Pagi belum terlalu panas.
Tika berdiri di ambang pintu, masih merapikan kancing baju.
Ayahnya sudah siap.
Topi caping dipakai miring.
Cangkul disandarkan ke bahu.
“Kebun,” katanya singkat.
“Iya,” jawab Tika.
Ayah melangkah turun dari teras.
Langkahnya pelan, tapi mantap.
Tidak menoleh.
Suaminya berdiri di dekat pintu.
Melihat ayah Tika pergi.
Tidak bicara.
Di ujung gang, dua orang berdiri sambil pura-pura menunggu motor lewat.
“Masih kuat aja ya bapaknya,” kata yang satu.
“Iya,” jawab yang lain.
“Umurnya kan udah segitu.”
“Harusnya sekarang mah istirahat.”
“Lah anaknya ada.”
Mereka menoleh sebentar ke arah rumah.
Ayah Tika berhenti sejenak di dekat pagar tetangga.
Menurunkan cangkul.
Seorang perempuan berdiri di depan rumahnya.
“Mau ke kebun lagi, Pak?” tanyanya.
“Iya,” jawab ayah Tika.
“Sendiri terus?”
Ayah Tika mengangguk.
“Emang nggak ada yang bantu?”
Nada suaranya datar, tapi matanya menilai.
Ayah Tika tersenyum tipis.
“Tubuh saya masih sehat,” katanya.
“Saya masih kuat.”
Ia menggeser capingnya.
“Paling di kebon juga cuma ngapa,” lanjutnya.
“Nggak banyak yang dikerjain.”
Perempuan itu mengangguk.
Tidak tahu harus menimpali apa.
“Ya… iya sih,” katanya akhirnya.
“Cuma ya kasihan juga.”
Ayah Tika mengangkat cangkul lagi.
Melanjutkan langkah.
Di belakangnya, suara lain menyusul.