KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #18

Uang di Luar Pagar #18

Tidak ada yang bilang, “Kita taruh di luar.”

Tapi pagi itu beberapa rumah melakukannya.

Setelah uang di dalam rumah tidak berpindah, setelah tiga malam lampu dihitung, pembicaraan berubah arah dengan sendirinya.

“Kalau memang ada yang keliling,” Pak Leman berkata malam sebelumnya sebelum bubar, “tidak mungkin masuk rumah orang.”

Kalimat itu tidak dibahas lagi.

Tapi pagi ini, uang tidak lagi disembunyikan.

Marlina meletakkan dua lembar sepuluh ribu di kursi plastik teras. Tidak di tengah. Tidak juga di sudut yang aman. Uang itu terlihat jelas dari luar pagar.

Ia sengaja tidak menindihnya dengan apa pun.

Di rumah yang berhadapan dengan Tika, lima puluh ribu diletakkan di atas pot bunga dekat pagar. Ujungnya sedikit terlipat oleh angin, tapi tetap jelas terlihat.

Tidak ada yang saling memberi tahu.

Tapi siang itu, beberapa pagar dibiarkan terbuka.

Ayah Tika pulang dari kebun lebih cepat. Sekitar pukul tiga.

Tangannya kosong. Kaosnya basah. Ia berjalan pelan, seperti biasa.

Saat melewati pot bunga yang ada uang di atasnya, ia tidak memperlambat langkah. Tidak menoleh.

Ia masuk ke rumahnya. Pintu ditutup setengah.

Dari balik jendela, seseorang melihat.

“Lewat saja,” suara pelan terdengar di dalam rumah Marlina.

“Tidak lihat?”

“Tidak kelihatan.”

Padahal uang itu hanya beberapa langkah dari jalur yang ia lewati.

Menjelang sore, Fahri tidak duduk di pos ronda seperti biasanya.

Ia berdiri sambil membersihkan spion motor. Terlalu lama. Tangannya mengelap kaca yang sebenarnya sudah bersih.

Pak Leman duduk, tapi tidak bersandar.

“Sudah ditaruh?” Fahri bertanya pelan.

“Sudah.”

“Di luar semua?”

“Tiga rumah.”

“Kelihatan?”

“Kalau orang lewat pasti lihat.”

Mereka tidak berbicara keras.

Tapi tidak juga berbisik.

Menjelang magrib, gang agak ramai.

Anak-anak pulang mengaji. Sandal diseret-seret. Beberapa ibu memanggil dari teras.

Tika keluar membawa ember cucian. Ia berdiri di teras. Menggantung pakaian satu per satu.

Jaraknya ke kursi Marlina tidak jauh.

Jaraknya ke pot bunga lebih dekat lagi.

Ia tidak melihat ke sana.

Atau mungkin melihat, tapi tidak menunjukkan.

“Harusnya kelihatan,” Fahri berkata pelan.

“Kalau memang ada,” Pak Leman menjawab.

Kata itu lagi.

Kalau.

Langit gelap.

Lampu rumah Tika menyala.

Rumah lain menyusul satu per satu.

Uang di kursi masih ada.

Uang di pot bunga juga.

Jam delapan.

Beberapa orang sudah duduk di pos ronda.

Tidak ada yang membawa kopi.

Tidak ada yang merokok santai.

Semua menghadap ke arah yang sama.

Ayah Tika keluar. Duduk di teras. Membuka sandal. Menggosok kaki dengan tangan.

Ia batuk kecil.

Ia terlihat seperti orang yang benar-benar lelah.

Tidak seperti orang yang mengintai kesempatan.

“Kalau memang ada orang ambil,” Fahri berkata, “tidak mungkin pas orang duduk di luar.”

“Berarti tunggu kosong,” Pak Leman menjawab.

Mereka saling pandang.

Hampir semua rumah menutup pintu lebih cepat malam itu.

Terlalu cepat.

Karena semua ingin terlihat tidak berjaga.

Padahal semua berjaga.

Jam delapan lewat tiga puluh.

Lihat selengkapnya