Lampu teras menyala satu-satu.
Baju digantung asal.
Sepatu dilepas dekat pintu.
Ada yang duduk di kursi plastik.
Ada yang masih berdiri sambil membuka kancing baju.
“Capek,” kata seseorang sambil menghembuskan napas panjang.
“Iya,” sahut yang lain. “Sekarang kerja apa aja capek.”
Rokok disulut.
Api korek menyala sebentar.
“Enak ya sebenernya,” kata suara dari ujung, setengah bercanda.
“Kalau nggak harus capek-capek.”
Beberapa tertawa.
Yang lain mendengus.
“Enak apanya?”
“Ya nggak panas, nggak dikejar target.”
“Lah tapi duit dari mana?”
Kalimat itu langsung menyela.
“Ada aja,” jawab yang pertama. “Sekarang mah banyak cara.”
“Cara apaan?”
Ia mengangkat bahu.
“Yang nggak kelihatan.”
Ada yang mengangguk.
Ada yang langsung geleng kepala.
“Kalau gue sih,” kata seseorang sambil mengibaskan tangan,
“mending capek badan daripada capek pikiran.”
“Kenapa?”
“Di rumah tuh,” ia berhenti sebentar,
“diomongin.”
Beberapa tertawa pendek.
“Iya bener,” suara lain nyaut cepat.
“Diomongin istri tuh capeknya beda.”
“Kerja keluar tuh,” lanjutnya,
“bukan cuma cari duit. Cari aman.”
“Aman dari apa?”
“Dari omelan.”
Tawa muncul lagi.