Sore itu tidak hujan, tapi udara terasa lengket. Matahari sudah rendah, cahaya kuningnya nempel di dinding rumah dan batang pohon. Orang-orang malas masuk rumah. Di ujung gang, di bawah pohon mangga, kursi plastik dikeluarkan satu-satu. Tidak ada yang ngajak. Tidak ada yang janjian. Cuma kebiasaan menunggu waktu magrib sambil ngomong apa saja.
“Dulu juga ada yang kayak gini,” kata seseorang tiba-tiba.
Tidak keras. Tidak juga berbisik.
“Yang mana?” sahut yang lain.
“Yang rumahnya dekat sawah dulu.”
“Oh.”
Kalimat itu berhenti sebentar. Lalu disambung lagi, seolah belum selesai dari awal.
“Uangnya jalan terus,” katanya,
“orangnya nggak ke mana-mana.”
Ada yang tertawa pendek. Ada yang langsung mematikan rokoknya.
“Ah,” kata yang lain cepat,
“itu mah kebetulan.”
“Kebetulan apanya?” jawab yang pertama.
“Polanya sama.”
“Pola apa?”
Ia menoleh ke arah rumah ujung gang. Tidak menunjuk. Tidak lama. Tapi cukup jelas.
“Siangnya biasa,” katanya.
“Paginya juga biasa.”
“Tapi hidupnya jalan.”
Beberapa orang ikut menoleh. Refleks. Seperti sudah terbiasa.
“Lah sekarang banyak yang begitu,” seseorang mencoba meremehkan.
“Kerja nggak kelihatan.”
“Iya,” sahut yang lain.
“Tapi ini beda.”
“Bedanya di mana?”
“Tenangnya.”
Kata itu jatuh begitu saja.
Seorang perempuan tua lewat sambil membawa plastik kosong. Tidak berhenti. Tidak ikut duduk.
“Dulu namanya miara,” katanya sambil jalan.
Suaranya datar. Seperti nyebut nama alat dapur.
Obrolan langsung kaku.
“Bu,” seseorang menegur setengah bercanda,
“jangan ngomong gitu.”
“Lah dulu juga ada,” jawabnya.
“Sekarang aja orang pura-pura lupa.”
Ia jalan terus. Tidak menoleh lagi.
Beberapa detik tidak ada suara.
“Miara apaan?” satu suara akhirnya keluar.
Pelan. Hati-hati.
“Ya miara,” jawab yang lain.
“Yang kecil itu.”
“Yang larinya malam,” sambung yang lain.
“Ah,” kata seseorang cepat,
“itu mah cerita orang tua.”
“Justru orang tua yang tau,” balas yang pertama.
“Orang muda mah cuma tau duitnya ada.”
Sunyi sebentar.
“Kalau ngepet,” suara lain nyelip,
“ya mirip-mirip.”
Beberapa orang langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Lu jangan asal,” seseorang menegur.
“Bisa panjang urusannya.”
“Gue nggak nuduh,” jawabnya cepat.
“Cuma ngomong.”
“Ngomong juga ada batasnya.”
“Tapi orang juga nggak ngomong tanpa sebab,” ia balas.
Kalimat itu bikin suasana makin rapat.