KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #14

Uang dan Jam Malam #14

Selepas jamaah Isya, gang belum benar-benar sepi. Beberapa pintu masih terbuka. Televisi menyala pelan. Bau tumisan masih keluar dari dapur rumah-rumah.

Tapi malam itu orang tidak langsung masuk.

Fahri dan Pak Leman duduk di pos ronda dekat mushola. Tidak ada jadwal ronda. Tidak ada rapat. Tapi keduanya tidak pulang.

Lampu pos ronda menyala kuning. Di ujung gang, lampu teras rumah Tika sudah terang sejak magrib.

Pak Leman melihat ke arah sana tanpa menyembunyikan.

“Jam?” tanyanya.

Fahri melihat arloji dinding mushola.

“Delapan kurang lima.”

Lampu itu tetap menyala.

Dua rumah lain di gang sudah meredupkan terasnya. Jalan mulai gelap, tapi rumah Tika tetap terang.

Ayah Tika keluar membawa ember. Ia menyiram halaman pelan-pelan. Air jatuh membasahi semen.

Pak Leman berdiri.

“Biasa saja,” Fahri berkata.

“Kalau biasa, tidak usah terang begitu,” jawab Pak Leman.

Ia berjalan pelan menyusuri gang. Tidak sembunyi. Tidak mengendap. Ia melewati pagar rumah Tika dan berhenti tepat di depan teras.

Ayah Tika menoleh.

“Iya, Pak?”

“Belum tidur?” tanya Pak Leman.

“Belum.”

“Lampunya terang sekali.”

Ayah Tika menatapnya beberapa detik. Tidak tersenyum.

“Terang ganggu?”

“Tidak,” jawab Pak Leman cepat. “Cuma heran.”

“Heran apa?”

Suasana menegang.

Fahri bangkit dari pos ronda dan berjalan mendekat, tidak sampai ikut berdiri di depan pagar.

“Cuma lihat-lihat saja, Pak,” Fahri menengahi.

Ayah Tika mengangguk pelan. Tapi wajahnya tidak lagi netral.

Ia masuk kembali ke rumah. Lampu tetap menyala.

Pak Leman kembali ke pos ronda.

“Kamu mulai,” Fahri berkata pelan.

“Mulai apa?”

“Itu bukan lagi lihat.”

Pak Leman tidak menjawab.

Jam delapan lewat sepuluh.

Tika keluar ke teras. Tidak membawa apa-apa. Ia berdiri dan melihat ke arah pos ronda.

Tatapan lurus.

Tidak menunduk.

Tidak lama, ia berkata dari teras, suaranya cukup keras terdengar:

“Kalau mau lihat, tidak usah sembunyi-sembunyi.”

Fahri membeku.

Pak Leman berdiri lagi.

“Kami tidak sembunyi.”

“Ya sudah,” Tika menjawab singkat.

Ia masuk lagi.

Sekarang bukan cuma dua orang yang melihat. Dua jendela lain di gang sedikit terbuka.

Orang tidak duduk di pos ronda, tapi mereka memperhatikan.

Jam delapan lewat tiga puluh.

Lampu masih menyala.

Pak Leman duduk, tapi kakinya gelisah.

“Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa defensif?” katanya.

“Karena kamu datang ke pagar,” Fahri membalas.

Pak Leman tidak peduli.

Ia berdiri lagi. Kali ini ia berjalan lebih dekat. Hampir menyentuh pagar.

Dari dalam, pintu terbuka.

Ayah Tika keluar lagi.

“Ada perlu apa?” tanyanya.

Nada suaranya tidak lagi datar.

Pak Leman menjawab tanpa mundur.

“Sekarang banyak yang kehilangan uang.”

Ayah Tika tidak berkedip.

“Terus?”

“Kita cuma lihat jam.”

“Jam siapa?”

“Jam lampu mati.”

Hening.

Fahri bisa merasakan udara berubah.

Ayah Tika melangkah turun satu anak tangga dari teras.

“Kalau mau tanya, tanya langsung.”

“Saya tanya,” jawab Pak Leman.

“Tanya apa?”

“Kerja apa malam-malam begini?”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Fahri langsung berkata, “Pak—”

Tapi terlambat.

Tika muncul di belakang ayahnya.

Lihat selengkapnya