Setelah tiga malam uang tidak berpindah, arah pembicaraan berubah.
Bukan di warung.
Bukan di pos ronda.
Tapi di antara kalimat-kalimat pendek yang tidak selesai.
Kalau uang tidak bergerak,
mungkin orangnya yang bergerak.
Pagi itu Marlina tidak menyelipkan uang.
Ia mengambil tiga lembar dua puluh ribu. Tidak dilipat. Tidak ditandai. Ia letakkan di atas meja ruang tamu. Rapi. Terlihat jelas dari arah jendela.
Ia sengaja membuka jendela setengah. Tirai tidak ditutup rapat.
Dari luar pagar, uang itu bisa terlihat.
Di rumah dua pintu dari situ, hal serupa dilakukan. Lima puluh ribu diletakkan di dekat televisi. Bukan di bawah apa pun. Bukan di sudut. Di tempat yang mudah dilihat siapa pun yang berdiri di teras.
Tidak ada yang mengumumkan.
Tapi sore itu beberapa rumah memiliki uang yang sengaja dipamerkan.
Siang berjalan normal.
Ayah Tika pulang dari kebun sekitar pukul empat. Cangkul di bahu. Kaosnya basah oleh keringat. Ia berhenti di depan rumah, mengetuk sandal ke lantai untuk menjatuhkan tanah.
Tidak ada yang menyapa.
Ia menoleh sebentar ke arah jalan.
Beberapa orang berdiri di teras rumah masing-masing, lebih lama dari biasanya.
Tika keluar membawa jemuran. Ember biru ditaruh di lantai. Ia berdiri mengangkat satu per satu pakaian basah.
Gerakannya sama seperti hari-hari sebelumnya.
Tapi sekarang bukan gerakan yang dinilai.
Waktunya yang dihitung.
Jam berapa keluar.
Berapa lama di teras.
Berapa kali melihat ke jalan.
Tika tidak melihat ke arah rumah Marlina.
Padahal jendela Marlina terbuka.
Dan uang di meja jelas terlihat.
Menjelang magrib, pos ronda terisi lebih cepat.
Fahri duduk lebih depan, tidak bersandar.
Pak Leman berdiri sebentar, lalu duduk lagi.
“Sudah siap?” Pak Leman bertanya pelan.
Fahri mengangguk.
“Di rumahmu?”
“Di meja.”
“Kelihatan?”
“Kalau orang berdiri di pagar, pasti lihat.”
Pak Leman tidak tersenyum.
Lampu rumah Tika menyala seperti biasa.
Jam delapan lewat dua puluh.
Gang mulai sepi.
Marlina duduk di ruang tamu. Lampu sengaja dibuat terang. Televisi menyala tanpa suara. Uang di meja tetap di tempatnya.
Ia sengaja duduk agak menjauh dari meja, supaya kalau ada yang mengintip dari luar, terlihat seolah rumah itu lengah.
Jam delapan lewat empat puluh.
Pak Leman berdiri.
“Saya ke ujung gang.”
Ia berjalan perlahan menyusuri jalan. Tidak sembunyi. Tidak mengendap.
Saat melewati rumah Tika, ia memperlambat langkah.
Tika berdiri di teras.
Mereka saling lihat.
“Masih sering lewat malam-malam ya, Pak?” Tika berkata duluan.
“Saya memang biasa jalan.”
“Dua malam ini tidak biasa.”
Pak Leman tidak menjawab.
Ia lanjut berjalan.
Saat kembali, Ayah Tika sudah berdiri di bawah lampu teras.
“Kita ini lagi ditunggu atau gimana?” Ayah Tika bertanya.
“Tidak.”
“Kalau tidak, jangan bolak-balik.”
Nada suaranya tidak keras. Tapi jelas.
Pak Leman kembali ke pos ronda.
“Dia sadar,” katanya pendek.
Fahri menatap ke arah jendela Marlina.
Uang masih terlihat.
Jam sembilan.
Tika keluar lagi.
Bukan membawa ember.
Hanya berdiri di teras.
Ia melihat lurus ke arah gang.