Malam datang tanpa suara. Tidak ada hujan. Tidak ada angin. Udara diam, seperti menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar datang. Lampu-lampu rumah menyala lebih cepat dari biasanya. Beberapa rumah bahkan menutup pintu lebih awal, padahal jam belum terlalu malam.
Di gang itu, orang-orang masih lewat. Tapi caranya berbeda. Tidak lagi pelan sambil menoleh. Langkah mereka lebih cepat, lebih lurus. Kalau berpapasan, kepala sedikit menunduk. Senyum muncul sebentar, lalu hilang.
Dari ujung gang, seorang perempuan keluar rumah sambil membawa tas kain kecil. Ia menutup pintu rumahnya rapat, mengunci, lalu berjalan cepat ke arah warung. Langkahnya tergesa, tapi berusaha terlihat biasa.
“Bu,” suara dari balik pintu memanggil pelan.
“Iya?”
“Beli apa?”
“Garam,” jawabnya singkat.
“Malam-malam?”
“Iya.”
Tidak ada penjelasan lain. Ia langsung melangkah lagi.
Di warung kelontong, lampu masih menyala. Pintu setengah tertutup. Bu Warung mengangkat kepala saat perempuan itu masuk.
“Bu, ada garam?”
“Ada.”
“Yang kasar.”
Bu Warung tidak bertanya. Ia mengambilkan dari rak bawah. Plastik diserahkan tanpa komentar. Perempuan itu membayar cepat.
“Buat masak?” Bu Warung bertanya, nadanya datar.
“Iya,” jawabnya terlalu cepat.
Ia langsung keluar.
Di luar, dua orang yang berdiri dekat motor saling pandang.
“Beli garam?”
“Iya.”
“Malem?”
“Sekarang mah orang jaga-jaga.”
Tidak ada tawa.
Tak lama, pintu-pintu rumah lain terbuka sebentar. Ada yang keluar, lalu masuk lagi. Ada yang membawa plastik kecil. Ada yang hanya berdiri di ambang, melihat ujung gang, lalu mengunci pintu lebih rapat.
“Lu jadi beli?” suara pelan terdengar dari balik pagar.
“Iya.”
“Banyakin.”
“Iya.”
Tidak ada yang menyebut untuk apa. Tapi semua tahu.
Di teras rumah ujung gang, lampu menyala. Kursi masih di tempat yang sama. Tidak ada suara. Tidak ada radio. Tidak ada televisi keras seperti rumah lain. Cahaya lampu jatuh ke lantai, membentuk bayangan yang tidak bergerak.
Dua orang laki-laki berjalan dari arah mushola. Sandalnya diseret pelan.
“Lu ngerasa nggak?” kata yang satu.
“Apanya?”
“Orang pada cepet-cepet.”
“Ah,” jawab yang lain cepat.