badan teko...
BOOM!
Sebuah ledakan kecil berwarna merah muda menyembur dahsyat disertai kepulan asap tebal yang harum semerbak aroma bunga tujuh rupa. Dan dari dalam asap tebal itu, muncullah sesosok makhluk gaib berwujud perempuan cantik jelita dengan selendang melayang anggun. Kita sebut saja ia: Jini. Daripada repot-repot mencari nama baru yang ribet.
Jini melayang anggun di udara teras kontrakan yang sempit, lalu berkacak pinggang dengan nada suara penuh wibawa yang menggelegar. "Wahai manusia fana yang penampilannya sangat memprihatinkan dan berkaus dekil... akulah Jini, sang penguasa dimensi lampu ajaib! Karena engkau telah berhasil membebaskanku dari kurungan teko rongsokan ini, aku akan mengabulkan tiga permintaan agungmu! Mau rumah mewah berlantai marmer di Pondok Indah? Mau saldo ATM sembilan digit yang tidak bakal habis tujuh turunan? Atau mau motor sport mewah yang kalau jalan tidak bunyi seperti helikopter rusak?! Sebutkan semuanya sekarang juga dengan lantang!"
Mata Jono berkedip tiga kali dengan santai. Sama sekali tidak ada ekspresi kaget, takjub, ataupun histeris layaknya manusia dalam sinetron azab. Jono justru memasukkan jari telunjuknya ke dalam telinga, tidak puas sampai disana ia kemudian mengorek-ngoreknya pakai ujung kunci motor bebeknya, sementara wajahnya dilukiskan oleh kebingungan.
"Sebentar, Mbak Jini..." ucap Jono dengan nada datar tanpa dosa. "Kamu kalau keluar dari teko jangan banyak-banyak dong asapnya. Ini jemuran istri saya baru saja kering di samping, nanti bau kemenyan lagi bajunya, repot kalau harus mencuci ulang."
Jini yang tadinya melayang megah dengan pose dramatis seketika tersedak ludahnya sendiri. Alisnya berkerut bingung.
"Terus..." lanjut Jono tanpa memedulikan ekspresi yang tergambar diwajah Jini, "soal tiga permintaan tadi... rasanya kebanyakan, Mbak. Kepala saya pusing kalau harus mikir muluk-muluk begitu. Satu permintaan saja sudah lebih dari cukup."
Jini sontak melongo selebar-lebarnya. Selama ribuan tahun berkarir menjadi jin pengabul permohonan dari zaman Firaun sampai era digital, baru kali ini ia mendapati spesimen manusia model begini.
"Satu?!" teriak Jini histeris, nyaris kehilangan keseimbangan melayangnya. "Kamu ini serius, Mas?! Orang lain di luar sana kalau ketemu aku pasti minta menguasai separuh dunia, minta kilang minyak, atau minimal minta jadi konglomerat dikampungnya! Kamu kok malah cuma minta satu?!"
Jono tersenyum renyah, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.
"Iya, satu saja cukup, Mbak Jini. Tolong... jepitkan kembali sandal Swallow saya yang putus di bagian jempol pakai peniti baru, ya. Soalnya peniti yang lama sudah karatan kena genangan air hujan dan panas aspal jalanan kemarin. Kadang kalau dipakai jalan agak pincang dan sakit waktu penitinya menusuk kulit jempol saya," jawab Jono enteng.
Mendengar jawaban yang sama sekali di luar nalar hukum fisika dan metafisika itu, Jini merasa dunia seolah runtuh seketika.
Kepala Jini mendadak pusing tujuh keliling. Ia merasa seluruh ilmu sihir tingkat dewata yang dipelajarinya selama ribuan tahun mendadak tidak ada gunanya sama sekali ketika harus berhadapan dengan manusia yang kadar rasa "cukup" di dalam hatinya sudah meresap hingga ke level molekuler paling dasar.
"Ugh... tidak masuk akal..." gumam Jini lemas.
Tubuh jin cantik itu mendadak limbung di udara. Cahaya kemilau di sekitarnya meredup seketika, dan dengan gerakan dramatis, Jini pingsan di tempat, jatuh terjungkal di atas lantai semen teras kontrakan. Kepulan asap merah mudanya seketika berubah wujud menjadi sekadar butiran abu gosok tipis yang berserakan ditiup angin malam.
Jono hanya bisa menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, memandangi tumpukan abu gosok bekas keberadaan Jini dengan tatapan prihatin. Ia menggelengkan kepala pelan, lalu mengambil teko tembaga berkarat itu dan meletakkannya di sudut rak sepatu.
"Yah... malah pingsan," gumam Jono santai. "Padahal tadi niatnya mau minta tolong sedikit. Dasar jin kurang piknik!"
Ternyata kesaktian sehebat apa pun di dunia ini akan selalu bertekuk lutut di hadapan manusia yang tahu persis bagaimana cara mencukupkan diri dengan apa adanya.
*****
Tidak berselang lama dari kehebohan ketika jin cantik penunggu lampu ajaib harus tumbang pingsan dan berubah menjadi abu gosok akibat tawar-menawar sandal jepit berpeniti, semesta rupanya masih menyimpan sisa-sisa komedi kosmik yang tak kalah anehnya untuk warga sekitar kontrakan.