KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #16

Uang yang Ditinggal #16


Tidak ada yang bilang, “Kita coba malam ini.”

Tapi pagi itu, lebih dari satu rumah menaruh uang dengan cara yang tidak biasa.

Marlina duduk di tepi tempat tidur. Dompetnya terbuka. Ia mengambil selembar dua puluh ribu. Uang itu diluruskan di paha, lalu ujung kirinya ia lipat kecil sekali—lipatan tipis yang hanya ia yang tahu.

Ia hafal setiap garis di kertas itu.

Uang tidak dimasukkan kembali ke dompet. Tidak ke laci dapur. Tidak ke tempat biasa.

Ia berjalan ke ruang tamu. Mengangkat sedikit taplak meja. Menyelipkan uang itu tepat di sudut kayu meja, lalu merapikan taplak kembali.

Dari luar tidak terlihat apa pun.

Ia tidak memberi tahu suaminya. Tidak memberi tahu anaknya.

Ia ingin tahu.

Dua rumah dari situ, seseorang melakukan cara lain. Selembar lima puluh ribu diletakkan di atas lemari, di balik toples kosong. Tiga angka terakhir nomor serinya ditulis di belakang buku belanja.

Tidak ada yang menyebut ini percobaan.

Tapi cara uang itu ditaruh pagi itu bukan seperti orang mau belanja.

Siang berjalan biasa.

Tika keluar menjemur pakaian. Ember biru diletakkan di teras. Ia tidak melihat ke kanan kiri. Tidak berhenti. Tidak memperlambat gerakan.

Fahri lewat membawa galon kosong. Ia melirik sekilas ke teras Tika, lalu ke jendela Marlina.

Tidak ada yang berbeda.

Ayah Tika belum terlihat. Mungkin masih di kebun.

Sore menjelang, Marlina berdiri di ruang tamu. Ia pura-pura merapikan meja. Taplak disentuh sedikit, tapi tidak diangkat.

Anaknya masih bermain di lantai.

Ia menunggu.

Begitu anaknya masuk kamar, ia angkat sudut taplak.

Uang itu masih di sana.

Lipatan kecil di ujungnya masih sama.

Ia tidak merasa lega.

Karena siang bukan yang ingin diuji.

Yang diuji malam.

Maghrib lewat. Selepas jamaah, pos ronda tidak seramai biasanya.

Fahri dan Pak Leman duduk berdampingan.

“Sudah ditaruh?” Pak Leman bertanya tanpa menoleh.

Fahri mengangguk kecil.

“Di rumahku juga.”

“Ditandai?”

“Iya.”

“Jangan bilang siapa pun.”

“Tidak.”

Lampu rumah Tika menyala seperti biasa. Tidak lebih terang. Tidak lebih redup. Sama seperti dua malam sebelumnya.

Jam delapan lewat sepuluh.

Ayah Tika pulang. Cangkul di bahu. Ia tidak melihat ke pos ronda. Langkahnya biasa saja.

“Masih normal,” Fahri berkata pelan.

“Justru itu,” Pak Leman menjawab.

Jam sembilan.

Marlina duduk di ruang tengah. Televisi menyala agak keras. Ia bangkit, pura-pura ke dapur. Belok ke meja ruang tamu. Mengangkat taplak sedikit.

Masih ada.

Ia sentuh uangnya. Lipatan masih sama.

Ia turunkan kembali taplak.

Di rumah dua pintu dari situ, lima puluh ribu juga masih di balik toples.

Belum ada yang bergerak.

Jam sembilan lewat tiga puluh.

Tika keluar lagi. Menyiram halaman.

Gerakan sama. Pola sama.

Pak Leman berdiri dari pos ronda.

“Kita lihat lebih dekat.”

Ia berjalan perlahan melewati rumah Tika. Tidak berhenti. Tapi kali ini langkahnya lebih pelan dari biasa.

Tika melihatnya.

“Cari siapa?” tanyanya langsung.

“Lewat saja.”

“Lewat bisa cepat.”

Pak Leman tidak menjawab.

Ia lanjut berjalan sampai ujung gang, lalu berbalik.

Saat ia lewat lagi, Ayah Tika sudah berdiri di teras.

Mereka saling tatap.

“Masih ada yang mau ditanya?” Ayah Tika berkata datar.

“Tidak.”

“Kalau mau lihat, lihat saja. Jangan muter.”

Kalimat itu jelas.

Pak Leman kembali ke pos ronda.

“Dia sadar,” katanya.

Fahri menatap lampu.

Lihat selengkapnya