“Masih muda kok di rumah terus?”
Kalimat itu keluar di sela uang kembalian dihitung dan plastik belanja dilipat. Tidak diarahkan ke siapa pun. Tidak juga ditarik kembali.
“Iya,” sahut suara lain sambil memilih sabun cuci. “Sekarang lagi susah, orang-orang pada ribet.”
“Orang lain pagi-pagi udah keluar,” kata ibu yang berdiri dekat rak beras. “Ini tiap lewat kok kelihatan.”
Ibu warung menggeser timbangan. Tidak ikut bicara.
“Anak sekarang beda,” kata yang lain, setengah tertawa, setengah heran. “Katanya kerja dari rumah. Tapi ya… rumah terus.”
“Eh jangan salah,” sahut ibu dari luar pintu, tas belanja tergantung di lengan. “Sekarang kerja banyak yang nggak kelihatan.”
“Iya sih,” jawab yang lain cepat. “Tapi masa tiap hari duduknya sama.”
Plastik berdesis. Seseorang membayar. Yang lain masuk.
Kursi teras rumah ujung gang kelihatan dari pintu warung.
Masih terisi.
“Itu lagi,” kata seorang ibu sambil mengikat plastik gula.
“Yang mana?”
“Yang duduk di teras.”
Nada suaranya datar. Seperti menyebut cuaca.
“Setiap pagi aku lewat,” kata yang lain. “Jam segini juga.”
Bukan heran. Lebih seperti laporan.
“Sekarang hidup berat,” suara lain masuk, lebih panjang. “Belanja naik semua. Kalau nggak kelihatan kerja tapi rumah jalan, orang pasti mikir.”
“Iya lah.”
“Namanya juga mikir.”
Seorang ibu lewat sambil menenteng sayur.
“Itu masih di rumah?” tanyanya sambil berjalan.
“Iya.”
“Oh.”
Ia tidak berhenti.
“Kasihan juga sebenernya,” kata seseorang setelah jeda kecil.
“Kasihan siapa?”