Ketika fajar mulai menyibak tirai kelam malam dan mengubah warna langit dari biru tua menjadi jingga kemerahan, Jono melangkah keluar dari pintu petak kontrakannya dengan kondisi fisik yang mengenaskan. Kantung mata hitam pekat menggantung di bawah kedua kelopak matanya, membuat kurir jalanan itu kini tampak mirip sekali dengan seekor panda peliharaan di kebun binatang ragunan. Sekujur tubuhnya terasa kaku, pegal-pegal, dan remuk redam akibat selama semalaman suntuk ia tidur dalam posisi kaku tanpa bergerak demi menjaga amplop uang di pelukannya agar tidak direbut bayangan sendiri.
Di teras depan, di antara sisa-sisa embun pagi yang menempel di daun talas liar, Hilda sudah tampak sibuk. Perempuan sabar itu sedang berjongkok meniup-niup ranting dan daun kering di dalam sebuah kaleng biskuit bekas Khong Guan yang dialihfungsikan menjadi kompor darurat. Tabung gas di dapur kecil mereka ternyata sudah habis sejak semalam dan belum sempat dibeli. Hilda sengaja melakukan aktivitas memasak itu di teras agar asap tebalnya tidak memenuhi ruangan kontrakan sempit tempat anak mereka tidur. Wajahnya tampak begitu damai, tenang, dan ikhlas, meskipun angin pagi yang meniup asap pembakaran darurat itu membuat matanya agak perih dan berair.
Tak lama kemudian, Andika berlari kecil keluar menghampiri ibunya. Bocah kecil itu memeluk botol plastik bekas air mineral kesayangannya seperti biasa, tertawa riang menyambut hangatnya sinar matahari pagi yang menerobos celah-celah gang.
Jono yang berdiri di ambang pintu seketika tertegun membatu.
Ia menunduk, memandangi segepok uang sisa di tangannya, lalu mengangkat wajahnya untuk memandangi tawa polos anak dan istrinya yang tengah bermandikan cahaya pagi. Seketika itu juga, sebuah tamparan batin yang begitu keras, telak, dan menyayat kesadaran mendarat tepat di dada kurus Jono.
Ya Allah... bisik Jono dalam hati, suaranya tercekat di tenggorokan. Kemarin aku miskin, motorku mogok di tengah jalan, dan aku harus mendorongnya sambil tertawa lepas tanpa beban. Tapi tadi malam, saat aku mendekap uang delapan juta rupiah di dada, aku justru tersiksa hebat, tidak bisa tidur, dan gemetar ketakutan setengah mati. Aku baru sadar... aku telah berubah menjadi seorang kaya yang benar-benar miskin jiwa.
Tanpa membuang waktu semenit pun, Jono berjalan mendekati Hilda yang masih berjongkok di dekat kaleng biskuit. Dengan gerakan mantap, ia menyerahkan seluruh amplop berisi sisa uang tersebut ke tangan istrinya.
"Bu... ini, pegang semuanya," kata Jono dengan nada suara yang bergetar lembut, sarat akan penyesalan dan kelegaan yang bersatu padu. "Segera belikan gas yang baru beserta cadangannya, beli bahan makanan yang segar untuk beberapa hari ke depan, belikan kasur busa baru yang bagian tengahnya tidak amblas, dan sisanya... tolong simpan di tabungan untuk biaya sekolah si dedek nanti."
Hilda yang sedang khidmat meniup api kecil yang nyaris padam sontak terkesiap kaget. Tanpa ada angin atau pertanda apa pun, segepok uang tunai dalam amplop cokelat itu tiba-tiba mendarat di atas telapak tangannya. Waktu seolah berhenti berputar untuk sesaat.
Hilda mendongak, menatap suaminya dengan mata berbinar. Tangannya bergetar kecil menahan beban bungkusan uang tersebut, sementara pikirannya sempat bertanya-tanya apakah ini rezeki nomplok yang berkah atau justru awal dari petaka baru. Namun begitu ia menatap manik mata Jono yang basah oleh kejujuran, wanita itu langsung tersenyum manis. Ia sudah mengerti sepenuhnya apa yang berkecamuk di kepala suaminya.
