Beberapa malam berlalu begitu cepat. Suasana ingar-bingar, kehebohan acara televisi, serta sisa-sisa kepanikan akibat badai uang kaget kini telah mereda, menyisakan malam-malam yang dramatis namun dibalut keteduhan yang begitu pekat.
Di teras kontrakan yang diterangi lampu bohlam kuning remang-remang, Togar duduk merenung sendirian. Jemarinya sibuk menggulir layar ponselnya yang kini sudah bersih dari aplikasi pinjaman online, mencari ke sana ke mari lowongan pekerjaan apa saja yang sudi menerima seorang pemuda tanpa ijazah tinggi dan penuh catatan masa lalu. Sesekali ia menghela napas panjang, meresapi dinginnya angin malam yang menusuk tulang.
Tak lama kemudian, Jono keluar dari pintu kontrakan. Di tangan kanannya, ia membawa dua gelas teh manis hangat yang mengepulkan uap tipis. Bukan gelas kaca estetik atau cangkir keramik bermerek mahal yang dibeli dari mal, melainkan gelas kaca hadiah sabun colek legendaris yang permukaannya sudah agak buram dan tergores di sana-sini.
Jono duduk di samping Togar, lalu menyodorkan salah satu gelas tersebut. "Minum dulu, Gar. Jangan kebanyakan melamun nanti malam-malam malah kesambet penunggu got depan," sapa Jono santai.
Togar menerima gelas itu dengan tangan dingin. Ia menatap cairan teh yang mengepul di dalam gelas sabun colek tersebut, lalu menoleh menatap wajah Jono yang tampak begitu tenang, seolah tidak punya beban hidup sekecil apa pun. Rasa penasaran yang sudah dari lama menumpuk di dalam dadanya akhirnya tumpah juga.
"Mas..." panggil Togar pelan, suaranya terdengar ragu, "Kok bisa... Mas Jono itu tidak punya keinginan menjadi orang kaya? Apa tidak capek dihina terus sama orang-orang? Sama tetangga sebelah yang suka meremehkan, sama orang-orang kota yang memandang sebelah mata karena cuma tinggal di kontrakan jelek begini, Mas?"
Jono tidak langsung menjawab. Ia tersenyum tipis, menyeruput teh manisnya perlahan-lahan. Ia membiarkan kehangatan air teh itu merayap di tenggorokannya, menikmati ketenangan malam yang damai di dalam hatinya sebelum membuka suara.
"Gar," kata Jono memulai dengan nada suara yang begitu dalam dan mengalir tenang. "Dunia ini memang lucu kalau kamu amati cara kerjanya. Orang-orang kaya di luar sana rela bekerja keras sampai muntah darah, lembur siang malam sampai terkena tipes, semata-mata demi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk membeli 'waktu luang' di hari tua mereka nanti."
Togar menyimak, matanya menatap lekat-lekat wajah Jono di bawah temaram lampu teras.
"Coba pikirkan baik-baik," lanjut Jono sambil melirik sepupunya. "Aku sekarang ini, detik ini juga, sudah punya waktu luang yang berlimpah ruah tanpa harus kerja sampai tipes. Aku bisa main sama anakku, bisa ngobrol santai sama istriku, bisa menikmati malam tanpa memikirin cicilan mobil. Kenapa aku harus menukar waktu luang dan ketenangan jiwaku ini dengan stres, ambisi buta, dan penyakit lambung?"
Jono menoleh, menatap mata Togar lekat-lekat. "Kau bilang aku miskin karena dompetku tipis. Ku bilang aku cukup, karena aku tidak pernah menginginkan apa yang tidak perlu kumiliki. Karena kalau standar hidup diukur dari kata 'lebih', kita tidak akan pernah sampai ke garis finish. Kita akan terus berlari, merasa kurang terus, dan pada akhirnya... akan mati kelaparan di tengah meja makan yang penuh dengan makanan enak karena hati sudah terlanjur kering oleh keserakahan."
Mendengar kalimat itu, Togar merasa seolah-olah ada ribuan ton batu es yang menghantam dadanya. Sebuah tamparan batin yang begitu berat, telak, dan menyayat kesadaran. Kalimat itu menorehkan luka yang menganga pada seluruh pola pikir materialistis yang selama ini ia anut selama merantau di Jakarta.