Sore itu bengkel las di ujung gang sudah menurunkan pintu setengah. Api las mati sejak tadi, tapi bau besi panas masih menggantung. Percikan kecil di lantai belum disiram air. Dua motor terparkir miring, satu tanpa standar tengah. Beberapa laki-laki belum langsung pulang. Ada yang duduk di pembatas jalan, ada yang jongkok sambil merokok, ada yang berdiri bersandar ke motor, helm masih di tangan.
“Pinggang gua panas,” kata satu orang sambil menarik kaosnya dari punggung.
“Dari pagi nunduk mulu.”
“Iya,” sahut yang lain.
“Besi berat semua sekarang.”
“Berat diangkat,” kata yang ketiga,
“ringan di kantong.”
Beberapa ketawa pendek. Bukan karena lucu.
“Capek iya,” sambungnya,
“duitnya nggak.”
Ia membuka dompet sebentar, memastikan isinya, lalu menutup lagi seperti takut kelihatan.
“Kerja sekarang rasanya cuma muter,” katanya lagi.
“Datang, pulang, habis.”
“Belum bensin,” sahut yang lain.
“Pagi isi, sore tinggal bau.”
“Belum rokok,” tambah yang jongkok.
“Belum kopi.”
“Belum utang kecil,” suara lain nyelip.
“Yang katanya kecil.”
Yang paling tua di situ tidak langsung nimbrung. Ia duduk agak menjauh, punggungnya nempel ke tembok bengkel. Rokoknya dipegang lama tanpa dihisap, seperti mikir mau ngomong apa. Baru setelah rokoknya tinggal setengah, ia bicara.
“Makanya,” katanya pelan,
“sekarang orang nyari yang nggak pake keluar rumah.”
Beberapa kepala menoleh.
“Maksudnya?”
“Kerja online?”
“Jualan?”
Ia menggeleng pelan.
“Bukan.”
“Terus?”
Ia mengisap rokoknya, lama, lalu menghembuskan asap ke samping.
“Main.”
Sunyi sebentar.
“Main apa?”
“Main kartu?”
“Main apa sih?”
“HP,” katanya singkat.
“Ah,” kata seseorang cepat,
“sekarang siapa sih yang nggak pegang HP.”
“Pegang iya,” jawab si tua,
“ngandelin beda.”
“Beda gimana?”
Ia meludah ke tanah.
“Yang ditungguin.”
“Ditungguin apa?”
“Putaran.”
Kata itu jatuh tanpa tawa. Tanpa penjelasan.
“Sekarang mah gampang,” kata yang duduk di motor.
“Buka, tutup.”
“Buka apa?”
“Ya itu.”
“Ah,” suara lain masuk,
“nggak semua orang kuat.”
“Bukan soal kuat,” jawab si tua.
“Soal pengen.”
Sunyi lagi.
“Pengen semua orang,” kata yang jongkok.
“Ngaku nggak ngaku.”
“Kalau sekali dua kali sih,” sahut yang lain,
“siapa juga yang tau.”
“Yang bikin rame itu,” sambung yang ketiga,
“kalau hasilnya kelihatan.”
Kalimat itu bikin beberapa orang saling pandang, cepat lalu pura-pura sibuk.
“Dulu si Rendi juga gitu,” lanjut si tua,
“awalnya kerja rajin.”