Setelah kemarin selangkangannya sempat melepuh akibat tersiram Hot Americano, telapak kakinya nyaris kapalan karena keseringan mendorong motor bebek tua yang mogok, dan mendadak dinobatkan sebagai ‘Mas-Mas Cukup’ yang viral di seluruh linimasa media sosial, semesta tampaknya mendadak merasa bersalah yang teramat sangat kepada Jono. Hari-hari berikutnya, roda nasib Jono berputar seratus delapan puluh derajat ke atas dengan kecepatan tinggi yang sanggup membuat jantung siapa saja berdegup kencang.
Semua keajaiban itu bermula tepat pukul 10.00 pagi. Jono mendapatkan tugas pengiriman logistik dengan tingkat kesulitan tinggi: mengantar paket berukuran raksasa ke sebuah gedung pencakar langit super mewah di kawasan segitiga emas Sudirman.
Penerima paket tersebut adalah seorang kurator seni kontemporer internasional berdarah campuran asing-Sunda bernama Pierre Sutrisna. Paket raksasa yang diantar Jono itu ternyata berisi sebuah karya instalasi seni mahal berupa jajaran bambu rapuh dan kaleng-kaleng bekas berkarat, yang nilai taksir di pasar lelang seni mencapai ratusan juta rupiah.
Begitu Jono tiba di lobi gedung dan berusaha menurunkan paket raksasa tersebut dari jok belakang motor bebeknya, bencana kecil terjadi. Tali karet ban pengikat yang sudah melar mendadak terlepas tanpa peringatan.
BRAKKK!
Kotak pembungkus terbuka, dan instalasi seni mahal itu tumpah ruah berserakan di atas lantai marmer lobi gedung yang mengilap.
Jono yang panik setengah mati langsung refleks menggunakan naluri darurat kurir jalanannya. Demi menyelamatkan barang agar tidak hancur lebur, ia berlutut dan memungut kaleng-kaleng bekas serta potongan bambu itu dengan terburu-buru. Tanpa sempat berpikir panjang, ia menyusunnya kembali secara asal-asalan dalam formasi melingkar. Dan karena sialnya tali pengikat putus, Jono tanpa sengaja menggunakan sandal jepit Swallow miliknya yang berpeniti, yang kebetulan siang itu sedang lepas lagi di bagian tali jepitnya, sebagai pengganjal di bagian dasar instalasi agar posisinya bisa berdiri seimbang.
Tepat di detik yang sama, Pierre Sutrisna bersama rombongan investor asing berjas rapi keluar dari lift privat. Langkah mereka terhenti seketika ketika melihat susunan kaleng dan bambu yang kini tampak berantakan, dengan sebuah sandal jepit jompo berpeniti terpampang nyata di bagian tengahnya.
Pierre Sutrisna menutup mulutnya dengan kedua tangan. Mata lelaki nyentrik berambut perak itu berkaca-kaca penuh haru biru, seolah sedang menyaksikan mukjizat terbesar abad ini.
"Mon Dieu... Magnifique! Luar biasa!" teriak Pierre histeris dengan kombinasi aksen Prancis yang medok bercampur kental dengan logat Pameungpeuk. Ia bertepuk tangan seorang diri di tengah lobi. "Inilah dia! Karya seni sejati! Ini adalah bentuk dekonstruksi murni terhadap kapitalisme perkotaan yang dingin! Lihatlah bagaimana sandal jepit usang yang berpeniti itu melambangkan fondasi kaum proletar yang menopang seluruh beban konsumerisme kelompok elite! Mas Kurir... Oh, mon dieu! Anda bukan sekadar pengantar paket, Anda adalah seorang seniman jenius dekonstruktif!"
Jono yang masih berlutut di lantai marmer langsung mendongak, melongo dengan mulut terbuka lebar hingga air liurnya hampir menetes ke lantai.