KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #5

Yang Ditunggu dari Kerja #5

“Kalau sore begini tuh enaknya keluar sebentar,” kata seseorang.

“Di rumah malah kepikiran.”

“Iya,” sahut yang lain.

“Keluar, ketemu orang, denger cerita.”

“Cerita juga kadang bikin tambah pusing,” kata suara lain sambil tertawa kecil.

“Tapi ya gimana.”

Tawa itu sebentar.

Tidak ada yang menimpali terlalu lama.

Beberapa ibu bergerak mendekat ke meja.

Uang masih dipegang masing-masing.

“Kalau kita yang sudah segini,” kata seorang ibu sambil duduk agak menyamping,

“badannya udah beda.”

“Iya,” sahut temannya.

“Dikit-dikit kerasa.”

“Kita mah sekarang ngandelin yang ada,” lanjutnya.

“Kalau nggak dicari, ya nggak ketemu.”

“Nyari juga nggak selalu dapet,” sahut yang lain.

“Kadang muter ke situ, balik lagi.”

Beberapa mengangguk.

Nada mereka sama: lelah.

“Ini aja,” kata seorang ibu sambil membuka dompet,

“kalau nggak dikeluarin dulu, ya nggak jalan.”

“Iya lah,” sahut yang lain.

“Mana ada yang datang sendiri.”

Kalimat itu dibiarkan lewat.

Tidak ditarik.

“Makanya,” kata suara dari belakang,

“yang masih muda harusnya lebih gampang gerak.”

Kalimat itu jatuh tanpa nada marah.

Lebih seperti perbandingan yang sudah lama disimpan.

“Kita aja begini masih mikir,” lanjutnya.

“Tenaga juga nggak kayak dulu.”

“Iya,” sahut yang lain.

“Capeknya beda.”

Beberapa orang maju menyetor.

Nama disebut satu-satu.

Lihat selengkapnya