KAU BILANG MISKIN, KU BILANG CUKUP

Aga Lesmana
Chapter #22

BAB 22: Catatan Filosofis Jono

Acara televisi berkedok sosiologi bertajuk "Menangislah Bersama Kami" itu akhirnya berakhir menjadi sebuah bencana besar bagi stasiun penyiaran, namun justru menjadi tontonan kultus yang melegenda di dunia maya.

Jono tentu saja didiskualifikasi secara tidak hormat karena dianggap gagal total membawakan karakter orang miskin yang menderita. Ia tertawa terlalu bahagia di depan kamera, menghancurkan seluruh skenario air mata yang telah disiapkan ibu produser. Togar sempat lemas terduduk di lantai ketika impian mendapatkan uang instan lenyap seketika, namun rasa kecewa itu lekas menguap. Ia telah mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, mengenakan baju keberanian yang dipupuk dari keteguhan sepupunya selama hari-hari penuh badai kemarin.

Namun, di luar dugaan siapa pun, kegagalan siaran langsung itu justru viral dan berbalik menjadi fenomena sosial yang masif. Rekaman saat Jono tertawa bersama Andika, meniup botol plastik, dan menolak uang seratus juta rupiah ditonton jutaan kali di berbagai platform digital.

Orang-orang ternyata sudah terlalu muak dan jenuh dengan konten kemiskinan yang diatur dan dipalsukan demi mendulang air mata penonton. Rekaman gagal itu justru menyuguhkan sisi manusiawi yang apa adanya, mentah, jujur, dan menghunjam relung nurani. Publik merasa terhubung secara emosional dengan ketulusan kaum kecil yang tidak pura-pura menderita.

Gelombang viralitas itu bahkan memancing para pengamat sosial, sosiolog, hingga ahli psikologi kampus untuk membahasnya di berbagai talkshow televisi, kolom surat kabar, dan portal berita daring. Jono, tanpa pernah ia sadari, telah menjadi simbol perlawanan terhadap budaya serba pamer di era modern.

Sore itu, ketika matahari perlahan condong ke barat dan menyapukan warna keemasan di atas atap petak kontrakan, suasana terasa begitu damai. Jono duduk bersila di teras rumahnya yang kini telah bersih dari debu perselisihan batin. Di tangannya, segelas kopi hitam buatan Hilda mengepulkan uap tipis yang beraroma harum menggugah selera.

Di sampingnya, Andika sibuk berlari riang gembira sambil meniup mainannya, menciptakan bunyi melengking yang disambut tawa renyah bagi yang mendengarkan. Sementara Hilda duduk tenang di kursi kayu pendek, menemani suami dan anaknya sambil sesekali mengunyah kerupuk putih renyah yang baru saja ia beli di warung kelontong ujung gang, sepaket dengan belanjaan kebutuhan dapur untuk persediaan seminggu ke depan.

Sudah sangat lama Jono tidak meluangkan waktu sore yang tenang bersama keluarga kecilnya di luar rumah tanpa dibebani kecemasan atau pikiran tentang hari esok. Melihat kehangatan sederhana itu, sebuah dorongan hangat bersemayam di dadanya.

"Ibu… Nak... ayo, kita jalan-jalan sore sebentar. Nikmati angin senja di luar, sudah lama kita tidak berjalan santai sekeluarga," ajak Jono dengan mata berbinar cerah.

Hilda tersenyum lembut, merapikan ikatan rambutnya, lalu menggandeng tangan kecil Andika. Mereka bertiga melangkah keluar menyusuri jalan gang kecil, menembus keramaian jalan raya kota Jakarta yang selalu sibuk tanpa jeda.

Sesampainya di trotoar jalan raya utama, kontras kehidupan tersaji dengan begitu telak di depan mata mereka. Di aspal yang membentang luas, deretan mobil-mobil mewah ber-AC terjebak dalam kemacetan total jam pulang kantor. Lampu lalu lintas menyala merah berganti hijau, suara klakson bersahut-sahutan karena frustasi, dan di dalam kabin mobil-mobil berharga miliaran rupiah itu, wajah para eksekutif tampak kusut, stres, kelelahan, dan terjepit oleh beban target pekerjaan yang tidak ada habisnya.

Lihat selengkapnya