Dimensi kedua....
Siang itu, sepuluh kepala tertancap pada ujung bambu runcing dan dipajang di depan istana pengadilan. Aku tahu identitas sepuluh kepala di sana, salah satunya adalah ayahku. Kali ini, neraka tampaknya lebih membara dan membakar dunia, panasnya berpelukan dengan matahari. Seolah matahari menjadi dua, membuat dahaga menyergap, kering kerontang, teramat mengerikan sehingga kulitku terasa bisa melepuh dan daging di balik kulit matang. Aku mendongak, dan sekali lagi, kudapati wajah-wajah pucat pasi.
Mereka mati, dan aku di sini akan mati juga. Entah kapan. Sepuluh kepala itu sengaja ditancapkan pada sepuluh ujung bambu runcing, sengaja dipajang di depan gedung pengadilan. Ada banyak langau terbang di sekitar leher dan darah yang mulai mengering, suaranya seperti menyerbu lubang telingaku hingga berdengung keras.
Aku mengenal para korban. Pertama, kepala milik si penjual gorengan, rambutnya beruban putih, seorang pria yang hanya menghabiskan waktu dengan berjualan gorengan, dan minyak goreng yang ia gunakan untuk menggoreng warnanya selalu seperti tinta hitam legam, pekat. Kedua, adalah pria tukang leding, kepalanya besar, berambut gondrong, dan kerap mengenakan topi ketika bekerja. Ia pernah terlibat dalam kasus penipuan, dia bersama dua pemuka agama berbeda, menggelapkan dana amal. Sebelum tahun 2045, berita itu menjadi heboh, gereja, dan banyak ulama-ulama dari berbagai masjid melakukan demo besar menuntut agar kasus korupsi besar tersebut diusut tuntas.
Kepala ketiga adalah seorang remaja laki-laki pengedar koran—meski sepi pembaca, itulah keseharian pemuda tersebut, rambutnya keriting dan berwarna kemerahan. Lantas, kepala keempat adalah seorang petani padi, ia gundul, dan semasa hidup selalu berjuang merawat padi yang makin susah dan jadi bahan rebutan semenjak perang meledak. Lalu, pria kelima adalah petani gandum, ia pemilik lahan luas untuk gandum, dan selalu bermasalah dengan orang lain yang ingin mendapatkan hasil panennya, lagi pula, roti, beras, ubi, semua selalu sama sejak dahulu, jadi incaran banyak orang kelaparan. Mereka saling tusuk untuk bisa mengenyangkan perut.
Kepala yang tertancap keenam adalah tukang gali kubur, rambutnya cepak, penuh uban—ya, dia adalah ayahku. Ketujuh, ialah tukang semir sepatu, seorang bocah laki-laki sekitar sebelas tahun, berambut tipis seperti rambut jagung. Kedelapan, yang terpajang adalah kepala balita laki-laki. Lantas, ada kepala penyadap nira, kepalanya peang benggol, tidak rata, dan plontos juga. Terakhir, adalah satu-satunya wanita di antara pria lainnya, kepala pelacur berambut pirang, dahulu ia jadi rebutan banyak pria, dan badannya sangat menawan.
Setelah kami berhimpun di meja makan, ayahku mendadak kedatangan tamu. Ia diseret dari rumah kami. Aku tak tahu apa masalah awalnya, hingga seorang tentara kerajaan mengatakan kalau ayahku tahu semua tentang berkas rahasia yang disembunyikan oleh mantan presiden. Ayahku mengatakan tidak tahu, tetapi ia tetap diseret, dan dipukul berkali-kali pada tengkuk, perut, dan kaki, hingga kepalanya lemas terkelepai, terbatuk-batuk, dan hidungnya patah berdarah. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena mereka menodongkan senjata api ke arahku, dadaku berdentam-dentam, kulit dinginku meretih, seakan semua darahku beku. Ayah diseret, dan ia dipenggal kepalanya di depan mataku sendiri oleh tentara bar-bar berengsek.
