KAU BILANG MISKIN, KU BILANG CUKUP

Aga Lesmana
Chapter #18

BAB 18: Komedi Sombong Tingkat RT

Matahari siang itu bersinar terik, membakar atap-atap petak kontrakan hingga mengeluarkan bunyi letupan kecil akibat pemuaian. Namun, teriknya cuaca ibu kota sama sekali tidak menyurutkan suhu keangkuhan yang sedang melanda Jono.

Karena kelelahan luar biasa setelah seharian mabuk kepayang akibat rezeki nomplok hari kemarin, aksi pamer perdana itu baru bisa terlaksana secara penuh pada hari berikutnya.

Jono yang biasanya melangkah dengan pundak merosot, punggung sedikit membungkuk, dan senyuman ramah khas pekerja lapangan, kini menjelma menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Ia berjalan di sepanjang jalan gang sempit dengan dada yang membusung kuat-kuat. Dagunya terangkat mendongak empat puluh lima derajat ke atas, menatap angkuh ke arah langit seolah-olah awan di atas sana adalah bawahannya.

Yang paling mencolok, gepokan uang kertas sepuluh juta rupiah hasil penjualan instalasi sandal jepit itu tidak ia simpan di dalam dompet atau tas. Jono sengaja mengikat ikatan tebal tersebut menggunakan karet gelang merah yang tebal, lalu menyelipkannya secara vulgar di balik ikat pinggang celananya di bagian depan. Dengan niat agar semua orang, dari tukang sayur keliling hingga ketua RT setempat, bisa menyaksikan fajar menyingsing di kantong kurirnya.

Plak-plak! Plak-plak!

Suara tepukan amplop tebal menghantam telapak tangan terdengar membahana di depan halaman petak kontrakan tepat saat jam makan siang tiba.

"Togar! Keluar kamu, anak muda!" teriak Jono dengan suara bariton yang sengaja dibuat-buat membahana, menyerupai bos mafia kawasan pelabuhan.

Togar yang baru saja keluar dari kamar dengan muka kuyu menahan lapar akibat belum sarapan, terlonjak kaget. Sebelum ia sempat protes, Jono langsung menarik gepokan uang dari ikat pinggangnya, lalu mengibaskan lembaran uang seratus ribuan itu tepat di depan wajah Togar hingga mengeluarkan bunyi plak-plak-plak yang renyah.

"Hari ini, Masmu yang baik hati ini bukan lagi Jono si kurir paket dekil!" seru Jono dengan senyuman miring penuh percaya diri, selayaknya konglomerat kesasar. "Mulai detik ini, panggil aku dengan sebutan terhormat... Jono sang kolektor Swallow! Sudahi penderitaanmu makan nasi aking dan mi instan belah dua, Togar! Ayo, kita kosongkan warteg Mak Enok di tikungan gang sekarang juga! Aku mau beli semua lauknya! Ayam goreng, rendang sapi, kikil tebal, sampai tabung gas wartegnya kalau perlu akan ku bayar kontan detik ini juga!"

Togar yang melihat pemandangan itu langsung melongo, matanya berbinar-binar bagaikan melihat air di tengah padang pasir. "Wah... gila! Mas Jono kesambet jin dari mana ini?! Mantap jiwa, Bosku! Sikat habis, Mas!"

Tak butuh waktu lama, Jono pada siang itu resmi bermetamorfosis menjadi monster kapitalis berskala mikro. Dengan langkah tegap menyerupai jenderal perang, ia menggandeng Togar menuju warteg Mak Enok yang terletak di tikungan gang.

Begitu sampai di dalam warteg yang sempit, Jono tidak lagi mengambil piring standar. Ia mengambil dua piring sekaligus, menumpuk nasi putih hingga menggunung tinggi, lalu menyendok segala jenis lauk pauk yang tersedia di etalase kaca tanpa bertanya harganya lagi. Piring pertamanya penuh dengan rendang dan babat, sementara piring keduanya diisi dengan ayam goreng utuh berselimut serundeng.

