“Asas-asas kenegaraan yang hanya dibangun di atas keserakahan,
maka selamanya kehidupan akan menuju kegelapan.”
Dimensi Kedua....
Revan mengerjap beberapa kali, napasnya memburu, lantas tersentak dan terbatuk-batuk. Tadi Sasti menggoyang-goyangkan badan Revan supaya bangun. Rambut Sasti kusut, bagai gumpalan benang yang baru saja terburai, wajah ovalnya tampak lega karena suaminya sudah bangun dari pingsan. Revan berbadan tegap, dengan tulang pipi agak menonjol, kini ia beringsut ke kanan, gerakannya teramat mekanis seperti robot, ia menegakkan badan secara perlahan.
Saat mencoba memfokuskan pandangan, Revan terkejut. Sebab sekeliling telah hancur. Ia berdiri terhuyung-huyung, melangkah pelan, kakinya tersaruk-saruk mencari permukaan tanah rata. Puing-puing terlihat berserakan di mana-mana, ada anak kecil laki-laki, ia segera ditarik oleh tangan ibunya, lalu mereka berlari tergopoh-gopoh. Tak terhitung berapa banyak mayat-mayat bergelimpangan, dan udara terasa sangat berat, penuh debu, pekat.
Candi Prambanan, yang berdiri gagah dan telah melalui banyak zaman, kini telah lebur berserakan. Patung Roro Jonggrang, lambang perempuan yang dikutuk jadi arca, juga telah patah jadi dua bagian, tergelimpang di tanah. Di sisi lain, Tebing Breksi runtuh, bahkan Monumen Jogja Kembali juga telah remuk redam.
“Kenapa semua ini?” Revan menatap keheranan. Karena kompleks tempat tinggalnya, yang sebelumnya masih tenang dan penuh bangunan kokoh, kini sudah bubrah tidak karuan.
“Entahlah, aku juga tak tahu,” sahut Sasti, ia berusaha memapah Revan agar berjalan lebih tegak.
“Tidak apa! Aku bisa menapak tanah dengan seimbang.”
Sasti mengangguk. “Baiklah.”
Sang pembawa pesan akan turun ke Jawa.
Kabarkan pada semua makhluk!
Mimpinya aneh selama pingsan barusan. Meski agak samar, ia masih ingat suara-suara di dalam kepalanya. Mengabarkan pada semua? Revan membatin ribut, sembari memusatkan pikiran, mencoba mengusir semua suara dan kilatan-kilatan aneh saat tadi tak sadar diri. Sekarang ia mengingat kejadian sebelum pingsan, sebab semua berlangsung amat cepat. Rasa pegal masih menggelayuti tubuhnya, bingung, dan letih.
Kamis, 15 Juli 2055, pukul delapan pagi. Semua terjadi saat Revan sedang membahas rencana berkemah dengan teman-temannya. Revan ingat, tanpa dinyana, mendadak Pulau Jawa berguncang hebat, berdegam-degam, gemuruh melanda seperti mesin gerek. Hanya dalam sekejap, semua porak-poranda.
“Terbelah! Jadi dua, jadi dua! Pulau Jawa terbelah menjadi dua!” teriak seorang pria tua.
Di dekat pria tua itu, tampak seekor kucing hitam sedang berlari, mengeong, lantas berlari lagi karena ketakutan mendengar derap langkah-langkah kaki dan suara-suara bising. Revan terkedek-kedek mendekat ke arah pria tua. Sasti berusaha mengikuti langkah sang suami. Mereka mencoba memahami keadaan.
“Ada apa? Anda bicara apa?” tanya Revan dengan raut wajah diliputi penasaran tiada tanding.
“Pulau Jawa sudah terbelah. Tadi kata tentara-tentara yang mendaratkan helikopter di alun-alun sana! Pulau Jawa hancur!” suara pria tua terdengar bergetar panik.
“Anda serius?”
“Untuk apa aku berbohong! Aku dengar sendiri mereka mengatakan kalau Jawa terbelah jadi dua!”