Ketenangan kampung Jono yang biasa dihuni oleh suara kicauan burung dan deru motor butut mendadak terusik. Sebuah rombongan besar datang dengan truk penuh peralatan canggih, lampu sorot raksasa, dan kru yang sibuk berlarian kesana-kemari. Mereka adalah tim dari reality show berjudul "MENANGISLAH BERSAMA KAMI", sebuah acara televisi yang berkedok sosiologi, padahal misinya hanyalah memburu "orang miskin untuk disantuni dan kemudian ditangisi" demi mendongkrak rating.
Togar yang otaknya sudah terkena virus "kreativitas kebablasan," adalah orang yang mendaftarkan keluarga Jono tanpa izin demi mengejar komisi. Dan sialnya, Jono langsung terpilih. Rumah kontrakannya yang reyot dianggap "sangat representatif". Tak puas dengan kondisi aslinya, Togar bahkan berinisiatif "memperindah" penderitaan dengan mencabut tanaman di pot dan menyebarkan tanahnya secara berantakan agar terlihat lebih kumuh.
Kru TV datang lengkap dengan seorang produser wanita yang membawa seplastik bawang bombay di dalam mobilnya. "Untuk cadangan," bisiknya pada asisten, "kalau subjeknya susah menangis, kita suruh mereka mengupas ini di depan kamera sampai air matanya keluar."
Kegilaan itu dimulai saat sutradara memerintahkan Jono untuk berakting sedih. "Pak Jono, tolong tatap langit-langit rumah, bayangkan Anda tidak punya masa depan, ingat semua utang Anda, dan menangislah. Kami butuh empati penonton!" perintah sutradara.
Jono bukannya bersedih, malah menatap lampu sorot dan kru yang wara-wiri dengan wajah bingung, lalu tertawa terbahak-bahak. "Lha, Mbak… saya disuruh lihat langit-langit, tapi yang saya lihat malah sarang laba-laba yang sepertinya sudah saya bersihkan kemarin! Apa yang ditangisi? Yang ada saya mau memarahi laba-labanya saja?"
Tawa Jono yang renyah dan jujur membuat suasana menjadi kacau. Sutradara mengulang adegan. Kali ini ia meminta Jono berpose miring agar tubuh kurus kerempengnya terlihat lebih iba. Namun, Jono justru sibuk membantu kru yang memasang lampu. "Eh, Mas, itu kabelnya ditaruh di situ bisa bikin kesandung, lho! Sini, biar saya bantu pegang yang ini!" serunya sambil mengalihkan perhatian, lalu malah mengajak kameramen untuk menikmati kopi buatan Hilda yang masih hangat.
Puncaknya, presenter yang ahli mendramatisir suasana menghampiri Jono dengan tatapan sedih yang dibuat-buat. "Pak Jono... lihat anak Anda, mainannya cuma botol plastik bekas... tidakkah Anda merasa gagal sebagai seorang ayah?"
Di balik kamera, produser TV memberi kode keras pada presenter untuk menekan Jono lebih dalam. Namun, Andika justru menatap kamera dengan mata jernih. Bocah itu sama sekali tidak merasa minder. Sekolahnya telah mendidiknya untuk jujur. Dengan riang, Andika menghampiri lensa kamera besar itu, lalu meniup lubang botol plastiknya hingga menghasilkan bunyi ‘wuuusss’ yang nyaring dan aneh, membuat para kru kebingungan.
Jono yang melihat itu ikut tertawa sampai terbatuk-batuk, melepaskan kelegaan yang luar biasa. Ia mengambil botol dari tangan Andika, meniupnya, dan mereka pun tertawa bersama. Jono kemudian menatap tajam ke lensa kamera.
"Mbak, botol ini gratis, dan anak saya tertawa. Mbak beli mainan impor mahal di mal, tapi anak Mbak malah kecanduan handphone sampai ngamuk-ngamuk kalau keinginannya tidak dituruti," kata Jono teduh. "Yang gagal ini siapa? Uang seratus juta Mbak itu gede, tapi kalau saya ambil, besok saya bingung mau beli apa lagi karena akan banyak keinginan yang muncul ketika manusia menjadi serakah. Doa saya cuma satu: minta dicukupkan. Kalau dikasih lebih, saya takut jadi resek seperti kalian, sibuk mencari orang susah demi mengejar rating."
Produser yang wajahnya sudah merah padam menahan dongkol langsung menerobos masuk. Ia menggenggam gulungan kertas tebal, siap menghantam jika Jono kembali membangkang. "Pak Jono, tolong kerja samanya! Anda ini miskin! Saya dengar Anda sering makan satu telur dibagi tiga, bahkan kerupuk kecap saja dianggap lauk! Anda tidak punya masa depan!"
Jono hanya tersenyum tipis, kalem seperti air tenang. "Menderita bagaimana, Mbak? Satu telur dibagi tiga itu seni berbagi namanya. Anak saya sehat, istri saya tersenyum, dan malam ini kami bisa tidur tenang tanpa perlu obat penenang seperti orang-orang kota di dalam mobil ber-AC itu. Mbak bilang saya miskin? Silakan. Bagi saya, apa yang ada di kantong kami... sudah sangat cukup. Kamera Mbak tidak akan cukup besar untuk merekam rasa syukur saya."