KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #12

Uang Bisa Habis Sendiri #12

Sore turun perlahan. Warung kopi di ujung gang mulai terisi satu per satu. Bangku kayu panjang ditarik sedikit, gelas-gelas diletakkan tanpa suara keras. Tidak ada yang mengumumkan apa pun, tapi semua sudah mendengar kabar siang tadi: uang Marlina hilang dari laci dapurnya.

Tidak banyak. Tapi cukup.

Di kampung seperti itu, uang sedikit yang hilang justru lebih mengganggu daripada uang besar. Kalau besar, orang bisa panik. Kalau kecil, orang mulai berpikir pelan-pelan.

Fahri duduk di ujung bangku. Telepon genggamnya ada di tangan, layar mati. Ia tidak sedang bermain. Hanya menggenggamnya seperti kebiasaan. Di depannya, Pak Harun duduk lebih tegak, kopi hitamnya masih mengepul tipis.

“Sudah dicari lagi?” seseorang membuka percakapan.

“Sudah,” jawab yang lain. “Tetap tidak ada.”

“Di rumah sendiri?”

“Iya.”

“Pintu terkunci?”

“Iya.”

Sunyi sebentar.

Fahri mengangkat bahu. “Kadang bukan hilang. Bisa saja terpakai.”

“Dipakai siapa?” suara lain menekan.

“Ya orang rumah sendiri. Kadang lupa.”

Pak Harun menoleh pelan ke arah Fahri. “Sekali mungkin lupa.”

“Kalau dua kali?” seseorang menyela.

Tidak ada yang menjawab.

Angin sore masuk dari celah papan warung, membawa bau tanah yang baru disiram matahari seharian. Dari arah jalan kecil, seorang lelaki berjalan pelan sambil memanggul cangkul.

Ayah Tika.

Bajunya basah oleh keringat. Celananya penuh debu tanah kering. Ia berjalan tanpa menoleh ke warung, langkahnya tidak cepat tapi pasti. Beberapa kepala otomatis mengikuti geraknya sampai ia melewati tikungan.

“Masih ke kebun setiap hari,” seseorang bergumam.

“Iya,” sahut yang lain.

Ayah Tika menghilang di dalam gang.

Warung kembali pada obrolannya.

“Sekarang uang itu bukan cuma di dompet,” Fahri berkata pelan.

“Mulai lagi soal HP,” seseorang mendengus.

Fahri tidak tersinggung. “Maksud saya, sekarang orang simpan uang di mana saja. Di aplikasi, di rekening. Tidak selalu kelihatan.”

Pak Harun meminum kopinya seteguk. “Kalau di aplikasi, ada catatannya.”

“Kalau orang tahu cara bacanya,” Fahri membalas.

“Anak saya sering begitu,” kata Pak Harun. “Belanja, bilangnya transfer saja. Tidak pegang uang.”

“Enak begitu,” seseorang menimpali.

“Enak karena tidak terasa keluarnya,” Pak Harun menjawab. “Itu yang bahaya.”

Fahri tersenyum tipis. “Saya pernah begitu.”

Beberapa orang langsung menoleh.

“Main lagi?” seseorang bertanya.

Fahri tidak langsung menjawab. Ia menggeser HP di tangannya.

“Pernah deposit,” katanya akhirnya. “Tidak besar.”

“Berapa?” tanya suara lain.

“Awalnya lima puluh ribu.”

“Awalnya,” seseorang menekankan.

Fahri mengangguk pelan. “Karena tidak terasa. Tinggal tekan. Masuk. Keluar. Tidak pegang uang.”

“Kalau kalah?” seorang bapak bertanya.

Lihat selengkapnya