KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #15

Uang yang Pindah Tempat #15

Pagi di gang itu berjalan seperti biasa. Anak-anak berangkat sekolah. Pedagang sayur lewat dengan teriakan pendek. Motor keluar-masuk.

Tapi orang bangun dengan satu hal yang masih tersisa dari semalam:

Lampu itu mati hampir di jam yang sama lagi.

Tidak persis.

Tapi cukup dekat untuk diingat.

Warung kelontong buka seperti biasa. Bu Warung menyapu pelan, lalu duduk di balik meja kayu. Buku utang diletakkan di samping timbangan.

Sarni datang pertama.

“Pagi, Bu.”

“Iya.”

Sarni tidak langsung ambil barang. Ia berdiri di depan rak minyak goreng.

“Semalam masih terang lewat sebelas,” katanya seperti membahas cuaca.

Bu Warung tidak menoleh.

“Rumah mana?”

Sarni mengangkat dagu ke ujung gang.

“Oh.”

Hanya itu.

Beberapa menit kemudian Marlina datang. Ia membawa tas kain kecil.

“Bu, saya bongkar lagi laci tadi malam.”

“Iya.”

“Tidak ada.”

“Kemarin sudah dicari?”

“Sudah.”

“Semalam juga?”

“Sudah.”

Sarni menyela, “Lampunya mati lewat sebelas lagi.”

Marlina berhenti.

“Kenapa lampu?”

“Tidak apa-apa.”

Tapi jelas ada apa-apa.

Tika lewat di depan warung. Tidak masuk. Tidak melihat ke arah dalam. Tangannya kosong.

Sarni memperhatikan.

“Sekarang jarang belanja,” katanya.

“Bisa saja stok,” Bu Warung menjawab singkat.

“Atau memang tidak ada uang,” Sarni menimpali.

Tika mendengar.

Ia berhenti sebentar. Menoleh.

“Kalau mau tanya, tanya saja,” katanya.

Sarni tidak mundur.

“Kami tidak tanya.”

“Tapi ngomong.”

Beberapa detik sunyi.

Tika tidak melanjutkan. Ia berjalan lagi.

Warung kembali hening.

Marlina akhirnya berkata pelan, “Uang lima puluh ribu tetangga saya juga tidak ada.”

Bu Warung mengangkat kepala.

“Hilang?”

“Katanya tadi malam masih ada.”

“Pagi?”

“Tidak ada.”

“Sudah dicari?”

“Sudah.”

Sarni menarik napas pelan.

“Dua rumah,” katanya.

Bu Warung menutup buku utang.

“Kalau mau curiga, jangan di warung.”

Tidak ada yang menjawab.

Menjelang siang, kabar itu sudah sampai ke pos ronda.

Fahri duduk sendirian. Ia memegang ponsel, tapi tidak membuka apa pun.

Pak Leman datang.

“Dua rumah,” katanya tanpa salam.

Fahri mengangguk.

“Lampunya juga dua malam hampir sama.”

“Kamu yakin itu ada hubungannya?”

Pak Leman tidak langsung menjawab.

Ayah Tika lewat dari arah kebun. Bajunya kotor tanah. Cangkul di bahu.

Ia berjalan biasa saja.

Pak Leman melihatnya tanpa sembunyi.

“Kalau bapaknya masih kerja begitu, anaknya kerja apa?” katanya pelan.

Fahri menjawab, “Kerja tidak selalu kelihatan.”

Pak Leman menatapnya.

“Uang juga tidak selalu kelihatan.”

Tidak ada kelanjutan.

Sore menjelang.

Lampu rumah Tika menyala lebih awal dari rumah lain.

Fahri dan Pak Leman sudah duduk di pos ronda sebelum jam delapan.

Lihat selengkapnya