"Bapak tidak menyisihkan buat pegangan jajan di jalan?" tanya Hilda lembut, menguji ketulusan suaminya.
Jono tersenyum, lalu melepaskan tawa renyahnya yang asli. Tawa yang sempat hilang direbut kesombongan. Kini ia kembali menggema, memecah kabut tipis ibu kota yang menggantung di udara pagi. Jono kemudian membungkuk didekat rak sandal, mengambil sepasang sandal jepit Swallow baru berwarna hijau terang yang dibelinya kemarin sore. Sandal tanpa peniti yang dibeli dengan niat pamer kembali namun kini bermakna lain, lalu mengenakannya di kedua kakinya dengan mantap.
"Tidak perlu, Bu. Harta yang sebenarnya bukan yang ada di genggaman tanganku, tapi yang ada di dalam ketenangan rumah ini," ucap Jono tulus.
Hilda merangkul pundak suaminya sejenak, menyalurkan kehangatan yang meredakan badai di kepala Jono. Jangan biarkan lembaran kertas ini merusak ketenangan jiwa suamiku, batin Hilda, kalimat rangkulan batin yang sangat dipahami oleh Jono tanpa perlu diucapkan panjang lebar. Kalimat itu akhirnya menjadi benteng tegak yang menyelamatkan Jono dari kegilaan permanen sebelum matahari benar-benar sempurna terbit di ufuk timur.
Di saat bersamaan, ingatan Jono tiba-tiba melayang kembali pada perkataan polos Andika sore lalu, kalimat yang sempat ia abaikan karena tertutup kabut angkuh.
Bapak... hari ini capek banget, ya? Sandal jepit yang biasanya Bapak pakai kok sampai dibeli orang mahal sepuluh juta? Kalau sandalnya sudah dijual ke orang kaya, nanti Bapak pergi kerjanya pakai apa dong?
Barulah Jono tersadar sepenuhnya. Bagi seorang anak kecil, kehadiran, pelukan, dan kesehatan ayahnya jauh lebih berharga daripada amplop tebal berisi uang kaget yang hampir merusak akal sehat.
Betapa benar dunia ini hanyalah sebuah tipu daya yang menyelimuti mata manusia. Otak manusia memang sering kali hanya sibuk mencari kesenangan sesaat di hari ini, seraya menutup mata rapat-rapat dari jurang masa depan. Memang begitulah adanya tabiat manusia jika tidak dijaga oleh akal budi.
Setelah matahari pagi naik dan Jono selesai bersiap untuk berangkat bekerja, ia menoleh ke arah ambang pintu kontrakan. Di sana, Togar baru saja terbangun dari tidurnya. Sepupu Jono itu terlihat menguap lebar seluas-luasnya sambil mengucek-ngucek matanya yang masih lengket dibalut sisa kantuk.
"Togar... ke mari sebentar, duduk di sini. Dengar baik-baik nasihat dari Masmu yang baru saja lulus magang jadi orang kaya gadungan semalam," panggil Jono dengan nada serius namun hangat.
Togar mengerjap-nerjap bingung, duduk di ambang pintu sambil menggaruk rambutnya yang berantakan. Meskipun masih berada di antara batas sadar dan tidur, Togar tahu betul bahwa setiap kali Jono bernada seperti ini, ia selalu ketiban jatah petuah hidup yang mahal harganya.
“Aku baru sadar, Gar," kata Jono memulai ceramahnya dengan tatapan menerawang ke jalan gang. "Rezeki nomplok itu, kalau tidak dibarengi dengan kesiapan hati dan mental yang matang, bukan berubah jadi berkah, melainkan jadi penyakit jiwa yang mematikan. Kemarin aku pegang uang banyak, tapi kepalaku langsung mendongak, merasa diri ini lebih tinggi dan mulia dari orang lain. Aku sombong di warteg Mak Enok, menghina tahu dan tempe yang sudah membesarkanku, dan puncaknya... aku malah tidak bisa tidur semalaman karena paranoid setengah mati, takut miskin lagi dan takut dirampok maling."