Dan kini, dua tahun berlalu semenjak sepuluh kepala dipajang di depan kantor pengadilan yang licik, semena-mena, seperti sarang iblis, dan aku benci menghirup kenangan malam tersebut, atau membaui apa pun yang mengingatkanku pada aroma maupun suasana pada hari nahas tersebut. Para penduduk menamai kasus mengerikan tersebut dengan sebutan Tumbal Palawija. Harusnya ada sebelas kepala, tetapi satu dibiarkan hidup, anehnya yang dibiarkan hidup karena pekerjaannya sebagai penulis, yaitu diriku—namaku Revan.
***
Dimensi Ketiga....
Kisah ini datang dari pasien jiwa di dimensi ketiga, sebuah silangan waktu yang melintas menyentuh sel-sel otak manusia di dimensi kedua.
Datanglah mantan tentara yang kedua kakinya buntung, ia digendong istrinya. Kedua kaki pria itu hilang dari pangkal paha, tiga jari tangan kanannya juga telah lenyap, jempol telunjuk, dan jari tengah. Ia tampak sekarat. Aku melihatnya, ini bukan lagi mimpi. Negeri ini sudah kacau, penuh bau busuk, bernanah. Dan pada saat malam datang seakan purnama enggan lagi menatap, tetapi jiwa-jiwa yang masih punya semangat menggelegak tanpa ingin sirna.
Perihal mantan tentara itu, ia datang dengan membawa harapan untuk hidup. Semua sudah dirampas darinya, tetapi badan, kepala, tangan kiri, dan kemaluannya masih menyatu. Tangan kiri juga sudah terlihat amat lemah tak bertenaga. Tangan kanannya, jarinya tidak lengkap. ‘Bagaimana agar kaki saya lengkap seperti sediakala, Yang Mulia?’ tanya tentara cacat itu. Sang raja beranjak bangun, ‘Bertemu Tuhan.’ Sahut Raja.
“Lantas apa yang terjadi pada manusia malang itu, Revan?” seorang wanita berdandan necis duduk di depanku, ia menatap tajam penuh rasa penasaran. Kutahu namanya Sasti Paramita, dia katanya hendak menolongku. Memangnya ingin menolong diriku dari apa? Selama ini aku memang menderita, tetapi penderitaan itu tak akan bisa menghancurkan jiwa dan mentalku. Meski nantinya tubuhku hancur lebur, membusuk, jadi adonan caruk dengan darah sendiri, aku sudah tidak takut pada apa pun atau rasa sakit.
Aku hendak menjawab dia dengan bergurau, tetapi tampaknya ia menuntut jawaban serius. Maka aku berkata, “Memang ada dunia di mana hanya kita yang mampu memasukinya, mengatur sesuai kemauan kita. Dunia itu tanpa tepian sama sekali, teramat luas, kau bisa menyebutnya dunia khayal, luasnya seperti jagat raya ini, tak terhingga. Namun ini kisah nyata. Aku tadi mengisahkan seorang pejuang yang baru pulang bertugas dari peperangan. Ia menghadap raja lalim. Tentara buntung kaki itu ingin tubuhnya lengkap lagi, ia digendong istrinya menghadap raja di Pusat Kerajaan Negeri Santuniah. Pusat Kerajaan itu berdampingan dengan Pulau Jawa di sisi selatan, luasnya hanya secuil, karena muncul pascaledakan misterius yang membelah Pulau Pawa delapan tahun silam. Sang Raja lalim itu memindahkan kantor pemerintahan ke sana, setelah ia membunuh presiden pada 2053. Pulau itu di dekat Australia. Sang raja punya seorang Patih gagah perkasa. Ia pernah menitahkan agar Sang Patih itu membunuh sang bulan, sebab katanya sang bulan begitu pencemburu.”
“Apa itu kisah lama? Kau pernah melihatnya sendiri?” Sasti kembali melontarkan pertanyaan dengan nada lebih lembut.
“Ya. Itu kisah dari sepuluh tahun lalu, setelah presiden negeri ini mati terbunuh di tahun 2053. Kau suka kisah yang bagaimana?” kataku.
“Kisah romantis tragis dan jahat. Itu ciri khas tulisanmu, kau genius Revan.”