Siang itu panasnya nempel. Bukan yang bikin silau, tapi yang bikin kepala berat dan orang cepat kesal. Warung kelontong terbuka setengah. Kipas angin kecil di atas rak mi instan berputar pelan, bunyinya seret seperti malas ikut bekerja.
Bu Warung duduk di kursi rendah dekat timbangan. Uang receh disusun rapi di depannya. Kertas dilipat dua kali sebelum dimasukkan ke kaleng. Tidak ada yang tercecer.
Sarni berdiri dekat rak minyak goreng. Tangannya memencet satu botol, memastikan isinya penuh.
“Bu, ini berapa?” tanyanya.
Bu Warung menyebut harga tanpa melihat.
Sarni mengangguk. Dompetnya dikeluarkan pelan dari tas kain. Dompetnya tebal. Ia membukanya dengan sengaja, lembaran uang terlihat jelas.
Saat itu Tika masuk.
Langkahnya biasa saja. Tidak buru-buru. Tidak juga ragu. Ia berhenti di depan rak gula. Mengambil satu bungkus kecil. Membaca harganya. Lalu meletakkannya di meja.
Bu Warung menimbang minyak milik Sarni. Tidak banyak bicara.
Tika membuka tas kecilnya. Tangannya masuk. Menggeser isinya. Lama sedikit. Lalu berhenti.
Tas ditutup.
“Bu,” katanya pelan.
Bu Warung mengangkat kepala.
“Bisa bayar pakai HP?”
Warung tidak langsung ribut. Tapi heningnya terasa.
“HP?” ulang Bu Warung singkat.
“Iya. Uangnya di situ.”
Bu Warung tidak tertawa. Tidak juga heran. Ia hanya menggeleng pelan.
“Di sini tunai.”
“Oh.”
Satu kata. Tidak lebih.
Tika berdiri sebentar. Matanya ke gula di meja. Tangannya tidak menyentuh lagi.
“Nanti aja, Bu,” katanya.
Ia mengambil kembali gula itu. Meletakkannya rapi di rak. Tidak tergesa. Lalu keluar.
Pintu warung masih terbuka ketika Sarni bersuara.
“Lah.”
Satu kata. Tapi cukup.
“Nggak jadi?”
Bu Warung kembali ke timbangan. “Nggak jadi.”
“Kenapa?”
“Katanya mau bayar pakai HP.”
Sarni berhenti menutup dompetnya.
“HP?” ulangnya.
Beberapa ibu lain saling pandang.
“Sekarang orang jarang pegang uang ya,” kata seorang ibu pelan sambil memasukkan minyak ke tas.
“Pegang lah,” sahut Sarni cepat.
“Kalau ada.”
Kalimat itu jatuh ringan. Tapi mengendap.
“Bisa aja lupa bawa,” seseorang mencoba netral.
Sarni langsung menoleh.
“Lupa bawa? Dompet nggak ada? Uang nggak ada? Sama sekali?”
Tidak ada yang menjawab.
“Kalau mau ngutang ya bilang,” Sarni menyambung.
“Nggak usah muter.”
“Muter gimana?” tanya ibu lain.
“Bilangnya bayar pakai HP.”
Beberapa ibu tertawa kecil.
“Atau mau digadai?” Sarni menambahkan.
“Digadai gula?” sahut yang lain.
“Ya siapa tahu,” Sarni mengangkat bahu.
“Orang sekarang kreatif. Nggak punya uang tapi nggak mau ngaku.”
Bu Warung berhenti sebentar. Menatap timbangan. Lalu berkata pelan, datar:
“Kalau mau ngutang, ngomong aja.”
Tidak ada penjelasan. Tidak ada tambahan.
“Tuh,” Sarni menunjuk meja kosong bekas gula tadi.
“Kalau nggak ada uang, bilang nggak ada.”
“Gengsi,” sahut yang lain.
“HP mahal tapi beli gula nggak jadi,” Sarni menambahkan.
Kalimat itu lebih keras dari sebelumnya.