Bab 8. Sekali lagi Tasya minta waktu untuk berpikir
Tasya sudah kembali di rumah, Tasya juga sudah membawa semua barang yang dibawa Tasya keluar rumah untuk pindah ke apartemen waktu itu. Dan ceria Tasya sudah kembali. Malam ini mereka makan bersama. Selepas makan, mereka bercerita-cerita. “Mama senang Tasya kembali ke rumah.” Ucap mama tersenyum manis ke Tasya. Papa juga berkata. “Papa juga senang, Tasya kembali ke rumah. Jangan meninggalkan rumah lagi kecuali sudah menikah, ikut suami ya....” Tasya tertawa mendengar ucapan papa dan mama.
“Tasya juga senang kok kembali ke rumah dan dekat dengan papa dan mama.” Ucap Tasya.
“Nah, kan sudah di rumah nih. Kapan mau bertemu dengan Randi? Biar kami atur waktunya.”
“Tasya minta waktu untuk berpikir dan menenangkan diri dulu ya, pa, ma.”
“Sekarang pakai batasan waktu, tidak seperti kemaren ya....” Ujar papa.
“Baiklah, Tasya minta waktu tiga bulan. Tiga bulan lagi Tasya baru mau bertemu dengan Randi. Papa dan mama boleh atur waktu bertemunya. Ya, ma, pa. Please. Ini menyangkut hal besar dalam hidup Tasya. Tolonglah ya ma, pa. Jangan ditawar. Waktunya tiga bulan.” Tasya bicara sambil mengatupkan kedua tangan seperti orang memohon ke mama dan papanya.
Papa saling pandang dengan mama. “Bagaimana ma?” Ucap papa.
“Mama menatap Tasya dan papa. “Itu terlalu lama, tapi ya, baiklah. Tidak boleh mundur ya. Tiga bulan dari sekarang berarti sekarangkan bulan Agustus, ditambah tiga bulan jadi hitungannya September, Oktober, November. Habis tiga bulannya. Satu Desember mama dan tante Nuri akan mengatur pertemuan antara Tasya dan Randi. Deal....”
“Ya, jangan tanggal satu dong, ma. Agak akhir bulan kenapa?” Tasya memasang wajah lucu dan mengangguk-anggukan kepalanya serta mengedip-kedipkan matanya.
“Tasya, tidak ada penawaran lagi. Pas segitu. Iya kan pa?” Mama minta pendapat papa.
“Ya, papa sependapat dengan mama kamu. Tidak bisa mundur lagi. Tidak enak dengan Om Broto dan Tante Nuri dan lebih parahnya takut ada cewek yang sangat nekat atau ada cewek lain yang memikat hati Randi. Nanti Tasya menyesalinya.”