KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #6

Kerjanya Cuma Hutang #6

“Sekarang mah kerja itu cuma buat nutup utang.”

Kalimat itu keluar sambil tangan ngitung kembalian.

Nadanya datar.

Bukan curhat.

Bukan bercanda.

“Iya,” sahut yang lain cepat.

“Kerja, gajian, bayar utang. Habis.”

“Besok ngulang lagi.”

Beberapa orang ketawa kecil.

Nggak bareng.

Kayak masing-masing ngerasa kena.

Warung kelontong itu siang hari jarang sepi.

Orang datang bergantian.

Beli sebentar.

Ngomong sebentar.

Pergi.

Tapi obrolannya nyangkut.

“Zaman sekarang siapa sih yang nggak punya utang,” kata seorang perempuan sambil ngambil minyak goreng.

“Kalau nggak utang, malah heran.”

“Utang mah biasa,” sahut yang lain.

“Yang nggak biasa itu kalau nggak bayar.”

“Nah itu,” suara dari pintu nyelip.

“Bayarnya itu.”

Bu Warung masih diem.

Tangannya sibuk ngelipet uang.

Disusun rapi.

“Kalau bank kan jelas,” kata seorang bapak sambil milih rokok.

“Cicilan ada.”

“Iya,” sahut yang lain.

“Tapi bank sekarang gampang.”

“Datang, isi kertas, cair.”

“Cairnya cepet,” suara lain nyaut.

“Bayarnya yang bikin napas pendek.”

“Iya,” perempuan lain masuk obrolan.

“Awalnya seneng.”

“Bulan ketiga baru kerasa.”

Nada mereka santai.

Kayak ngomongin hal yang udah sering dialami.

“Koperasi juga,” suara dari luar nyelip.

“Sekarang koperasi masuk kampung terus.”

“Iya.”

“Datang ke rumah malah.”

“Fotokopi KTP.”

“Langsung.”

Beberapa orang ngangguk.

“Koperasi tuh enaknya cepet,” kata yang satu.

“Nggak ribet.”

“Tapi nagihnya kelihatan,” sahut yang lain.

“Datang ke rumah.”

“Kadang pagi.”

“Kadang sore.”

“Kadang pas orang lagi nggak ada duit.”

Ketawa kecil muncul.

Bukan lucu.

Lebih ke pahit.

“Kalau bank mah,” bapak yang tadi lanjut,

“nggak kelihatan.”

“Tapi tiap bulan kepikiran.”

“Kalau nggak kuat—”

Ia berhenti sendiri.

Bu Warung akhirnya nimbrung.

“Utang mah utang aja,” katanya.

“Yang bikin ribet itu omongan.”

Beberapa orang nengok.

“Omonngan gimana, Bu?”

Bu Warung nyengir tipis.

“Gua dibilang kebanyakan utang.”

Suasana langsung agak kaku.

“Lah?”

“Bu Warung?”

“Ah masa.”

Bu Warung berhenti ngitung uang.

Narok di meja.

“Hampir bangkrut gua kemarin,” katanya datar.

“Bukan karena belanjaan mahal.”

Orang-orang mulai diem.

“Terus kenapa?” suara itu keluar pelan.

“Karena banyak yang ngutang di sini,” jawab Bu Warung.

“Bayarnya belakangan. Belakangnya kepanjangan.”

Nggak ada yang ketawa.

Lihat selengkapnya