Siang terasa berat meski matahari belum tepat di atas kepala.
Udara tidak bergerak. Suara juga tidak benar-benar pergi.
Tika duduk di ruang depan.
Plastik belanja masih di sudut meja.
Sudah dipindah dua kali. Tetap di situ.
Di teras, suaminya duduk seperti pagi.
Posisi kursi tidak berubah.
Ponsel di tangan.
Layar mati.
Dari luar pagar, suara muncul lebih dulu.
“Masih di rumah aja?”
“Iya.”
“Oh.”
Dua perempuan berdiri di depan pagar.
Tidak masuk. Tidak juga pamit.
“Jam segini biasanya orang-orang udah kelihatan capek,” kata yang satu.
“Kalau dari pagi.”
“Iya,” sahut yang lain.
“Yang kerja jelas kelihatan bedanya.”
Pandangan mereka beralih ke teras.
Tidak lama, tapi cukup.
“Suamimu sekarang ngapain?” tanya yang pertama ke arah Tika.
Nada suaranya ringan.
Terlalu ringan.
Tika berdiri di ambang pintu.
“Di rumah,” jawabnya.
“Oh.”
Nada itu turun.
Seperti sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.
“Katanya sih ada kerjaan,” lanjut yang satunya.
“Tapi kerja kan biasanya kelihatan.”
“Kelihatan gimana?” sahut yang lain.
“Ya… ada jamnya.”
“Iya,” suara dari seberang menyela.
“Kalau suami saya, jam berangkatnya kelihatan.
Jam pulangnya juga.”
Nada itu terdengar bangga, tapi tipis.
“Kalau kerja,” lanjutnya,
“istri biasanya tahu.”
“Tahu berangkat.”
“Tahu pulang.”
Kalimat terakhir dibiarkan menggantung.
Seorang perempuan lewat sambil membawa belanjaan.
“Sekarang mah yang dicari malah perempuan,” katanya sambil berjalan.
Tidak berhenti.