KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #13

Uang di HP #13

Selepas jamaah Isya, orang-orang tidak langsung pulang. Beberapa masih duduk di pelataran mushola. Sandal belum dipakai. Sarung belum dilepas. Lampu neon menyala terang, memantulkan bayangan ke lantai semen yang mulai dingin.

Pos ronda di samping mushola terbuka. Tikar tergelar. Termos air panas dan gelas kaca diletakkan di sudut. Tidak ada rapat resmi. Tidak ada giliran ronda yang ditulis. Tapi tidak ada juga yang benar-benar ingin pulang duluan.

Obrolan sore tadi di warung kopi masih menggantung.

Fahri duduk bersandar pada tiang kayu pos ronda. Telepon genggamnya ada di tangan, layar mati. Ia tidak sedang bermain. Hanya memegangnya seperti benda yang sudah menyatu dengan jari.

Pak Leman duduk tidak jauh darinya. Ia orang yang tidak cepat bicara. Tapi kalau sudah mulai, orang lain biasanya diam.

Beberapa bapak lain berdiri setengah lingkaran. Ada yang jongkok, ada yang duduk di ujung tikar.

“Sekarang anak-anak jarang pegang uang,” Pak Leman membuka percakapan pelan, seolah melanjutkan sesuatu yang tadi belum selesai.

“Memang begitu sekarang,” Fahri menjawab.

“Anak saya kalau belanja tidak pernah minta uang tunai,” Pak Leman melanjutkan. “Katanya transfer saja. Lebih gampang.”

“Karena praktis,” seorang bapak menyahut.

“Praktis, iya,” Pak Leman mengangguk. “Tapi orang lain tidak tahu uang itu benar ada atau cuma bilang ada.”

Sunyi sebentar.

Fahri mengangkat alis. “Kalau di HP ya ada. Tinggal buka aplikasinya.”

“Yang lihat siapa?” Pak Leman bertanya balik.

Fahri terdiam satu detik.

“Kalau uang di tangan, orang bisa lihat. Bisa hitung,” Pak Leman melanjutkan. “Kalau di HP, cuma pemiliknya yang tahu.”

Beberapa orang mengangguk kecil.

“Siang tadi di warung,” seorang bapak berkata pelan, “ada yang mau bayar pakai HP.”

Tidak ada nama disebut.

“Warung kecil tidak biasa begitu,” yang lain menimpali.

“Kalau memang pegang uang,” suara lain menyambung.

Kalimat itu berhenti di situ.

Fahri tersenyum tipis. “Sekarang banyak yang simpan uang di rekening. Tidak semua pegang tunai.”

“Rekening jelas,” Pak Leman menjawab. “Tapi orang lain tidak bisa lihat.”

“Memang tidak perlu dilihat orang,” Fahri membalas.

Pak Leman menatapnya. “Kalau tidak perlu dilihat, orang lain juga tidak bisa membedakan punya atau tidak.”

Hening.

Dari dalam mushola terdengar suara pintu kayu ditutup pelan. Seseorang keluar, memakai sandal, lalu pulang tanpa ikut duduk.

Seorang bapak yang sejak tadi diam berkata, “Kalau uang di laci hilang, kita tahu tempatnya. Kalau uang di HP berkurang, kita cuma percaya.”

“Saldo ada riwayatnya,” Fahri menyahut cepat.

“Semua orang bisa baca riwayat itu?” Pak Leman bertanya.

Fahri menatap HP di tangannya.

“Bisa, kalau tahu,” katanya.

“Kalau tidak tahu?”

Tidak ada jawaban langsung.

Angin malam lewat pelan.

Fahri mencoba mengalihkan. “Kalau soal berkurang, kadang orang lupa.”

“Lupa manusiawi,” seorang bapak berkata.

Lihat selengkapnya