Pepatah lama yang sering diucapkan para orang tua di kampung halaman memang tidak pernah meleset: harta haram atau uang panas yang datang tanpa keringat lelah tidak akan pernah membawa ketenangan. Kebahagiaan palsu yang dirasakan Jono sore tadi ternyata tidak sanggup bertahan hingga malam benar-benar memeluk petak kontrakannya.
Sepanjang sisa hari itu, setelah makan mewah dan memborong ayam geprek, Jono kembali melanjutkan tugas pengantaran paketnya. Namun, ada yang berubah secara drastis dari etos kerjanya. Jono mengerjakannya secara asal-asalan, serba sembarangan, dan sekadar gugur kewajiban. Tidak ada lagi ketelitian memeriksa alamat, tidak ada lagi senyuman ramah kepada pelanggan, dan sama sekali tidak ada niat memberikan hasil kerja terbaik.
Rasa aman semu telah meracuni kepalanya. Jono merasa dengan sisa uang delapan juta rupiah lebih di tangan, hidupnya sudah berada di atas angin dan ia tidak perlu lagi bersusah payah memikirkan tanggung jawab atau kualitas kerjanya. Uang itu telah mengubah cara pandangnya terhadap arti sebuah kerja keras.
Malam semakin larut ketika Jono akhirnya pulang ke petak kontrakannya dengan langkah gontai.
Baru saja ia berniat merebahkan punggungnya yang lelah di atas kasur busa tipis yang sudah amblas di tengah, matanya menangkap bungkusan amplop cokelat berisi sisa uang delapan juta sekian yang tergeletak begitu saja di atas meja kayu yang sudah reyot dan hampir rubuh.
Seketika itu juga, alih-alih merasa tenang, gelombang kecemasan luar biasa menghantam batin Jono. Penyakit baru yang belum pernah ia derita seumur hidupnya mendadak menyerang sekujur tubuhnya: penyakit takut kehilangan.
Aduh... kalau malam ini tiba-tiba ada maling profesional masuk lewat atap bagaimana? tanyanya dalam hati, mulai dilanda kepanikan akut. Pintu kontrakan kan cuma kayu tipis yang gampang dicongkel. Kalau ditendang pakai sedikit tenaga dalam atau sekadar kekuatan cinta saja, dijamin akan langsung jebol!
Pikiran Jono langsung kalut, melayang ke skenario-skenario kriminal paling mengerikan yang pernah ia tonton di televisi.
Ia mulai berputar-putar di dalam kontrakan sempit itu, mencari tempat persembunyian paling aman untuk gelimang sisa uangnya.
Percobaan pertama: Jono membuka rice cooker usang di sudut dapur yang biasa dipakai menanak nasi. Ia memasukkan amplop uang itu ke dalamnya, lalu menatapnya ragu-ragu. Wah, gawat kalau nanti nasinya malah ikut beraroma uang kertas, bisa-bisa kami sekeluarga keracunan bau tinta bank, pikir Jono sambil mengambilnya kembali.
Percobaan kedua: Jono mencoba menyelipkan amplop tebal itu ke dalam celana dalamnya yang bergambar SpongeBob, yang kebetulan karetnya sudah longgar dan robek seperempat di bagian samping. Namun saat mencoba dipakai berjalan, rasanya mengganjal luar biasa, membuat selangkangannya gatal-gatal dan terasa sangat tidak nyaman. Bisa-bisa aku dikira kelainan sambil bawa gepokan uang di dalam celana, gerutu hatinya panik.
Akhirnya, setelah melalui perdebatan batin yang melelahkan, Jono memutuskan jalan keluar paling ekstrem: ia memeluk erat amplop berisi uang itu di dalam balutan sarungnya, siap terjaga semalaman penuh tanpa memejamkan mata sedikitpun.
Suasana malam itu berubah menjadi teror psikologis yang menyiksa.
Setiap kali ada suara sekecil apa pun di luar. Entah itu suara tikus got yang sedang berkejaran, kucing mangkal yang bertengkar di atas asbes, atau angin malam yang mendesing dari celah atap, Jono akan langsung melompat kaget dari posisinya. Ia bangkit berdiri sambil memegang sebatang sapu lidi di tangan kanan, matanya melotot tajam ke arah kegelapan.