Di tengah kerasnya belantara ibu kota yang berlomba-lomba mengejar validasi digital, Jono berdiri sebagai sebuah anomali mutlak. Ia adalah seorang kurir paket harian yang memiliki "kesaktian" langka yang hampir mustahil ditemukan pada manusia modern: ia hampir tidak pernah bisa stres.
Bukan karena Jono memiliki ilmu kebal batin atau tingkat resiliensi psikologis setinggi para biksu di dataran tinggi Tibet. Dalam ilmu batin dan psikologi praktis, apa yang dimiliki Jono bukanlah sihir magis, melainkan hasil dari disiplin pengendalian pikiran yang sangat matang.
Jono sangat paham bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dikontrol oleh kehendak manusia. Cuaca buruk, kemacetan parah, celana tersiram kopi, hingga tabiat manusia yang menyebalkan, semuanya berada di luar kendalinya. Maka, alih-alih menghabiskan energi berharga untuk mengeluh, meraung, atau memaki keadaan, Jono memilih untuk memfokuskan seluruh sisa energinya pada solusi.
Selain memperkuat sandaran batin dan rasa aman kepada Sang Pencipta, Jono menyadari betul bahwa akar dari segala stres bukanlah masalah itu sendiri, melainkan cara pandang seseorang dalam menyikapi masalah tersebut.
Maka, tidak heran jika melihat alat kerja hariannya. Di saat para kurir seangkatannya mengandalkan ponsel pintar keluaran terbaru berharga jutaan rupiah demi GPS yang super mulus, Jono masih dengan setia menggunakan ponsel jadul berlayar monokrom yang retak seribu di bagian pojok, dengan penutup belakang yang harus diganjal menggunakan lipatan kertas bekas bungkus rokok agar baterainya tidak copot saat motor bergoyang melewati jalan berlubang.
Suatu siang yang terik, takdir yang gemar melucu itu kembali mempertemukan Jono dengan sebuah misi pengiriman paket yang sama sekali tidak ada di dalam buku panduan kerja kurir mana pun.
Jono mendapat tugas mengantar sebuah paket berukuran sedang dengan label fragile ke sebuah rumah mewah berdesain minimalis modern di kawasan elite. Rumah itu milik seorang Content Creator terkenal, sebut saja Cika, yang sedang naik daun dan kerap memamerkan gaya hidup glamor di media sosial.
Begitu Jono menekan bel dan membuka pintu pagar setelah dipersilakan lewat interkom, ia mendapati suasana yang kontras secara ekstrem. Di dalam ruang tamu yang megah berlapis marmer, Cika sedang terduduk di lantai sambil memeluk lututnya, menangis histeris di depan sebuah ring light dan kamera ponsel yang masih menyala. Layar ponsel itu menunjukkan siaran langsung dengan jumlah penonton yang mencapai belasan ribu orang.
Cika sedang meratap hancur-hancuran, wajahnya berantakan penuh air mata dan luntur maskara, karena baru saja diserang gelombang komentar jahat dari netizen yang menuduhnya memamerkan kekayaan palsu.
"Kalian semua jahat! Kalian nggak tahu betapa beratnya beban mental jadi orang kaya kayak gini?!" teriak Cika ke arah kamera sambil terisak tersedu-sedu, dadanya naik turun menahan kepedihan batin.
Jono yang berdiri di ambang pintu menenteng kardus paket langsung tertegun bingung. Sebagai manusia yang hidupnya tenang dengan prinsip merasa cukup, pemandangan tangis histeris gara-gara komentar warganet itu terasa bagaikan tontonan dari planet lain. Saking bingungnya, Jono bahkan tidak menyadari bahwa posisinya saat itu tepat berada dalam sorotan lensa kamera siaran langsung.
Tanpa canggung, Jono melangkah masuk mendekati gadis itu, meletakkan paketnya di atas karpet bulu halus, lalu dengan polosnya menepuk-nepuk pundak Cika pelan. Seperti seorang bapak yang sedang menenangkan anaknya yang jatuh dari sepeda.
"Nak... kenapa nangis bombay begini? Istigfar… dunia ini belum kiamat, kok," kata Jono dengan suaranya yang santai dan hangat.
Cika mendongak kaget, air matanya menetes deras. "Bapak nggak mengerti! Reputasi saya hancur! Saya dituduh pembohong sama ribuan orang!"
Alih-alih panik tersorot kamera, Jono justru tersenyum ramah. Ia mulai melontarkan wejangan kebapakan yang mengalir tenang, bagaikan obrolan santai di teras rumah saat senja menjelang. Nasihatnya sama sekali tidak menggurui atau menghakimi, melainkan memberikan ruang yang luas bagi Cika untuk bernapas dan berpikir sendiri.
"Begini Nak..." ujar Jono dengan nada lembut sambil melipat tangan di depan dada. "Kenapa harus pusing memikirkan omongan orang yang bahkan tidak tahu alamat rumahmu? Orang-orang di dalam HP itu kan cuma melihat kilau luarnya saja, tidak tahu lelahnya di dalam hatimu. Kalau kamu sibuk memuaskan standar orang banyak, kepalamu akan pecah duluan sebelum cicilan rumah ini lunas."
Cika tertegun, tangis sesenggukannya mulai mereda perlahan. Ribuan penonton di live chat mendadak ikut terdiam, dan kolom komentar yang tadinya berisi kalimat hujatan kini berubah menjadi sunyi setelah menyimak suara kurir berkaus dekil.
"Hidup itu sederhana, Nak," lanjut Jono sambil tersenyum bijak. "Selama apa yang kita makan halal, badan sehat, dan malamnya bisa tidur nyenyak tanpa digerebek penagih utang, ya sudah… itu artinya hidup kita sudah cukup. Jangan jadikan layar HP itu sebagai hakim yang menentukan harga diri kita. Kalau dibilang kaya, aminkan. Kalau dibilang miskin, ya senyum saja. Toh, pamer kekayaan itu melelahkan, tapi kalau pura-pura miskin juga repot harus akting terus. Jalani saja yang wajar-wajar."
Melihat tangisan Cika perlahan berhenti meskipun ia masih tampak sesenggukan menatap kosong, Jono teringat isi paket yang harus ia serahkan.
"Oh ya, Nak... ini paketnya saya antarkan sesuai tugas," kata Jono sambil menunjuk kardus di lantai. "Isinya alat pijat getar otomatis pesanan kamu. Biar saya unboxing sebentar ya, buat memastikan barangnya tidak rusak di jalan akibat guncangan atau keteledoran kurir pengiriman."
Tanpa menunggu persetujuan, Jono membuka kardus tersebut, mengeluarkan alat pijat elektrik berbentuk sabuk leher, lalu langsung melingkarkannya ke lehernya sendiri.