KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #7

Kerja Nggak Bener #7

“Kerja mah kelihatan.”

Kalimat itu keluar sambil korek api dinyalakan, mati, lalu dinyalakan lagi. Api kecil menyala sebentar di ujung rokok, lalu padam. Tangannya gemetar sedikit. Bukan karena dingin. Karena capek.

“Iya,” sahut yang lain.

“Kalau kerja bener, kelihatan capeknya.”

Beberapa orang duduk di bangku panjang dekat mushola. Ada yang selonjor, ada yang jongkok, ada yang berdiri nyender ke tiang. Ini bukan ronda. Bukan janjian. Cuma kebiasaan orang-orang yang belum siap pulang ke rumah.

“Capek itu nggak bisa bohong,” kata seseorang sambil meludah ke tanah.

“Pulang tuh bau.”

“Bau apa?”

“Bau kerja,” jawabnya cepat.

Beberapa ketawa kecil.

Ketawa yang bukan lucu, tapi pengakuan.

“Baju kusut.”

“Badan lengket.”

“Pikiran kosong.”

“Kalau pulang adem terus,” suara lain nyeletuk dari pojok,

“itu bukan kerja.”

“Ah,” sahut yang lain cepat.

“Kerja sekarang kan banyak yang nggak kelihatan.”

“Iya,” jawab yang pertama.

“Tapi tetep ada bekasnya.”

“Bekas apanya?”

Ia mikir sebentar, rokoknya ditarik dalam.

“Kelakuannya.”

Tidak ada yang langsung menimpali.

Beberapa kepala mengangguk pelan.

“Yang rumah ujung gang itu,” satu suara masuk, lebih pelan dari yang lain,

“kelakuannya nggak berubah-ubah.”

Tidak ada yang nanya rumah yang mana.

Tidak perlu.

“Dari pagi,” lanjutnya,

“sampe malam.”

“Posisinya ya gitu,” sahut yang lain.

“Duduk. Pegang HP.”

“Kalau kerja,” suara lain nyaut,

“biasanya ada jamnya.”

“Iya.”

“Berangkat kelihatan.”

“Pulang kelihatan.”

“Kalau nggak?”

Ia angkat bahu.

“Orang jadi mikir.”

Seseorang menggeser duduk. Kayu bangku berdecit.

“Sekarang orang sensitif,” katanya.

“Dikit-dikit mikir.”

“Iya,” sahut yang lain,

“tapi juga jangan bikin orang mikir.”

Kalimat itu berhenti di tengah.

Seorang laki-laki yang dari tadi diam akhirnya bicara. Umurnya lebih tua. Suaranya lebih tenang. Kalau dia ngomong, biasanya orang dengar.

“Gue bukannya nuduh,” katanya pelan,

“tapi kerja yang nggak bener itu biasanya nggak pengin kelihatan.”

Beberapa orang nengok.

“Kenapa?” tanya seseorang.

“Ya takut ketauan.”

“Ketauan apanya?”

Ia senyum tipis.

“Tau sendiri.”

Tidak ada yang minta penjelasan.

Lihat selengkapnya