"Mak Enok!" panggil Jono dengan suara menggelegar, melempar beberapa lembar uang seratus ribuan ke atas meja etalase. "Hitung semua makanan di warung ini! Hari ini rakyat jelata di gang ini tidak boleh ada yang makan susah!"

Tidak berhenti sampai di situ, kegilaan Jono semakin menjadi-jadi ketika melihat beberapa tetangga gang lewat di depan warteg. Setiap kali ada orang yang melintas, Jono akan berdiri dari kursinya, melambaikan tangan dengan gaya pengusaha properti sukses, lalu berteriak lantang, "Heh, Pak Min! Jangan cuma lewat! Masuk sini, ambil paha ayam goreng yang paling besar! Aku yang bayar hari ini! Dan kamu, Mang Ujang, jangan coba-coba ambil tempe orek! Hari ini haram hukumnya makan tempe! Tempe itu adalah makanan Jono di masa lalu yang penuh air mata! Hari ini kita semua makan daging, kawan! Daging sapi impor!" teriak Jono membahana, membuat warga gang berkerumun keheranan.

Di atas kursi plastik warteg yang reyot itu, Jono merasa tengah memegang kendali mutlak atas poros perputaran dunia. Ia merasa dihormati, disembah layaknya pahlawan lokal, dan menjadi pusat dari segala gravitasi semesta di kawasan pemukiman padat tersebut. Kesombongan yang selama ini terkunci rapat di balik kesederhanaan hidupnya kini tumpah ruah, meluap-luap tak terkendali.

Sifat sombong tingkat RT itu pun segera memakan korban siapa saja yang berada di sekitar Jono.

Selesai makan dengan porsi barbar, Jono berjalan keluar sambil menyenggol-nyenggol tusuk gigi di mulutnya. Di dekat pangkalan ojek, ia melihat seorang tukang becak tua yang sedang duduk termangu menatap ban kempes. Dengan lagak seorang mentor bisnis internasional, Jono langsung menepuk pundak tukang becak itu.

"Makanya, Pak. Hidup itu jangan cuma digowes pakai dengkul," ceramah Jono dengan nada menggurui luar biasa. "Belajar tuh investasi reksa dana saham berjangka, main kripto, atau minimal diversifikasi aset portofolio. Kalau Bapak cuma mengandalkan keringat menarik becak sampai kiamat, ya nasibnya bakal mangkrak terus kayak ban becak bocor itu!"

Si tukang becak hanya mengerjap-ngerjap bingung, memegang pecinya sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal, tidak paham apa yang sedang diucapkan oleh kurir dekil kesurupan harta.

Belum cukup sampai di situ, langkah Jono terhenti di sebuah minimarket. Ia melihat seorang tukang parkir sedang meniup peluitnya dengan nada yang agak sumbang dan lambat. Tanpa rasa sungkan, Jono langsung melotot dan menegur tukang parkir tersebut di hadapan umum.

"Hei, Mas Parkir! Tiupan peluitmu itu kurang merdu! Nada tingginya fals, ritmenya tidak ada groove-nya sama sekali! Kalau mau jadi pengatur lalu lintas kelas kakap, belajar estetikanya! Nih, kubayar jasa buat kamu latihan vokal minggu depan!" ujar Jono sambil melemparkan uang pecahan sepuluh ribuan ke dalam ember parkir dengan gaya melempar koin ke pengemis.

Ego Jono terus membubung tinggi, melesat menembus angkasa, melewati genteng-genteng petak kontrakannya yang bocor. Bocor yang kini seolah sedang menertawakan tingkah konyol sang penghuni dari atas sana, ditiup oleh embusan angin kering kota Jakarta yang angkuh dan memabukkan.

Jono lupa, bahwa pohon yang tumbuh terlalu tinggi dengan akar yang mendadak rapuh oleh kesombongan, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk dirobohkan oleh angin ribut pertama yang datang menyapa.

 

*****

 

Lihat selengkapnya